Aplikasi Merah Putih

Assalamualaikum.
dalam rangka memeriahkan hari kemerdekaan Indonesia, telah hadir aplikasi merah putih terbaru untuk mendapatkan pulsa gratis. Sudah terbukti dapat pulsa langsung. Sebarkan berita gembira ini. Download aplikasinya lewat link dibawah ini :
https://invite.cashtree.id/fd659d

ASUHAN KEPERAWATAN PADA ANAK DENGAN GAGAL GINJAL


BAB I
PENDAHULUAN

A.    LATAR BELAKANG
Gagal Ginjal Kronik (GGK) adalah kemunduran fungsi ginjal yang menyebabkan ketidakmampuan mempertahankan substansi tubuh dibawah kondisi normal (Betz Sowden, 2002  )
Gagal Ginjal Kronik adalah kerusakan yang progresif pada nefron yang mengarah pada timbulnya uremia yang secara perlahan-lahan meningkat ( Rosa M. Sacharin, 1996).
Dari kedua pengertian tersebut diatas dapat disimpulkan bahwa gagal ginjal kronis adalah adanya kerusakan fungsi ginjal secara progresif sehingga tubuh akan mengalami gangguan karena ginjal tidak mampu mempertahnkan substansi tubuh dalam keadaan nomal.Penyakit gagal ginjal kronis bersifat progresif dan irreversible dimana terjadi uremia karena kegagalan tubuh untuk mempertahankan metabolisme dan keseimbangan cairan serta elektrolit ( SmeltzerC, Suzanne, 2002 hal 1448) Gagal ginjal kronis ini merupakan penyakit ginjal tahap akhir

B.     TUJUAN PENULISAN
1.      Tujuan Umum
            Untuk mendapat gambaran umum tentang asuhan keperawatan pada anak dengan             gagal ginjal.
2.      Tujuan Khusus.
Dengan pembuatan makalah mahasiswa mampu :
v  Mengerti dan memahami konsep dasar gagal ginjal.
v  Melakukan pengkajian pada pasien dengan gagal ginjal.
v  Menentukan diagnosa keperawatan dan merumuskan diagnosa prioritas gagal ginjal.
v  Menyusun rencana keperawatan pada pasien dengan gagal ginjal


BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

A.        KONSEP DASAR

1.      Defenisi
Gagal Ginjal Kronik (GGK) adalah kemunduran fungsi ginjal yang menyebabkan ketidakmampuan mempertahankan substansi tubuh dibawah kondisi normal (Betz Sowden, 2002  )
Gagal Ginjal Kronik adalah kerusakan yang progresif pada nefron yang mengarah pada timbulnya uremia yang secara perlahan-lahan meningkat ( Rosa M. Sacharin, 1996).
Dari kedua pengertian tersebut diatas dapat disimpulkan bahwa gagal ginjal kronis adalah adanya kerusakan fungsi ginjal secara progresif sehingga tubuh akan mengalami gangguan karena ginjal tidak mampu mempertahnkan substansi tubuh dalam keadaan nomal.

2.      Etiologi
ü  Glomerulonefritis kronis                                                                                                  
ü  Pielonefritis
ü  Diabetes mellitus
ü  Hipertensi yang tidak terkontrol
ü  Obstruksi saluran kemih
ü  Penyakit ginjal polikistik
ü  Gangguan vaskuler
ü  Lesi herediter
ü  Agen toksik (timah, kadmium, dan merkuri)

3.      Patofisiologi
Ginjal mempunyai kemampuan nyata untuk mengkompensasi kehilangan nefron yang persisten yang terjadi pada gagal ginjal kronik. Jika angka filtrasi glomerolus menurun menjadi 5-20 ml/menit/1,73 m2, kapasitas ini mulai gagal. Hal ini menimbulkan berbagai masalah biokimia berhubungan dengan bahan utama yang ditangani ginjal.
Ketidakseimbangan natrium dan cairan terjadi karena ketidakmampuan ginjal untuk memekatkan urin. Hiperkalemia terjadi akibat penurunan sekresi kalium. Asidosis metabolik terjadi karena kerusakan reabsorbsi bikarbonat dan produksi ammonia. Demineralisasi tulang dan gangguan pertumbuhan terjadi akibat sekresi hormon paratiroid, peningkatan fosfat plasma (penurunan kalsium serum, asidosis) menyebabkan pelepasan kalsium dan fosfor ke dalam aliran darah dan gangguan penyerapan kalsium usus. Anemia terjadi karena gangguan produksi sel darah merah, penurunan rentang hidup sel darah merah, peningkatan kecenderungan perdarahan (akibat kerusakan fungsi trombosit). Perubahan pertumbuhan berhubungan dengan perubahan nutrisi dan berbagai proses biokimia

4.      Manifestasi klinis
Kardiovaskuler
ü  Hipertensi
ü   Pembesaran vena leher
ü  Pitting edema
ü  Edema periorbital
ü  Friction rub pericardial

Pulmoner
o   Nafas dangka
o   Krekels
o   Kusmaul      
o   Sputum kental dan liat

Gastrointestinal
o   Anoreksia, mual dan muntah
o    Nafas berbau amonia
o   Perdarahan saluran GI
o    Ulserasi dan perdarahan pada mulut
Muskuloskel
o   Kehilangan kekuatan otot
o   Kram otot
Integumen
o   Kulit kering, bersi
o   Warna kulit abu-abu mengkilat
o    Kuku tipis dan rapuh
o   Rambut tipis dan kasar
o    Pruritu
o    Ekimosis
Reproduksi
o   Atrofi testis
o   Amenore

5.      Pemeriksaan diagnostik
a)      Urin
o   Warna: secara abnormal warna urin keruh kemungkinan disebabkan oleh pus, bakteri, lemak, fosfat atau uratsedimen. Warna urine kotor, kecoklatan menunjukkan adanya darah, Hb, mioglobin, porfirin
o   Volume urine: biasanya kurang dari 400 ml/24 jam bahkan tidak ada urine (anuria)
o   Berat jenis: kurang dari 1,010 menunjukkn kerusakan ginjal berat
o   Osmolalitas: kurang dari 350 mOsm/kg menunjukkan kerusakan ginjal tubular dan rasio urin/serum sering 1:1
o   Protein: Derajat tinggi proteinuria (3-4+) secara kuat menunjukkkan kerusakan glomerulus bila SDM dan fragmen juga ada
o   Klirens kreatinin: mungkin agak menurun
o   Natrium: lebih besar dari 40 mEq/L karena ginjal tidak mampu mereabsorbsi natrium
b)      Darah
ü  Ht : menurun karena adanya anemia. Hb biasanya kurang dari 7-8 gr/dl
ü  BUN/ kreatinin: meningkat, kadar kreatinin 10 mg/dl diduga tahap akhir
ü  SDM:  menurun, defisiensi eritropoitin
ü  GDA: asidosis metabolik, pH  kurang dari 7,
ü  Protein (albumin) : menurun
ü  Natrium serum : rendah
ü  Kalium: meningkat
ü  Magnesium: meningkat
ü  Kalsium ; menurun
c)      Osmolalitas serum:
ü  Lebih dari 285 mOsm/kg
d)     Pelogram Retrograd:
ü  Abnormalitas pelvis ginjal dan ureter
e)      Ultrasonografi Ginjal :
ü  Untuk menentukan ukuran ginjal dan adanya masa , kista, obstruksi pada saluran perkemihan bagian atas
f)       Endoskopi Ginjal, Nefroskopi:
ü  Untuk menentukan pelvis ginjal, keluar batu, hematuria dan pengangkatan tumor selektif
g)      Arteriogram Ginjal:
ü  Mengkaji sirkulasi ginjal dan mengidentifikasi ekstravaskular, masa
h)      EKG:
ü  Ketidakseimbangan elektrolit dan asam basa

6.      Penatalaksanaan
Ó Stabilkan keseimbangan cairan dan elektrolit
Ó Dukung fungsi kardiovaskuler
Ó Cegah infeksi
Ó Tingkatkan status nutrisi
Ó  Kendalikan perdarahan dan anemia
Ó Lakukan dialisis
Ó Transplantasi ginjal

7.      Komplikasi
ü  Hipertensi
ü  Hiperkalemia
ü  Perikarditis, efusi pericardial dan tamponade jantung
ü  Anemia
ü  Penyakit tulang

B.        ASUHAN KEPERAWATAN GAGAL GINJAL
1.     Pengkajian
Data dasar pengkajian pasien:

a)      Aktifitas /istirahat
Gejala:
-          Kelemahan malaise
-          Kelelahan ekstrem,
-          Gangguan tidur (insomnis/gelisah atau somnolen)
Tanda:
-          Kelemahan otot, kehilangan tonus, penurunan rentang gerak
b)      Sirkulasi
Gejala:
-         Riwayat hipertensi lama atau berat
-         Palpitasi, nyeri dada (angina)
Tanda:
-          Hipertensi, nadi kuat, edema jaringan umum dan piting pada kaki, telapak tangan
-          Nadi lemah, halus, hipotensi ortostatik
-          Disritmia jantung
-          Pucat pada kulit
-          Friction rub perikardial
-          Kecenderungan perdarahan
c)      Integritas ego
Gejala:
-          Faktor stress, misalnya masalah finansial, hubungan dengan orang lain
-          Perasaan tak berdaya, tak ada harapan
Tanda:
-     Menolak, ansietas, takut, marah, perubahan kepribadian,  mudah terangsang
d)     Eliminasi
Gejala:
-          Penurunan frekuensi urin, oliguria, anuria ( gagal tahap lanjut)
-          Diare, Konstipasi, abdomen kembung,
Tanda:
-          Perubahan warna urin, contoh kuning pekat, coklat, kemerahan,   berawan
-        Oliguria, dapat menjadi anuria
e)      Makanan/cairan
Gejala:
-    Peningkatan BB cepat (edema), penurunan BB (malnutrisi)
-    Anoreksia, mual/muntah, nyeri ulu hati, rasa metalik tak sedap pada mulut ( pernafasan amonia)
Tanda:
-    Distensi abdomen/ansietas, pembesaran hati (tahap akhir)
-    Edema (umum, tergantung)
-    Perubahan turgor kulit/kelembaban
-    Ulserasi gusi, perdarahan gusi/lidah
-    Penurunan otot, penurunan lemak subkutan, penampilan tak bertenaga
f)       Neurosensori
Gejala:
-    Kram otot/kejang, sindrom kaki gelisah, kebas rasa terbakar pada Sakit kepala, penglihatan kabur
-    telapak kaki
-    Kebas/kesemutan dan kelemahan khususnya ekstrimitas bawah (neuropati perifer)
Tanda:
-    Gangguan status mental, contohnya ketidakmampuan berkonsentrasi, kehilangan memori, kacau, penurunan tingkat kesadaran, penurunan lapang perhatian, stupor, koma
-    Kejang, fasikulasi otot, aktivitas kejang
-    Rambut tipis, kuku tipis dan rapuh
g)      Nyeri/kenyamanan
Gejala:, sakit kepala, kram otot/nyeri kaki, nyei panggul
Tanda: perilaku berhati-hati/distraksi, gelisah



h)      Pernapasan
Gejala:
-    Dispnea, nafas pendek,  nokturnal paroksismal, batuk dengan/tanpa sputum
Tanda:
-    Dispnea, takipnea pernapasan kusmaul
-    Batuk produktif dengan sputum merah muda encer (edema paru)
i)        Keamanan
Gejala: kulit gatal, ada/berulangnya infeksi
Tanda:
-    Pruritus
-    Demam (sepsis, dehidrasi)
j)        Seksualitas
Gejala: amenorea, infertilitas, penurunan libido
k)      Interaksi sosial
Gejala:
-          Kesulitan menurunkan kondisi, contoh tak mampu bekerja, mempertahankan fungsi peran dalam keluarga
l)        Penyuluhan
-                 Riwayat diabetes mellitus pada keluarga (resti GGK), penyakit polikistik, nefritis herediter, kalkulus urinaria
-                 Riwayat terpajan pada toksin, contoh obat, racun lingkungan
-                 Penggunaan antibiotik nefrotoksik saat ini/berulang



2.      DIAGNOSA KEPERAWATAN

1)      Kelebihan volume cairan b.d penurunan kemampuan ginjal untuk mengeluarkan air dan menahan natrium
2)       Perubahan nutrisi ; kurang dari kebutuhan tubuh b.d anoreksia, mual dan muntah
3)      Intoleransi aktifitas b.d anemia, oksigenasi jaringan tidak adekuat
4)       Perubahan integritas kulit b.d uremia, edema
5)      Resiko terhadap infeksi b.d depresi sistem imun, anemia

3.      RENCANA KEPERAWATAN

1.             Kelebihan volume cairan b.d penurunan kemampuan ginjal untuk mengeluarkan air dan menahan natrium
Hasil yang diharapkan:
-          Masukan dan haluaran seimbang
-          Elektrolit dalam batas normal
-          Bunyi nafas dan jantung normal
-          Berat badan stabil
Intervensi:
·         Pantau balance cairan/24 jam
·         Batasi masukan cairan
·         Pantau peningkatan tekanan darah
·         Monitor elektrolit darah
·         Kaji edema perifer dan distensi vena leher
·         Timbang BB harian


