Aplikasi Merah Putih

Assalamualaikum.
dalam rangka memeriahkan hari kemerdekaan Indonesia, telah hadir aplikasi merah putih terbaru untuk mendapatkan pulsa gratis. Sudah terbukti dapat pulsa langsung. Sebarkan berita gembira ini. Download aplikasinya lewat link dibawah ini :
https://invite.cashtree.id/fd659d

ASUHAN KEPERAWATAN ANAK DENGAN RETARDASI MENTAL


BAB I
PENDAHULUAN
A.latar belakang
Retardasi mental merupakan masalah dunia dengan implikasi yang besar terutama bagiNegara berkembang. Diperkirakan angka kejadian retardasi mental berat sekitar 0.3% dariseluruh populasi dan hamper 3% mempunyai IQ dibawah 70.Sebagai sumber daya manusiatentunya mereka tidak bias dimanfaatkan karena 0.1% dari anak-anak ini memerlukanperawatan, bimbingan serta pengawasan sepanjang hidupnya.(Swaiman KF, 1989).Sehingga retardasi mental masih merupakan dilema, sumber kecemasan bagi keluarga danmasyarakat.Demikian pula dengan diagnosis, pengobatan dan pencegahannya masihmerupakan masalah yang tidak kecil.


B.   Tujuan
1.    Tujuan Umum

 Untuk mengetahui asuhan keperawatan pada anak dengan kasus Reterdasi mental.
      2.Tujuan Khusus
a.       Mengetahui pengkajian pada anak dengan kasus retrdasi mental.
b.      Menegakkan diagnosa keperawatan dengan kasus etardasi mental.’
c.       Membuat intervensi keperawatan.
d.      Membuat implementasi keperawatan.
e.       Membuat evaluasi keperawatan.


BAB II
TINJAUAN TIORI
 
a.Definisi

Retardasi mental adalah kelainan ataua kelemahan jiwa dengan inteligensi yang kurang(subnormal) sejak masa perkembangan (sejak lahir atau sejak masa anak). Biasanya terdapat perkembangan mental yang kurang secara keseluruhan, tetapi gejala yang utama ialahinteligensi yang terbelakang. Retardasi mental disebut juga oligofrenia (oligo: kurang atausedikit dan fren: jiwa) atau tuna mental (W.F. Maramis, 2005: 386).
.Pada Wikipedia (The Free Encyclopedia, 2010), dinyatakan:  Retardasi mental merupakan kelemahan yang terjadi pada fungsi intelek. Kemampuanjiwa retardasi mental gagal berkembang secara wajar. Mental, inteligensi, perasaan, dankemauannya berada pada tingkat rendah, sehingga yang bersangkutan mengalami hambatandalam penyesuaian diri.
American Association on Mental Retardation (AAMR) 1992 :
Kelemahan/ketidakmampuan kognitif muncul pada masa kanak-kanak (sbl 18 tahun) ditandai  dengan fs. kecerdasan  dibawah normal ( IQ 70-75 atau kurang), dan disertai keterbatasan lain pada sedikitnya  dua area.
b. etiologi
  •  Adanya disfungsi otak merupakan dasar dari retardasi mental. Untuk mengetahui adanya retardasi mental perlu anamnesis yang baik,pemeriksaan fisik dan laboratorium.
  • Faktorprekonsepsi : kelainankromosom (trisomi 21/Down syndrom)
  • Faktor prenatal : kelainanpetumbuhanotakselamakehamilan    (infeksi, zatteratogendan toxin, disfungsiplasenta)
  • Faktorperinatal : prematuritas, perdarahanintrakranial, asphyxia neonatorum, dll
  • Faktor postnatal : infeksi, trauma, gangguanmetabolik/hipoglikemia, malnutrisi.

c.Manifestasi klinis :

- Ggn. Kognitif
- Lambatnya ketrampilan dan bahasa
- Gagal melewati tahap perkembangan utama
- Kemungkinan lambatnya pertumbuhan
- Kemungkinan tonus otot abnormal
- Terlambatnya perkembangan motorik halus dan kasar


d.Penatalaksanaan Medis : 
 Penatalaksanaan anak dengan retardasi mental adalah multidimensi dan sangat individual.Tetapi perlu diingat bahwa tidak setiap anak penaganan multidisiplin merupakan jalan terbaik.Sebaiknya dibuat rancangan suatu strategi pendekatan bagi setiap anak secara individual untuk mengembangkan potensi anak tersebut seoptimal mungkin. Untuk itu perlu melibatkan psikologuntuk menilai perkembangan mental anak terutama kemampuan kognitifnya, dokter anak untuk memeriksa perkembangan fisiknya, menganalisis penyebab dan mengobati penyakit atau kelainan yang mungkin ada.
Disamping itu diperlukan kerja sama yang baik antara guru dan orangtuanya, agar tidak terjadi kesimpangsiuran dalam strategi penanganan anak disekolah dandirumah. Anggota keluarga lainnya juga harus diberi pengertian agar anak tidak diejek ataudikucilkan. Disamping itu, masyarakat perlu diberikan penerangan tentang retardasi mental agar mereka dapat menerima anak tersebut dengan wajar.

e.Pencegahan.
Karena penyembuhan dari retardasi mental ini boleh dikatakan tidak ada sebab kerusakandari sel-sel otak tidak mungkin fungsinya dapat kembali normal maka yang penting adalahpencegahan primer yaitu usaha yang dilakukan untuk mencegah terjadinya penyakit. Dengan memberikan perlindungan terhadap penyakit-penyakit yang potensial dapat
 Menyebabkan retardasi mental, misalnya melalui imunisasi. Konseling perkawinan, pemeriksaan kehamilanyang rutin, nutrisi yang baik selama kehamilan dan bersalin pada tenaga kesehatan yangberwenang maka dapat membantu menurunkan angka kejadian retardasi mental.

f.Pemeriksaan Penunjang
  • Pemeriksaankromosom
  • Pemeriksaanurin, serum atau titer virus
  • Test diagnostikspt : EEG, CT Scan
  •  untukidentifikasiabnormalitasperkembanganjaringanotak, injury jaringanotakatau trauma yang mengakibatkanperubahan.
B.Proses Pengkajian.
1. Pengkajian

-Pemeriksaan fisik :
Kepala  : Mikro/makrosepali, plagiosepali (btkkepalatdksimetris)
Rambut : Pusarganda, rambutjarang/tdkada, halus,mudahputusdancepatberubah
Mata : mikroftalmia, juling, nistagmus, dll
hidung : jembatan/punggunghidungmendatar, ukurankecil,cupingmelengkungkeatas, dll
Mulut : bentuk ´Vµ yang terbalikdaribibiratas, langit-langitlebar/melengkungtinggi.
Telinga : keduanyaletakrendah; dll
Muka : panjangfiltrum yang bertambah, hipoplasia
leher : pendek; tdkmempunyaikemampuangeraksempurna
Tangan : jaripendekdantegapataupanjangkecilmeruncing,ibujarigemukdanlebar, klinodaktil, dll
Dada & Abdomen : tdpbeberapa putting, buncit, dll
genitalia : mikropenis, testis tidakturun, dll


Kaki : jari kaki salingtumpangtindih, panjang &tegap/panjangkecilmeruncingdiujungnya, lebar, besar, gemuk 2.

2.diagnosis
keperawata

1.Gangguan pertumbuhan dan perkembangan b.d kelainanfs. Kognitif
2.Gangguan komunikasi verbal b.d kelainanfs, kognitif
3.Risiko cederab.d. perilaku agresif/ketidak seimbangan mobilitas fisik
4.Gangguan interaksi sosial b.d. kesulitan bicara /kesulitan adaptasi sosial
5.Gangguan proses keluargab.d. memiliki anak RM
6.Defisit perawatan diri b.d. perubahan mobilitas fisik/kurangnya kematangan perkembangan.

3.intervensi

1.Kaji faktor penyebab gangguan perkembangan anak
2.Identifikasi dan gunakan sumber pendidikan untuk memfasilitasiperkembangan anak yang optimal
3.Berikan perawatan yang konsisten
4.Tingkatkan komunikasi verbal dan stimulasi taktil
5.Berikan intruksi berulang dan sederhana
6.Berikan reinforcement positif atas hasil yang dicapai anak
7.Dorong anak melakukan perawatan sendiri
8.Manajemen perilaku anak yang sulit
9.dorong anak melakukan sosialisasi dengan kelompok
10.Ciptakan lingkungan yang aman  




BAB III
PENUTUP

A.Kesimpulan
            Retardasi mental adalah kelainan ataua kelemahan jiwa dengan inteligensi yang kurang(subnormal) sejak masa perkembangan (sejak lahir atau sejak masa anak). Biasanya terdapatperkembangan mental yang kurang secara keseluruhan, tetapi gejala yang utama ialahinteligensi yang terbelakang. Retardasi mental disebut juga oligofrenia (oligo: kurang atausedikit dan fren: jiwa) atau tuna mental (W.F. Maramis, 2005: 386).
 Penyebabnya  adanya disfungsi otak merupakan dasar dari retardasi mental. Untuk mengetahui adanya retardasi mental perlu anamnesis yang baik,pemeriksaan fisik dan laboratorium.Faktorprekonsepsi : kelainankromosom (trisomi 21/Down syndrom).

           
B.Saran

            Diharapkan kepada bagi mahasiswa/i dapat menambah wawasan dan pengetahuan khususnya dengan masalah keperawatan tentang  Retardasi mental pada anak  juga  dapat menerapkannya dalam kehidupan sehari hari.

DAFTAR PUSTAKA


John Gibson, Diagnosa Gejala Penyakit Untuk Para Perawat, 2000. Yayasan Essentia Medica, Yogyakarta.
Kapita Selekta Kedokteran, 1982. FKUI, Jakarta, Media Aesculapius.
Niluh Gede Yasmin Asih, S.Kp. 1996. Asuhan Keperawatan pada Pasien dengan Gangguan Sistem Persarafan, EGC : Jakarta.
Ngastiah, 1997, Perawatan Anak Sakit, EGC : Jakarta.
Suddarth and Brunner, 2002, Keperawatan Medikal Bedah, Vol. 3. EGC : Jakarta.