Aplikasi Merah Putih

Assalamualaikum.
dalam rangka memeriahkan hari kemerdekaan Indonesia, telah hadir aplikasi merah putih terbaru untuk mendapatkan pulsa gratis. Sudah terbukti dapat pulsa langsung. Sebarkan berita gembira ini. Download aplikasinya lewat link dibawah ini :
https://invite.cashtree.id/fd659d

ASUHAN KEPERAWATAN EPILEPSI


                                                                            BAB I
PENDAHULUAN

A.  Latar Belakang
Epilepsi merupakan suatu gejala yang kompleks dari beberapa gangguan fungsi otak. Gangguan ini dapat disebabkan oleh faktor fisiologis, biokimiawi, anatomis atau lainnya dengan di cirikan timbulnya gejala-gejala yang dating dalam serangan yang berulang.
Dan pada makalah ini penyusun ingin mencoba memaparkan tentang beberapa faktor penyebab dari epilepsi yang salah satu penyebabnya yaitu idiopatik yang biasanya terjadi pada anak-anak yang berusia lebih dari 3 tahun.
Epilepsi digolongkan menjadi 2 yaitu epilepsi primer dan epilepsi sekunder dibagi menjadi 4 serangan yaitu serangan partral, serangan umum, serangan unilateral dan serangan epilepsi tidak lengkap.

B.   Tujuan
1.    Tujuan Umum

 Untuk mengetahui asuhan keperawatan pada anak dengan kasus epilepsi.
      2.Tujuan Khusus
a.       Mengetahui pengkajian pada anak dengan kasus epilepsi.
b.      Menegakkan diagnosa keperawatan dengan kasus epilepsi.’
c.       Membuat intervensi keperawatan.
d.      Membuat implementasi keperawatan.
e.       Membuat evaluasi keperawatan.





BAB II
TINJAUAN TEORITIS
ASKEP ANAK EPILPSI

A.    Konsep Dasar Penyakit.
a. Pengertian
Epilepsi adalah gangguan kronik otak dengan gejala-gejala yang kompleks dari beberapa gangguan fungsi otak yang cirinya adalah serangan berulang-ulang. Bangkitkan kejang merupakan satu manifestasi daripada muatan listrik yang berlebihan disel neuron saraf pusat. (Helwiyah, S.Kp, Gangguan Konduksi, 77).
Epilepsi adalah gejala-gejala yang kompleks dari beberapa gangguan fungsi otak yang cirinya adalah serangan berulang. Bangkitan kejang merupakan satu manifestasi daripada muatan listrik yang berlebihan di sel neuron saraf pusat. Gangguan ini dapat disebabkan faktor fisiologis, biokimiawi, anatomis atau gabungan ketiganya.

      b. Etiologi
a.Idiopatik sebagian besar epilepsi pada anak adalah epilepsi idiopatik.
b.Faktor herediter : ada beberapa penyakit yang bersifat herediter yang disertai bangkitan.
c.Faktor genetic : pada kejang demam dan breath holding spells.
d.Kelainan congenital otak : atrofi, porensefali, agenesis korpus koilosum.
e.Gangguan metabolic : hipoglikemia, hipokalsemia, hiponatremia, hipernatremia.
f.Trauma : kontusio serebri, hematoma subaraknoid, hematoma subdural.
g.Neoplasma otak dan selaputnya.
h.Kelainan pembuluh darah, penyakit kolagen, malformasi.
i.Keracunan : timbal (Pb), kamper (kapur barus), fenotizin.
j.penyakit darah,gangguan keseimbangan hormone dan lain-lain.

Epilepsi dibagi atas 2 golongan, yaitu :
a.Primer atau idiopatik, biasanya penyebabnya tidak diketahui.
b.Sekunder atau simptomatik, biasanya sebagai akibat/gejala penyakit lain. Misalnya infeksi pada otak, trauma kelahiran, cacat congenital, tumor otak, perdarahan otak, gangguan peredaran darah, hipoksia, kelainan degeneratif, susunan saraf pusat, gangguan metabolisme, gangguan elektrolit, keracunan obat/ alcohol dan lain-lain.

Epilepsi idiopatik biasanya mulai terjadi pada usia lebih dari 3 tahun, sedangkan yang simptomatik dapat dimulai.
Pada tingkat membran sel, neuron epileptic ditandai oleh fenomena biokimia tertentu. Beberapa diantaranya :
a.Ketidaksabilan membran sel saraf sehingga sel mudah diaktifkan.
b.Neuron hipersensitif dengan ambang yang menurun, sehingga mudah terangsang dan terangsang secara berturut-turut.
c.Mungkin terjadi polarisasi yang abnormal (polarisasi berlebihan, hiperpolarisasi atau terhentinya repolarisasi). 
d.Ketidakseimbangan ion yang mengubah lingkungan kimia dari neuron.
Karena hal tersebut di atas, beberapa keadaan dapat mencetuskan bangkitan epilepsi diantaranya faktor genetik dimana sel neuron mempunyai faktor genetic dimana sel neuro mempunyai faktor intrinsik atau terjadinya lepas muatan listrik yang abnormal, perubahan pada sel yang ditimbulkan oleh gangguan keseimbangan elektrolit misalnya anoksia, hipoksia, hipokapnia, hipogtiprogresteron, gangguan pelepasan neurotransmitter misalnya pada kerusakan serebral atau adanya toksin.

c. Patofisiologi

Gejala-gejala serangan epilepsi sebagian timbul sesudah otak mengalami gangguan, sedangkan beratnya serangan tergantung dari lokasi dan keadaan patologi.
Lesi pada otak tengah, thalamus dan korteks serebri kemungkinan bersifat epileptogenik. Sedangkan lesi pada serebelum dan batang otak biasanya tidak mengakibatkan serangan epilepsi.

d. Tanda dan Gejala
Epilepsi dapat menjelma sebagai serangan yang sifatnya tergantung pada fungsi bagian otak yang terkena, termasuk jalur-jalur dalam susunan saraf pusat yang dilampaui oleh lepas muatan listrik abnormal. Dengan demikian serangan dapat berupa serangan kejang seluruh badan disertai kehilangan kesadaran (grand mal), dapat berupa serangan kejang salah satu anggota badan tanpa kehilangan kesadaran (epilepsi fokal) serangan seperti melamun (petit mal, absence, lene), serangan kejang otot-otot (miokloni), serangan gerakan otomatis tanpa disadari, halusinasi pengecap dan bau (epilepsi psikomotor), serangan jatuh tiba-tiba (astasi, akinesi) dan sebagainya. Gambaran lengkap suatu serangan perlu diketahui oleh dokter agar dapat ditentukan jenisnya, kemungkinan penyebabnya dan pengobatannya.
Aspek komplikasi yang dapat ditimbulkan dari terjadinya serangan epilepsi tersebut yang sangat berperan pada faktor-faktor yang dapat menimbulkan adanya masalah psikososial adalah :
a.    Prasangka dan ketidaktahuan masyrakat tentang epilepsi
b.    Pendidikan
Sebagian besar penderita epilepsi dapat bersekolah di sekolah biasa. Tidak jarang anak dengan epilepsi dirugikan karena tidak diperkenankan ikut serta dalam kegiatan olah raga, darmawisata, kuliah kerja nyata karena guru khawatir muridnya mendapat cidera bila mendapat serangan selama kegiatan tersebut.
c.    Pekerjaan
Sebetulnya banyak pekerjaan yang dapat dilakukan oleh penderita epilepsi sesuai dengan kemampuan dan keterampilannya, kecuali beberapa pekerjaan yang tidak boleh dilakukan karena membahayakan bila penderita hilang kesadarannya dan disertai kejang-kejang.
d.   Olah raga
Olah raga baik untuk kesehatan fisik dan mental. Ada beberapa jenis olah raga yang perlu dihindari seperti mendaki gunung, menyelam, senam, berenang (boleh dengan pengawasan).
e.    Mengendarai kendaraan bermotor
Sebaiknya penderita epilepsi dilarang mengendarai sepeda motor, mobil atau membawa kendaraan umum seperti bus, metromini dan lain-lain karena dapat membayakan dirinya maupun orang lain.



e. Penatalaksanaan
Penanggulangan penderita epilepsi tidak hanya bersifat pemberian obat-obatan untuk mencegah terjadinya serangan, akan tetapi juga memperhatikan aspek-aspek lain, diantaranya aspek psikososial, keluarga, pekerjaan, pendidikan, dan sebagainya. Tujuan penanggulangan epilepsi ialah membantu para penderita agar dapat hidup bahagia dan mengembangkan diri dalam masyarakat. Dalam hal ini selain peran dokter juga pembinaan penderita dalam keluarga dan suasana di lingkungan sekolah, pekerjaan dan sebagainya sangat penting.  
a.     Peran dokter
Memang benar, bahwa pengobatan dengan obat-obat yang dapat mencegah serangan epilepsi merupakan bagian terpenting dalam penanggulangan epilepsi, namun tugas para dokter tidak hanya memberi pengobatan, akan tetapi dokter juga senantiasa harus memberi bimbingan kepada penderita dan keluarganya.

b.    Pembinaan penderita dalam keluarga
Salah satu unsur penting dalam pembinaan kehidupan penderita epilepsi ialah keluarganya. Oleh karena itu, dalam pembicaraan dengan penderita mengenai penyakitnya, dokter harus mengikutsertakan keluarga penderita, yakni kedua orang tua pabila yang menderita epilepsi adalah anaknya atau suami istri apabila salah seorang dari pasangan suami istri menderita epilepsi. Masalah yang biasanya dihadapi oleh anak yang menderita epilepsi ialah penolakan atau pengucilan oleh keluarganya atau justru sebaliknya, yakni orang tua melindungi secara berlebihan inilah yang merupakan bahaya terbesar bagi perkembangan watak si penderita. Ia akan merasa rendah diri, sehingga dalam perkembangan selanjutnya ia tidak akan dapat hidup mandiri.
c.     Pendidikan lingkungan sekolah
Dari penderita epilepsi ada yang kepandaiannya kurang dari normal atau yang menderita retardasi mental. Keadaan demikian bukan disebabkan oleh epilepsinya, akan tetapi oleh kerusakan pada sel-sel otak yang juga menjadi penyebab timbulnya serangan epilepsi. Anak-anak tersebut tentu tidak bisa sekolah di sekolahan biasa akan tetapi harus mendapat pendidikan luar biasa. Apabila ada keragu-raguan tentang intelegensi penderita, maka sebaiknya diminta bantuan seorang psikolog untuk menilai kepandaian dan bakat penderita.


     f.Pemeriksaan Penunjang
Elektroensefalografi (EEG) merupakan pemeriksaan penunjang yang informative yang dapat memastikan diagnosis epilepsi.
Pemeriksaan tambahan lain yang juga bermanfaat adalah pemeriksaan foto polos kepala yang berguna untuk mendeteksi adanya fraktur tulang tengkorak CT-Scan yang berguna untuk mendeteksi adanya infark, hematoma, tumor, hidrosefalus. Sedangkan pemeriksaan laboratorium dilakukan atas indikasi untuk memastikan adanya kelainan sistemik seperti hipoglikemia, hiponatremia.

        g.Pengobatan
1.    Pengobatan Medikamentosa
Pada epilepsi yang simptomatis dimana sawan yang timbul adalah manifestasi penyebabnya. Maka disamping pemberian obat anti epilepsi diperlukan pula terapi kausal. Beberapa prinsip dasar yang perlu dipertimbangkan :
a.    Pada sawan yang sangat jarang dan dapat dihilangkan faktor pencetusnya, pemberian obat harus dipertimbangkan.
b.    Pengobatan diberikan setelah diagnosis ditegakkan.
c.    Obat yang diberikan disesuaikan jenis sawannya.
d.   Sebaiknya menggunakan monoterapi karena dengan cara ini foksisitas akan berkurang
e.    Dosis obat disesuaikan secara individu
f.    Evaluasi hasilnya
g.    Pengobatan dihentikan setelah sawan hilang selama minimal 2-3 tahun

Tabel obat pilihan berdasarkan jenis sawan
Bangkitan
Jenis Obat
Fokal / parsial
Sederhana
Kompleks
Tonik klonik umum
Tonik klonik
Mioklonik
Absens / petitmal
CBZ, PB, PTH
CBZ, PB, PTH, VAL
CBZ, PB, PTH, VAL

CBZ, PB, PTH VAL
CLON, VAL
CLON, VAL

CBZ      : Karbamazepin                         PTH   : Fenitoin
CLON  : Klonazepam                             PB      : Fenobarbital
VAL     : Asam Valproat

Tabel dosis obat anti epilepsi dan konsentrasi dalam plasma
Jenis Obat
Dosis (mg/kg BB/hari
Cara pemberian
Konsentrasi dalam plasma
(Vg / mm3)
Fenabarbital
Fenitoin
Karbamazepin
Asam valporat
Klonazepam
Diazepam
1 – 5
4 – 20
4 – 20
10 – 60
0.05 – 0.12
0.05 – 0.015
0.4 – 0.16
1 x /hari
1 – 2 x/hari
3 x / hari
3 x /hari
3 x /hari
IV
Pre rectal
20 – 40
10 – 20
4 – 10
50 – 100
10 – 80
0.3 – 0.7
2.    Pengobatan Psikososial
Pasien diberikan penerangan bahwa dengan pengobatan yang optimal sebagian besar akan terbebas dari sawan. Pasien harus patuh dalam menjalani pengobatannya sehingga dapat terbebas dari sawan dan dapat belajar, bekerja dan bermasyarakat secara normal.


B,Proses Pengkajian

1.  Pengkajian
1.    Biodata yang dikaji adalah nama, umur, alamat, pekerjaan, pendidikan, agama serta data keluarga.
2.    apa yang terjadi selama serangan :
Apakah ada kehilangan kesadaran / pingsan ?
Apakah ada kehilangan kesadaran sesaat (lena) ?
Apakah pasien menangis, hilang kesadaran, jatuh ke lantai ?
Apakah disertai komponen motorik seperti kejang tonik, kejang klonik, kejang tonik-klonik, kejang mioklonik, kejang atonik ?
Apakah pasien menggigit lidah ?
3.    Sesudah serangan
Apakah pasien : alergi, bingung, sakit kepala, otot-otot sakit, gangguan bicara dan lain-lain
Apakah ada perbahan dalam gerakan misanya hemiplegia sementara
Sesudah serangan apakah pasien masih ingat apa yang terjadi sebelum, selama dan sesudah serangan
Apakah terjadi perubahan tingkat kesadaran, pernafasan atau frekuensi denyut jantung
Evaluasi kemungkinan terjadi cidera selama kejang (memar, luka goresan).
4.    Riwayat sebelum serangan
Apakah ada gangguan tingkah laku, emosi ?
Apakah disertai aktivitas otonomik yaitu berkeringat, jantung berdebar ?
Apakah ada aura yang mendahului serangan, baik sensori, auditorik, alfaktorik maupun visual.
5.    Riwayat penyakit
Sejak kapan serangan seperti di atas terjadi ?
Pada usia berapa serangan pertama terjadi ?
Frekuensi serangan
Apakah ada keadaan yang mempresipitasi serangan, seperti demam, kurang tidur, keadaan emosional ?
Apakah penderita pernah menderita sakit berat, khususnya yang disertai dengan gangguan kesadaran, kejang-kejang ?
2. Diagnosa Keperawatan
1.    Potensi terjadi luka/trauma fisik sehubungan dengan kehilangan kesadaran yang tiba-tiba
2.    Tidak efektif jalan nafas sehubungan dengan terjadinya sumbatan lender atau sekret ditrakeobronkial.
3.    Gangguan konsep diri : rendah diri sampai dengan punyai penyakit epilepsi.
4.    Kurangnya pengetahuan tentang penyakitnya
5.    Tidak efektifnya “koping” individu sampai dengan cacat psikososial dan sosial
6.    Potensial terjadinya serangan berulang atau status epileptikus.


3.  Intervensi
1.    Mengontrol serangan dan mencegah serangan berulang
a.    Kenali penyebab/stimuli yang dapat mendapatkan rangsangan.
b.    Kenali aura sebelum terjadi serangan
c.    Anjurkan agar pasien / keluarga untuk mencatat kejadian-kejadian serangan (jumlah, lamanya, waktu kejadian, pola tidur/makanan) untuk membantu menentukan terapi
d.   Tekankan pentingnya mendapatkan obat ahli epilepsi yang teratur dan tidak boleh menghentikan obat tanpa pengawasan dokter
e.    Jelaskan kepada pasien efek dari obat anti epilepsi
f.    Anjurkan pasien untuk memeriksakan darah secara teratur untuk mengevaluasi apakah obat antiepilepsi menekan hemopoiesis.

2.    Perawatan sewaktu terjadi serangan
a.    Pada saat pasien mendapat serangan pasien tidak boleh ditinggalkan, karena bisa terjadi bahaya-bahaya misalnya luka fisik, aspirasi, lidah tergigit.
b.    Miringkan kepala pasien untuk mencegah aspirasi
c.    Jika sempat masukkan penekan lidah dengan segera ke dalam mulut
d.   Bila serangan tidak terjadi di tempat tidur letakkan bantal di bawah kepala pasien atau letakkan kepala pasien di pangkuan perawat untuk mencegah kepala pasien terbentuk di lantai.
e.    Alat-alat yang membahayakan disingkarkan
f.    Ekstremitas harus ditahan tapi tidak boleh terlalu kuat
g.    Pakaian-pakaian yang sempit dilonggarkan
h.    Catat semua gejala-gejala dan tanda-tanda serangan
i.     Kolaborasi dengan dokter untuk pemberian obat anti epilepsi.

3.    Setelah serangan
a.    Bila pasien tidak sadar
-      Jaga agar saluran nafas menjadi lancar, dengan memiringkan  kepala pasien.
-      Jaga agar tanda-tanda vital tetap normal
-      Kebutuhan cairan dan elektrolit harus diperhatikan misalnya diberi infuse dan makanan cair mellaui pipa penduga
b.    Kaji apakah pasien dapat mengingat apa yang telah terjadi
c.    Beri rasa aman pada pasien
d.   Kaji apakah terjadi trauma fisik

4.    Meningkatkan harga diri
a.    Diskusikan dengan pasien bagaimana pendapat pasien mengenai penyakitnya
b.    Kenali kekuatan/keterampilan pasien agar pasien dapat hidup di masyarakat dengan baik.
c.    Dorong pasien dapat mempergunakan kekuatan atau hal-hal yang positif pada dirinya sehingga dapat mengurangi stress

5.    Pendidikan untuk pasien
a.    Pasien harus mengerti tentang kondisi penyakitnya
b.    Perlunya minum obat secara teratur
c.    Jelaskan faktor-faktor yang dapat menimbulkan serangan
-      Jumlah yang tidak adekuat dari obat anti epileptic dalam darah
-      Obat-obatan anti epileptic yang tidak cocok
-      Hyperventilasi
-      Trauma otak, demam, penyakit
-      Kurang / tidak teratur
-      Stress emosional
-      Perubahan-perubahan hormonal seperti kehamilan dan menstruasi
-      Nutrisi yang buruk
-      Tidak seimbang cairan dan elektrolit
-      Alcohol / obat-obatan
d.   Jelaskan tentang konsekuensi-konsekuensi psikososial tentang :
-      Pekerjaan
-      Mengendarai mobil
-      Sport dan rekreasi
-      Mandi
-      Kehamilan
-      Minum-minuman alcohol
-      Ada tanda pengenal harus dinasehatkan untuk membawa keterangan di dalam dompetnya


BAB III
PENUTUP

A.Kesimpulan
Epilepsi adalah gangguan kronik otak dengan gejala-gejala yang kompleks dari beberapa gangguan fungsi otak yang cirinya adalah serangan berulang-ulang. Bangkitkan kejang merupakan satu manifestasi daripada muatan listrik yang berlebihan disel neuron saraf pusat. (Helwiyah, S.Kp, Gangguan Konduksi, 77).
Penyebabnya.Idiopatik sebagian besar epilepsi pada anak adalah epilepsi idiopatik.
Faktor herediter : ada beberapa penyakit yang bersifat herediter yang disertai bangkitan.
Faktor genetic : pada kejang demam dan breath holding spells.
       Penanggulangan penderita epilepsi tidak hanya bersifat pemberian obat-obatan untuk   
mencegah terjadinya serangan, akan tetapi juga memperhatikan aspek-aspek lain,
diantaranya aspek psikososial, keluarga, pekerjaan, pendidikan, dan sebagainya.
           
B.Saran

            Diharapkan kepada bagi mahasiswa/i dapat menambah wawasan dan pengetahuan khususnya dengan masalah keperawatan tentang  penyakit Epilepsi dan  juga  dapat menerapkannya dalam kehidupan sehari hari.

DAFTAR PUSTAKA

John Gibson, Diagnosa Gejala Penyakit Untuk Para Perawat, 2000. Yayasan Essentia Medica, Yogyakarta.
Kapita Selekta Kedokteran, 1982. FKUI, Jakarta, Media Aesculapius.
Niluh Gede Yasmin Asih, S.Kp. 1996. Asuhan Keperawatan pada Pasien dengan Gangguan Sistem Persarafan, EGC : Jakarta.
Ngastiah, 1997, Perawatan Anak Sakit, EGC : Jakarta.
Suddarth and Brunner, 2002, Keperawatan Medikal Bedah, Vol. 3. EGC : Jakarta.