2.       Perubahan nutrisi ; kurang dari kebutuhan tubuh b.d anoreksia, mual dan muntah
Hasil yang diharapkan:
-          Klien dapat mempertahankan status nutrisi yang adekuat yang dibuktikan dengan BB dalam batas normal, albumin dalam batas normal
Intervensi:
·         Kaji pola diet nutrisi
·         Kaji status nutrisi
·         Kaji faktor yang berperan dalam merubah masukan nutrisi
·         Menyediakan makanan kesukaan klien dalam batas-batas diet
·         Anjurkan cemilan tinggi kalori, rendah protein, rendah natrium diantara waktu makan
·         Ciptakan lingkungan yang menyenangkan selama makan
·         Kaji bukti adanya masukan protein yang tidak adekuat
·         Timbang berat badan harian
3.             Intoleransi aktifitas b.d anemia, oksigenasi jaringan tidak adekuat
Hasil yang diharapkan;
-    Klien mendemonstrasikan peningkatan aktivitas yang dibuktikan dengan pengungkapan tentang berkurangnya kelemahan dan dapat beristirahat secara cukup dan mampu melakukan kembali aktivitas sehari-hari yang memungkinkan
Intervensi:
·         Kaji faktor yang menimbulkan keletihan
·         Tingkatkan kemandirian dalam aktifitas perawatan diri yang dapat ditoleransi, bantu jika keletihan terjadi
·         Anjurkan aktifitas alternatif sambil istirahat
·         Anjurkan untuk beristirahat setelah dialisis
·         Beri semangat untuk mencapai kemajuan aktivitas bertahap yang dapat ditoleransi
·         Kaji respon klien untuk peningkatan aktivitas
4.       Perubahan integritas kulit b.d uremia, edema
Hasil yang diharapkan:
-    Kulit hangat, kering dan utuh, turgor baik
-    Klien mengatakan tak ada pruritus
Intervensi:
·         Kaji kulit dari kemerahan, kerusakan, memar, turgor dan suhu
·         Jaga kulit tetap kering dan bersih
·         Beri perawatan kulit dengan lotion untuk menghindari kekeringan
·         Bantu klien untuk mengubah posisi tiap 2 jam jika klien tirah baring
·         Beri pelindung pada tumit dan siku
·         Tangani area edema dengan hati-hati
·         Pertahankan linen bebas dari lipatan
5.       Resiko terhadap infeksi b.d depresi sistem imun, anemia
Hasil yang diharapkan:
-          Klien tetap terbebas dari infeksi lokal maupun sistemik dibuktikan dengan tidak ada panas/demam atau leukositosis, kultur urin, tidak ada inflamasi
Intervensi:
·         Pantau dan laporkan tanda-tanda infeksi seperti demam, leukositosis, urin keruh, kemerahan, bengkak
·         Pantau TTV
·         Gunakan tehnik cuci tangan yang baik dan ajarkan pada klien
·         Pertahankan integritas kulit dan mukosa dengan memberiakan perawatan kulit yang baik dan higiene oral
·         Jangan anjurkan kontak dengan orang yang terinfeksi
·         Pertahankan nutrisi yang adekuat


BAB III
PENUTUP

A.   Kesimpulan
Gagal Ginjal Kronik (GGK) adalah kemunduran fungsi ginjal yang menyebabkan ketidakmampuan mempertahankan substansi tubuh dibawah kondisi normal (Betz Sowden, 2002  )
Gagal Ginjal Kronik adalah kerusakan yang progresif pada nefron yang mengarah pada timbulnya uremia yang secara perlahan-lahan meningkat ( Rosa M. Sacharin, 1996).
Dari kedua pengertian tersebut diatas dapat disimpulkan bahwa gagal ginjal kronis adalah adanya kerusakan fungsi ginjal secara progresif sehingga tubuh akan mengalami gangguan karena ginjal tidak mampu mempertahnkan substansi tubuh dalam keadaan nomal.Penyakit gagal ginjal kronis bersifat progresif dan irreversible dimana terjadi uremia karena kegagalan tubuh untuk mempertahankan metabolisme dan keseimbangan cairan serta elektrolit ( SmeltzerC, Suzanne, 2002 hal 1448) Gagal ginjal kronis ini merupakan penyakit ginjal tahap akhir
B.  Saran
·         Berikan penjelasan yang jelas kepada pasien dan tentang penyakitnya.
·         Penatalaksanaan yang efektif dan efisien pada pasien untuk mendapatkan hasil yang maksimal dan mencegah terjadinya komplikasi.
·         Diharapkan kepada pembaca agar dapat memberikan kritik dan sarannya yang membangun demi kesempurnaan makalah ini.




DAFTAR PUSTAKA ( REFERENSI )
v  Doenges, Marilynn, E. dkk. Rencana Asuhan Keperawatan, Edisi 3, 2000. EGC, Jakarta.
v  Bare Brenda G, Smeltzer Suzan C. Keperawatan Medikal Bedah, Edisi 8, Vol. 1, EGC, Jakarta.
v  Price Anderson Sylvia, Milson McCarty Covraine, Patofisiologi, buku-2, Edisi 4, EGC, Jakarta.
v  Betz Cecily L, Sowden Linda A. (2002). Buku Saku Keperawatan Pediatri. Jakarta : EGC.

Tidak ada komentar: