Aplikasi Merah Putih

Assalamualaikum.
dalam rangka memeriahkan hari kemerdekaan Indonesia, telah hadir aplikasi merah putih terbaru untuk mendapatkan pulsa gratis. Sudah terbukti dapat pulsa langsung. Sebarkan berita gembira ini. Download aplikasinya lewat link dibawah ini :
https://invite.cashtree.id/fd659d

ASUHAN KEPERAWATAN CA SERVIKS APLIKASI NANDA, NOC, NIC

A.    PENGERTIAN
Kanker adalah istilah umum yang mencaKup setiap pertumbuhan maligna dalam setiap bagian tubuh, pertumbuhan ini tidak bertujuan, bersifat parasit, dan berkembang dengan mengorbankan manusia sebagai hospesnya (Hinchliff, 1999).
Kanker serviks adalah kanker yang terjadi pada serviks uteri, dan merupakan karsinoma ginekologi yang terbanyak diderita oleh wanita.
Kanker serviks adalah keadaan dimana sel-sel neoplastik terdapat pada seluruh lapisan epitel serviks uteri (Price dan Wilson, 1995).

B.     ETIOLOGI

Penyebab pasti belum diketahui. Faktor ekstrinsik yang diduga berhubungan dengan insiden karsinoma uteri adalah smegma, infeksi virus human papilloma virus (HPV), dan spermatozoa. Faktor resiko timbulnya ca cervix selain usia dini saat melakukan hubungan seksual, melahirkan pada usia muda, dan memiliki banyak pasangan seksual, termasuk pemajanan terhadap Human Papilo Virus (PHV), Infeksi HIV, merokok, dan pemajanan terhadap dietil still besteral in utero.

C.    KLASIFIKASI

Klasifikasi menurut FIGO (Federation Internationale de Gynecologic et Obstetrigue), 1988:
Tingkat
Kriteria
Karsinoma Pra invasif
0
Karsinoma in situ atau karsinoma intra epitel.

Karsinoma Invasif

I
Proses terbatas pada serviks (perluasan ke korpus uteri tidak dinilai).
I a
Karsinoma serviks preklinis hanya dapat didiagnostik secara  mikroskopis, lesi tidak lebih dari 3 mm atau secara mikroskopik kedalamannya > 3-5 mm dari epitel basal dan memanjang tidak lebih dari 7 mm.
I b
Lesi invasif > 5, dibagi atas lesi < 4 Cm dan > 4 Cm.
II
Proses keganasan telah keluar dari serviuks dan menjalar ke 2/3 bagian atas vagina dan atau ke parametrium tetapi tidak sampai dinding panggul.
II a
Penyebaran hanya ke vagina, parametrium masih bebas dari infiltrat tumor.
II b
Penyebaran ke parametrium, uni atau bilateral tetapi belum sampai dinding pangguL
III
Penyebaran sampai 1/3 distal vagina atau ke parametrium sampai dinding panggul.
III a
Penyebaran sampai 1/3 distal vagina namun tidak sampai ke dinding panggul.
III b
Penyebaran sampai dinding panggul, tidak ditemukan daerah bebas infiltrasi antara tumor dengan dinding panggul atau proses pada tingkat I atau II tetapi sudah ada gangguan faal ginjal/hidronefrosis.
IV
Proses keganasan telah keluar dari panggul kecil dan melibatkan mukosa rektum dan atau vesika urinaria (dibuktikan secara histologi) atau telah bermetastasis keluar panggul atau ketempat yang jauh.
IV a
Telah bermetastasis ke organ sekitar.
IV b
Telah bermetastasis jauh.              

 

D.    GAMBARAN KLINIS

Tidak ada gejala yang spesifik untuk kanker serviks, perdarahan merupakan satu-satunya gejala yang nyata tetapi sering tidak terjadi pada awal penyakit sehingga kanker sudah lanjut ketika ditemukan.
1.      Keluhan metroragia.
2.      Keputihan .
3.      Perdarahan pasca koitus.
4.      Perdarahan spontan.
5.      Bau busuk yang khas.
6.      Obstruksi total vesika urinaria.
7.      Cepat lelah.
8.      Kehilangan berat badan.
9.      Anemia.
10.  Serviks teraba membesar, ireguler, teraba lunak.
11.  Lesi pada porsio dan vagina.

E.     PEMERIKSAAN PENUNJANG

1.      Sitologi, dengan cara Pap smear untuk pemeriksaan penyaring guna mendeteksi perubahan neoplastik.
2.      Kolposkopi untuk mengarahkan tindakan biopsi pada daerah abnormal untuk mengambil contoh jaringan.
3.      Servikografi.
4.      Pemeriksaan visual langsung.
5.      Gineskopi.
6.      Pap net (pemeriksaan terkomputerisasi dengan hasil lebih sensitif).

F.     PENATALAKSANAAN

Tingkat
Penatalaksanaan
0
Biopsi kerucut, Histerektomi transvaginal.
I a
Biopsi kerucut, Histerektomi transvaginal.
I b,II a
Histerektomi radikal dengan limfadenektomi panggul dan evaluasi kelenjar limfe paraaorta (bila terdapat metastasis dilakukan radioterapi pasca pembedahan).
II b, III, IV
Histerektomi transvaginal.
IV a, IV b 
Radioterapi, radiasi paliatif, kemoterapi.

G.    PROGNOSIS

Setelah pengobatan maka akan baik jika lesi ditemukan dan diobati lebih dini. Tingkat kesembuhan dapat mencapai 85 % untuk stadium I, 50-60 % untuk stadium II, 30 % untuk stadium III, dan 5-10 % untuk stadium IV.

H.    DIAGNOSA KEPERAWATAN YANG MUNGKIN MUNCUL

1.      Cemas b.d. Situasi krisis.
2.      Berduka b.d. dengan Potensial kehilangan fungsi tubuh, Efek kanker yang dirasakan pada gaya hidup.
3.      Intoleran aktifitas b.d. kelelahan, malnutrisi, penurunan mobilitas.
4.      Ketidakseimbangan nutrisi: Kurang dari kebutuhan tubuh b.d. Status hipermatebolik berkenaan dengan kanker.
5.      Perubahan proses keluarga b.d. Ketakutan diagnosis kanker yang baru saja diterima, Ketidakpastian masa depan.
6.      Risiko infeksi b.d. Ketidakadekuatan pertahanan sekunder.
7.      Risiko kerusakan integritas kulit b.d. Efek radiasi dan kemoterapi.
8.      Risiko perubahan pola seksualitas b.d. Ketakutan/ansietas, Keletihan.

RENCANA KEPERAWATAN

NO

DIAGNOSA
KEPERAWATAN
PERENCANAAN
TUJUAN
INTERVENSI
1.
Cemas b.d. Situasi krisis.
Klien menunjukkan kontrol kecemasan dengan kriteria:
1.   Dapat mengidentifikasi, verbalisasi, dan mendemonstrasikan teknik menurunkan kecemasan.
2.   Menunjukkan postur, ekspresi  wajah, perilaku, tingkat aktivitas yang menggambarkan kecemasan menurun.
3.   mampu mengidentifikasi dan verbalisasi penyebab cemas.

1.   Reduksi kecemasan
a.       Kaji tingkat kecemasan dan respon fisiknya.
b.       Gunakan kehadiran, sentuhan (dengan ijin), verbalisasi untuk mengingatkan klien tidak sendiri.
c.       Terima pasien dan keluarganya apa adanya.
d.      Gali reaksi personal dan ekspresi cemas.
e.       Bantu mengidentifikasi penyebab.
f.        Gunakan empati untuk mendukung orang tua.
g.       Anjurkan untuk berfikir positif.
h.       Intervensi terhadap sumber cemas.
i.         Jelaskan aktivitas, prosedur.
j.         Gali koping klien.
k.       Ajarkan tanda-tanda kecemasan.
l.         Bantu orang tua mendefinisikan tingkat kecemasan.
m.     Ajarkan teknik distraksi dan relaksasi.
n.       Ajarkan teknik manajemen cemas.

2.
Intoleransi aktifitas b.d. kelelahan, malnutrisi, penurunan mobilitas.
Klien toleran terhadap aktivitas dengan kriteria:
1.   Kebutuhan ADL terpenuhi.
2.   Memperlihatkan toleransi terhadap aktivitas (nadi, pernafasan stabil pada saat latihan aktivitas).
1.   Perawatan jantung: Rehabilitasi
a.       Tingkatkan aktivitas klien setiap shift sesuai indikasi.
b.       Bantu klien menyusun frekuensi ambulasi.
c.       Berikan periode istirahat yang adekuat.
d.      Tingkatkan aktivitas perawatan diri klien dari perawatan parsial sampai komplit sesuai indikasi.

2.   Monitoring tanda-tanda vital
a.       Ukur tanda-tanda vital sebelum dan sesudah aktivitas.

3.   Dukungan emosional
a.       Identifikasi dan hargai kemajuan yang dicapai klien.

4.   Manajemen energi
a.       Rencanakan periode istirahat yang adekuat sesuai dengan jadwal harian klien.
b.       Bantu klien untuk menyimpan kekuatan seperti istirahat sebelum dan sesudah aktivitas.
c.       Bantu ADL s jika perlu.

5.   Pendidikan kesehatan
a.       Ajarkan cara memantau respon fisiologis terhadap aktivitas.
b.       Ajarkan cara menghemat energi selama/saat kerja/aktivitas:
-          Perlunya waktu istirahat sebelum dan sesudah aktivitas/kerja.
-          Hentikan jika merasa letih dan hipoksia.
c.       Instruksikan untuk konsultasi jika akan meningkatkan aktivitas.

3.
Ketidakseimbangan nutrisi: Kurang dari kebutuhan tubuh b.d. Status hipermatebolik berkenaan dengan kanker.
Status nutrisi klien seimbang dengan kriteria:
1.   BB stabil.
2.   Turgor kulit membaik.
3.   Intake makanan meningkat.
a.   Timbang BB sesuai indikasi.
b.   Monitor intake klien.
c.   Berikan makanan dalam porsi kecil tapi sering dan sajikan dalam keadaan hangat.
d.  Anjurkan klien menjaga kebuersihan mulutnya.
e.   Atur lingkungan yang tenang dan bersih selama makan.
f.    Pasang sonde jika perlu, dengan menggunakan teknik bersih.
g.   Observasi keadaan sonde.
h.   Lakukan aspirasi pada sonde sblm pemberian makan.
i.     Posisikan kepala klien lebih tinggi dari kaki.
j.     Pantau masukan dan haluaran.
k.   Berikan nutrisi parenteral sesuai indikasi

4.
Risiko infeksi b.d. Ketidakadekuatan pertahanan sekunder, Tindakan invasif.
Menunjukkan kontrol infeksi selama dalam perawatan dengan kriteria:
1.   Bebas dari tanda infeksi.
2.   Mendemonstrasikan tindakan hygienes seperti mencuci tangan, oral care, perineal care.
1.   Kontrol infeksi
a.       Bersihkan lingkungan secara rutin.
b.       Batasi jumlah pengunjung.
c.       Ajarkan cara mencuci tangan klien.
d.      Anjurkan klien untuk mencuci tangan sebelum dan sesudah melkukan aktivitas.
e.       Gunakan sabun anti mikroba untuk cuci tangan.
f.        Gunakan sarung tangan dalam setiap tindakan.
g.       Pakai gaun khusus.
h.       Cukur dan bersihkan kulit sebagai persiapan tindakan invasif.
i.         Pertahankan lingkungan aseptik ketika mengganti NGT.
j.         Ganti iv line sesuai protap.
k.       Gunakan perawatan aseptik pada iv line.
l.         Berikan intake mutrisi yang adekuat.
m.     Berikan cairan dan istirahat yang cukup.
n.       Atur pemberian antibiotik.
o.       Ajarkan kepada keluarga tanda-tanda infeksi.

2.   Proteksi infeksi
a.       Monitor tanda infeksi lokal dan sistemik.
b.       Monitor granulosit, WBC, diferensiasi.
c.       Inspeksi kulit dan mukosa dari kemerahan, panas, atau drainase.
d.      Batasi pengunjung.
e.       Pertahankan teknik isolasi.
f.        Lakukan perawatan kulit yang baik.
g.       Lakukan kultur.
h.       Sediakan peningkatan aktivitas dan mobilisasi.
i.         Ajarkan kepada keluarga cara mencegah infeksi.
j.         Jauhkan bunga segar dan hewan dari area pasien.
k.       Laporan adanya dugaan infeksi pada pasien.


DAFTAR PUSTAKA

Carpenito, L.J. 2001. Buku Saku Diagnosa Keperawatan. Edisi 8. EGC. Jakarta
Carpenito, L. J. 1998. Diagnosa Keperawatan Aplikasi pada Praktek Klinis. Edisi 6. EGC. Jakarta
Farrer, H. 2001. Perawatan Maternitas. Edisi 2. EGC. Jakarta
Guyton. Hall. 1997. Buku Ajar Fisiologi Kedokteran. Edisi 9. EGC. Jakarta
Hinchliff, S. 1999. Kamus Keperawatan. Edisi 17. EGC. Jakarta
http://www. Us elsevierhealth. com. Nursing diagnoses. Outcomes and interventions
Manuaba. 1998. Ilmu Kebidanan, PenyakitKandungan dan Keluarga Berencana.  EGC. Jakarta
Mansyoer, A., Dkk. 1999. Kapita SeleKta Kedokteran.  Media Aeskulapius FKUI. Jakarta
NANDA. 2001. Nursing Diagnoses: Definitions & Classification. Philadelphia
Sarwono, P. 1994. Ilmu Kebidanan. Balai Penerbit UI. Jakarta
Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo. 2002. Buku Panduan Praktis Pelayanan Kesehatan Maternal dan Neonatal. Tridasa. Jakarta

Tidak ada komentar: