Aplikasi Merah Putih

Assalamualaikum.
dalam rangka memeriahkan hari kemerdekaan Indonesia, telah hadir aplikasi merah putih terbaru untuk mendapatkan pulsa gratis. Sudah terbukti dapat pulsa langsung. Sebarkan berita gembira ini. Download aplikasinya lewat link dibawah ini :
https://invite.cashtree.id/fd659d

PRE PLANNING PROGRAM TERAPI BERMAIN“PERMAINAN DRAMATIK” PADA KELOMPOK ANAK USIA PRA SEKOLAH (4-6 TAHUN) DENGAN MASALAH PSIKOSOSIAL : HOSPITALISASI DI RUANG ANAK RS.DR.M.DJAMIL PADANG



BAB I
PENDAHULUAN
PRE PLANNING
PROGRAM TERAPI BERMAIN“PERMAINAN DRAMATIK”
PADA KELOMPOK ANAK USIA PRA SEKOLAH (4-6 TAHUN)
DENGAN MASALAH PSIKOSOSIAL :
HOSPITALISASI DI RUANG ANAK RS.DR.M.DJAMIL PADANG

Topik          :    Bermain Dramatik (bermain dokter-dokteran)
Terapi         :    4 orang mahasiswa PSIK FK UNAND
Sasaran       :    Klien (anak) yang kooperatif ( 4-6 orang) usia 4-6 tahun dan klien yang sesuai dengan
                        kriteria.

A.       Latar Belakang
Perkembangan psikososial pada anak sangat berperan penting untuk kehidupan sang anak kedepannya. Perkembangan psikososial anak berhubungan dengan kemampuan mandiri anak, seperti makan sendiri, berpisah dengan ibu/pengasuh, kemampuan bersosialisasi, dan berinteraksi dengan lingkungannya. Perkembangan psikososial anak dipengaruhi oleh stimulasi dari orang tua, stress yang dialami anak, kelompok sebaya, motivasi belajar, dan lain-lain. Stimulasi harus diberikan orang tua kepada anaknya secara teratur sehingga dapat meningkatkan kemampuan anak dalam bersosialisasi dan kemandirian. Stimulasi pun harus disertai rasa kasih sayang sehingga perkembangan anak pun akan menjadi baik.
Menurut Erikson, bahwa perkembangan anak ditinjau dari aspek psikososial selalu dipengaruhi oleh lingkungan social dan untuk mencapai kematangan kepribadian anak perkembangan psikososial anak dapat meliputi beberapa tahapan antara lain : tahap percaya dan tidak percaya (umur 0-1 tahun), tahap kemandirian, rasa malu dan ragu (umur 1-3 tahun), tahap inisiatif, rasa bersalah (umur 4-6 tahun / pra sekolah), tahap rajin dan rendah diri (umur 6-12 tahun/ sekolah), tahap identitas dan kebingungan peran (pada masa adolescence), tahap keintiman dan pemisahan (dewasa muda), tahap generasi dan penghentian (dewasa pertengahan), tahap integritas dan keputusasaan (dewasa lanjut).
            Gangguan psikososial pada anak dapat menyebabkan gangguan perasaan (seperti depresi, cemas), ganguan fungsi tubuh (seperti gangguan psikosomatik), gangguan perilaku (seperti pasif, agresif), atau gangguan penampilan. Problem psikososial tersebut dapat ditimbulkan oleh stress fisik atau emosi cacat bawaan, luka fisik, pengasuhan yang tidak sesuai, konflik pernikahan, penyiksaan anak, dan kesibukan orang tua yang berlebihan.
Orang tua harus dapat memberikan semangat untuk mempersiapkan anak-anaknya agar dapat mengantisipasi kejadian-kejadian yang dapat menimbulkan traumatis. Anak pun harus dibiasakan untuk dapat mengungkapkan perasaannya secara langsung, seperti cemas, takut, atau marah. Oleh karena itu, perasaan yang ada di anak dapat mulai dikontrol.
            Diantara intervensi keperawatan anak terapi bermain sangat efektif karena dapat mengetahui perkembangan fisik, mental, intelektual, dan social anak sebagai wadah pembinaan hubungan interpersonal antara klien, keluarga dan perawat. Salah satu manfaat bermain bagi anak adalah dapat meningkatkan sosialisasi anak, dimana proses sosialisasi dapat terjadi melalui permainan.
Bermain merupakan suatu aktivitas di mana anak dapat melakukan atau mempraktikkan keterampilan, memberikan ekspresi terhadap pemikiran, menjadi kreatif, mempersiapkan diri untuk berperan dan berperilaku dewasa. Terapi bermain dramatic adalah salah satu contoh terapi yang dapat dilakukan pada anak dengan masalah psikososial. Bermain dramatic dapat dilakukan anak dengan mencoba melakukan berpura-pura dalam berperilaku seperti anak memperankan sebagai orang dewasa, seorang ibu dan guru dalam kehidupan sehari-hari. Sifat dari permainan ini adalah dituntut aktif dalam memerankan sesuatu. Permainan dramatic ini dapat dilakukan apabila anak sudah mampu berkomunikasi dan mengenal kehidupan social (Hidayat, A.Aziz Alimul:2005).
Melalui permainan dramatic, anak dapat mengembangkan keterampilan emosinya, rasa percaya diri pada orang, kemandirian dan keberanian untuk berinisiatif, karena saat bermain anak  sering berpura-pura menjadi orang lain, binatang atau karakter orang lain, belajar melihat dari sisi orang lain (empati). Disamping itu dengan bermain anak juga dapat belajar mengambil keputusan, berlatih peran social sehingga anak menyadari kelebihannya. Pengalaman bermain yang menyenangkan ini diharapkan akan memberikan pengalaman yang menyenangkan sehingga anak-anak bisa mengatasi masalah psikologis yang sedang dihadapinya.
B.   Tujuan
Tujuan Umum
Memberikan stimulasi dalam kemampuan keterampilan, kognitif, afektif, ekspresi terhadap perasaan dan meningkatkan kemampuan anak dalam bersosialisasi. Selain itu, mahasiswa mampu melakukan role play permainan dramatic pada anak dengan masalah psikososial.
Tujuan Khusus
Setelah mengikuti kegiatan klien mampu :
1.      Meningkatkan kemampuan anak dalam berkomunikasi
2.      Membantu anak mengenal kehidupan social
3.      Meningkatkan kemampuan anak dalam hal fantasi, imajinasi melalui permainan drama
4.      Meningkatkan kemampuan kognitif, social dan emosi anak
5.      Mengurangi stress karena penyakit dan hospitalisasi
6.      Memenuhi kebutuhan aktivitas bermain
7.      Mengurangi kecemasan anak terhadap tindakan perwatan di rumah sakit
8.      Memperat hubungan terapeutik antara perawat dan tenaga kesehatan lainnya dengan anak dan keluarga
  1. Keuntungan
Anak diharapkan mampu dalam mengembangkan kemampuan :
a.       Motorik halus : dengan dramatic play (bermain drama) bisa meningkatkan ketelitian, mengungkapkan ekspresi bebas yang menyenangkan dalam mengungkapkan perasaan.
b.      Kognitif : membantu anak membangun konsep dan pengetahuan, mengembangkan kemampuan berpikir abstrak, mendorong anak untuk berpikir kreatif,
c.       Bahasa : membantu anak meningkatkan kemampuan berkomunikasi, memotivasi anak untuk belajar bahasa.
d.      Sosial : dengan bermain peran seperti bermain dokter-dokteran,  dapat membantu anak mengembangkan kemampuan mengorganisasi dan menyelesaikan masalah, meningkatkan kompetensi social anak, membantu anak mengekspresikan dan mengurangi rasa takut, membantu anak menguasai konflik dan trauma, membantu anak mengenali diri mereka sendiri.
  1. Alasan Pemilihan Bermain peran (dokter-dokteran) untuk terapi bermain bagi anak dengan masalah Psikososial
v  Bermain peran (dramatic play)  sesuai  untuk perkembangan psikososial untuk anak dengan usia pra sekolah.
v  Anak  bisa mengekspresikan perasaan dan emosinya melalui bermain peran
v  Mengembangan fantasi dan imajinasi anak dalam memainkan peran tertentu
v  Meningkatkan kreatifitas anak
v  Meningkatkan kemampuan anak dalam berkomunikasi dan berinteraksi dengan orang lain
v  Menarik dan tidak membosankan
v  Mudah dilakukan
v   Sarana mudah didapat
  1. Pelaksanaan Kegiatan
Ø  Topik
Bermain peran (dokter-dokteran).
Ø  Sasaran
Aktivitas bermain ini ditujukan bagi anak usia prasekolah yang mengalami masalah psikososial karena dampak hospitalisasi, dengan criteria sebagai berikut :
1.      Anak usia prasekolah (usia 4-6 tahun) sebanyak 5 orang
2.      Anak-anak yang mengalami masalah psikososial karena dampak dari hospitalisasi
3.      Tidak dalam kondisi sakit berat atau bedrest
4.      Tidak menderita penyakit infeksi (menular)
5.      Tidak bertentangan dengan pengobatan
Ø  Metode
Permainan
Ø  Media
Boneka, stetoskop, spuit plastic, kapas,kertas
Ø  Tempat
Ruang rawat inap anak RS.Dr. M.Djamil Padang
Ø  Waktu
Hari / Tanggal : Senin / 7 Mei 2012
Waktu             : 09.00-09.05 (perkenalan)
                          09.05-09.30 (bermain peran)
                          09.30-09.35 (penutup)
Lama               : 35 menit
Ø  Pengorganisasian
1.      Setting Tempat






















F
 
















O
 


C
 







F
 






 









C
 
Keterangan :
                               : Leader                                                    : Co-Leader
O
 
                              
                               : Obeserver                                               : Klien
F
 
                              
                               : Fasilitator                                               : Pembimbing
Catatan : Setting tempat disesuaikan dengan keadaan anak dan mengikutsertakan peserta
               tambahan


2.        Uraian Tugas
a.       Leader                      :
Tugas :
*             Menjelaskan tujuan aktivitas
*             Memperkenalkan anggota terapis
*             Memberikan kesempatan anggota untuk saling mengenal
*             Menjelaskan aturan permainan
*             Memberikan respon yang sesuai dengan perilaku anggota
*             Menyimpulkan keseluruhan aktivitas anggota
b.      Co- Leader               :
Tugas :
*                Menyampaikan informasi dan fasilitator kepada leader
*                Membantu leader dalam melaksanakan tugasnya
c.       Fasilitator                 :
Tugas :
*                Mampu memfasilitasi klien yang kurang aktif
*                Mampu memotivasi klien
d.      Observer                  :
Tugas :
*                Mampu mengobservasi jalannya terapi bermain
*                Mengamati dan mencatat jumlah anggota yang hadir
*                Melaporkan tentang hasil terapi pada masing-masing anak
*        Membuat kesimpulan, evaluasi dan mendiskusikan tentang kondisi anak kepada orang tua, untuk ditindak lanjuti oleh orang tua
e.       Dokumentasi
Tugas :
*                Mendokumentasikan kegiatan dan hal- hal yang dianggap penting



F.     MEKANISME KEGIATAN
No
Waktu
Kegiatan Mahasiswa
Kegiatan Peserta
(Anak dan Keluarga)
1.
5 menit
Pembukaan
@ Memusatkan perhatian anak-anak
@ Salam
@ Perkenalan dengan mahasiswa
@ Perkenalan dengan pembimbing
@ Perkenalan antar sesama anak
@ Menjelaskan tujuan
@ Menjelaskan kontrak waktu

Memperhatikan
Menjawab salam
Berkenalan
Berkenalan
Berkenalan
Memperhatikan
Memperhatikan

2.
20 menit
Kegiatan Inti
@ Menyusun dan menertibkan barisan anak-anak, orang tua hadir untuk menyaksikan anak
@ Membagikan peran yang akan dimainkan oleh anak

@ Membagikan peralatan untuk bermain peran
@ Memandu anak-anak untuk mulai bermain peran
@ Meminta 2-3 orang anak untuk menceritakan pengalamannya dalam bermain peran

Anak-anak tertib dan didampingi atau disaksikan oleh orang tua
Anak-anak mendengarkan dan menerima pembagian peran masing-masing
Anak-anak menerima peralatan yang dibutuhkan
Mendengarkan dan mulai bermain peran
Anak punya inisiatif untuk menceritakan pengalamannya
3
5 menit
Penutup
@ Leader mengevaluasi respon motorik dan verbal peserta dan keluarga terhadap kegiatan
@ Leader menyimpulkan kegiatan bersama peserta
@ Leader menutup kegiatan dan member salam

Mengemukakan pendapat


Berpartisipasi

Mendengarkan dan menjawab salam

G.    Kriteria Evaluasi
1.      Evaluasi struktur
¨      Peserta 5 orang
¨      Peserta duduk ditempat yang telah disediakan atau ditempat yang diinginkan oleh anak
2.      Evaluasi proses
¨      Klien tidak meninggalkan tempat selama kegiatan berlangsung
¨      Klien aktif dan dapat mengikuti rangkaian kegiatan dengan tertib
¨      Klien dapat mengikuti terapi sesuai dengan aturan permainan
3.      Evaluasi hasil
¨      Imajinasi dan kreatifitas anak meningkat
¨      Anak merasa senang dan terhibur
¨      Anak anak dapat saling berinteraksi dan mengenal satu sama lain












BAB II
TINJAUAN TEORITIS
2.1                           Konsep Bermain
            Bermain merupakan suatu aktivitas dimana anak dapat melakukan atau mempraktikkan keterampilan, memberikan ekspresi terhadap pemikiran, menjadi kreatif, mempersiapkan diri untuk berperan dan berperilaku dewasa. Sebagai suatu aktivitas yang memberikan stimulasi dalam kemampuan keterampilan, kognitif, dan afektif maka sepatutnya diperlukan suatu bimbingan, mengingat bermain bagi anak merupakan suatu kebutuhan bagi dirinya sebagaimana kebutuhan lainnya seperti kebutuhan makan, kebutuhan rasa aman, kebutuhan kasih sayang, dan lain- lain.
2.2                           Fungsi Bermain
a.       Membantu perkembangan sensorik dan motorik.
Fungsi bermain pada anak ini adalah dapat dilakukan dengan melakukan rangsangan pada sensorik dan motorik melalui rangsangan ini aktiviitas anak dapat mengeksplorasi alam sekitarnya sebagai contoh bayi dapat dilakukan dengan rangsangan taktil, audio dan visual melalui rangsangan ini perkembangan sensorik dan motorik akan meningkat.
b.      Membantu perkembangan kognitif, perkembangan kognitif dapat dirangsang melalui permainan. Hal ini dapat terlihat pada saat anak bermain, maka anak akan mencoba melakukan berkomunikasi dengan bahasa anak, mampu memahami objek permainan seperti dunia tempat tinggal, mampu membedakan khayalan dan kenyataan, mampu belajar warna, memahami bentuk ukuran dan berbagai manfaat benda yang digunakan dalam permainan, sehingga fungsi bermain pada model demikian akan meningkatkan perkembangan kognitif selanjutnya.
c.       Meningkatkan sosialisasi anak, proses sosialisasi dapat terjadi melalui permainan,  sebagai contoh dimana pada usia bayi anak akan merasa kesenangan terhadap kehadiran orang lain dan merasakan ada teman yang dunianya sama, pada usia toddler anak sudah mencoba bermain dengan sesamanya dan ini sudah mulai proses sosialisasi satu dengan yang lain, kemudian bermain peran, seperti bermain berpura-pura menjadi seorang guru, jadi seorang anak, jadi seorang bapak, jadi seorang ibu dan lain-lain, kemudian pada usia prasekolah sudah mulai menyadari akan keberadaan teman sebaya sehingga harapan anak mampu melakukan sosialisasi dengan teman dan orang lain.
d.      Meningkatkan kreativitas, bermain juga dapat berfungsi dalam peningkatan kreativitas, dimana anak mulai belajar menciptakan sesuatu dari permainan yang ada dan mampu memodifikasi objek yang digunakan dalam permainan sehingga anak akan lebih kreatif melalui model permainan ini, seperti bermain bongkar pasang mobil-mobilan.
e.       Meningkatkan kesadaran diri, bermain pada anak akan memberikan kemampuan pada anak untuk eksplorasi tubuh dan merasakan dirinya sadar dengan orang lain yang merupakan bagian dari individu yang saling berhubungan,anak mau bellajar mengatur perilaku, membandingkan dengan perilaku orang lain.
f.       Mempunyai nilai terapeutik, bermain dapat menjadi diri anak lebih senang  dan nyaman sehingga adanya stress dan ketegangan dapat dihindarkan, mengingat bermain dapat menghibur diri anak terhadap dunianya.
g.      Mempunyai nilai moral pada anak, bermain juga dapat memberikan nilai moral tersendiri pada anak, hal ini dapat dijumpai anak sudah mampu belaja benar atau salah dari budaya di rumah, disekolah dan ketika berinteraksi dengan temannya, dan juga ada beberapa permainan yang memiliki aturan-aturan yang harus dilakukan tidak boleh dilanggar.
2.3                           Perkembangan Psikososial (Erikson)
            Teori perkemabangan kepribadian yang paling banyak diterima adalah teori yang dikembangkan oleh Erikson (1963). Teori ini dikenal sebagai perkembangan psikososial dan menekankan pada kepribadian yang sehat, bertentangan dengan pendekatan patologik. Erikson juga menggunakan konsep-konsep biologis tentang periode kritis dan epigenesist, menjelaskan konflik atau masalah inti yang harus dikuasai individu selama periode kritis dalam perkembanangan kepribadian.
             Setiap tahap psikososial mempunyai dua komponen aspek menyenangkan dan tidak menyenangkan dari konflik inti dan perkembangan ketahap selanjutnya bergantung pada penyelesaian konflik ini. Setiap situasi baru menimbulkan konflik dalam bentuk baru. Sebagai contoh, ketika anak yang mencapai rasa percaya secara memuaskan menghadapi pengalaman baru (mis : hospitalisasi) mereka harus sekali lagi membentuk rasa percaya kepada orang yang bertanggung jawab atas asuhan mereka dalam rangka menguasai situasi. Pendekatan rentang kehidupan Erikson terhadap perkembangan kepribadian yang berkaitan dengan masa kanak-kanak, yaitu :
*             Percaya vs tidak percaya (lahir sampai 1 tahun)
Hal pertama dan yang paling penting bagi perkembangan kepribadian yang sehat adalah rasa percaya dasar. Pembentukan rasa percaya dasar ini mendominasi tahun pertama kehidupan dan menggambarkan semua pengalaman kepuasan anak pada masa ini. Rasa tidak percaya terjadi jika pengalaman yang meningkatkan terpenuhinya rasa percaya atau jika kebutuhan dasar tidak dipenuhi  secara konsisten atau adekuat.
*             Autonomi vs malu atau ragu-ragu (1-3 tahun)
Perkembangan autonomi selama periode toddler berpusat pada peningkatan kemampuan anak untuk mengendalikan tubuh mereka, diri mereka dan lingkungan mereka. Perasaan negative seperti ragu dan malu muncul ketika anak-anak diremehkan, ketika pilihan-pilihan mereka membahayakan, atau ketika mereka dipaksa untuk bergantung dalam beberapa hal yang sebenarnya mereka mampu melakukannya.
*             Inisiatif vs rasa bersalah (3 sampai 6 tahun)
Tahap inisiatif dicirikan dengan perilaku yang instrusif dan penuh semangat, berani berupaya dan imajinasi  yang kuat. Anak-anak terkadang memiliki tujuan atau melakukan aktivitas ynag bertentangan dengan yang dimiliki orang tua atau orang lain, dibuat merasa bahwa aktivitas atau imajinasi mereka merupakan hal yang buruk sehingga menimbulkan rasa bersalah.
*             Industri vs inferioritas (6 sampai 12 tahun)
Tahap industri adalah periode laten dari Freud. Setelah mencapai tahap yang lebih penting dalam perkembangan kepribadian, anak-anak siap untuk bekerja dan berproduksi. Mereka mau terlibat dalam tugas dan aktivitas yang dapat mereka lakukan sampai selesai;  mereka memerlukan dan menginginkan pencapaian yang nyata. Rasa ketidakadekuatan atau inferioritas  dapat terjadi jika terlalu banyak yang diharapkan dari mereka atau jika mereka percaya bahwa mereka tidak dapat memenuhi standar yang ditetapkan orang lain untuk mereka.
*        Identitas vs kebingungan peran (12 sampai 18 tahun)
Perkembangan identitas dicirikan dengan perubahan fisik yang cepat dan jelas. Rasa percaya terhadap tubuh mereka yang sudah terbentuk sebelumnya mengalami kegoncangan, dan anak-anak menjadi sangat terpaku dengan penampilan mereka dimata orang lain dibandingkan dengan konsep diri mereka. Ketidakmampuan untuk menyelesaikan konflik inti menyebabkan terjadinya kebingungan peran.
2.4         Konsep Permainan Dramatik atau pura-pura
         Salah satu elemen vital pada proses identifikasi anak adalah permainan dramatic, yang disebut juga permainan simbolik atau pura-pura. Permainan ini mulai pada masa bayi akhir (11 sampai 13 bulan) dan merupakan bentuk permainan yang dominan pada anak prasekolah. Denga memainkan kejadian hidup sehari-hari, anak belajar dan mempraktikkan peran dan identitas yang dimainkan oleh anggota keluarga mereka dan masyarakat. Mainan anak, replica benda-benda dimasyarakat, memberikan media untuk belajar tentang peran dan aktivitas orang dewasa yang dapat membingungkan dan menimbulkan frustasi bagi mereka. Permainan sederhana, imitative, dramatic pada toddler, seperti menggunakan telepon, mengendarai mobil-mobilan, atau menimang boneka, berkembang menjadi drama yang semakin kompleks dan bersambung yang dibuat anak prasekolah, yang meluas dari hal-hal umum di rumah tangga sampai aspek yang lebih luas tentang dunia dan masyarakat, seperti memainkan peran polisi, pramuniaga, guru atau perawat.







BAB III
PENUTUP
A.    Kesimpulan
            Perkembangan psikososial pada anak sangat berperan penting untuk kehidupan sang anak kedepannya. Perkembangan psikososial anak berhubungan dengan kemampuan mandiri anak, seperti makan sendiri, berpisah dengan ibu/pengasuh, kemampuan bersosialisasi, dan berinteraksi dengan lingkungannya. Perkembangan psikososial anak dipengaruhi oleh stimulasi dari orang tua, stress yang dialami anak, kelompok sebaya, motivasi belajar, dan lain-lain.
Perkembangan psikososial anak dipengaruhi oleh lingkungan social dan untuk mencapai kematangan kepribadian anak perkembangan psikososial melalui beberapa tahapan antara lain : tahap percaya dan tidak percaya (umur 0-1 tahun), tahap kemandirian, rasa malu dan ragu (umur 1-3 tahun), tahap inisiatif, rasa bersalah (umur 4-6 tahun / pra sekolah), tahap rajin dan rendah diri (umur 6-12 tahun/ sekolah), tahap identitas dan kebingungan peran (pada masa adolescence), tahap keintiman dan pemisahan (dewasa muda), tahap generasi dan penghentian (dewasa pertengahan), tahap integritas dan keputusasaan (dewasa lanjut).
Adanya gangguan dalam perkembangan psikososial anak dapat berdampak pada perkembangan kepribadiannnya saat beranjak dewasa. Oleh karena itu untuk mengatasi masalah psikososial anak ,salah satunya dapat dilakukan dengan terapi bermain peran (dramatic play). Permainan ini dapat meningkatkan kemampuan anak dalam bersosialisasi dengan lingkungan sekitar dan merangsang daya imajinasi anak.
  1. Saran
Setelah kegiatan terapi aktivitas bermain ini, diharapkan anak dapat mencapai tujuan yang telah ditetapkan yaitu meningkatkan kemampuan klien dalam bersosialisasi dan mengungkapkan perasaan melalui terapi bermain serta anak dapat beradaptasi dengan lingkungan dan orang-orang tempat ia dirawat.


DAFTAR PUSTAKA
Aisyah. 2011. Gangguan Perkembangan Psikososial Anak. Diakses tanggal 6 Mei 2012.
            www.aish-idea.blogspot.com.
Hidayat, A.Aziz Alimul. 2005. Pengantar Ilmu Keperawatan Anak I. Salemba Medika : Jakarta.
Mutiah, Diana. 2010. Psikologi Bermain Anak Usia Dini. Kencana : Jakarta.
Peran Bermain Dalam Perkembangan Anak. Diakses tanggal 6 Mei 2012.
            www.ocw.usu.ac.id.
Wong, L.Donna,dkk. 2009. Buku Ajar Keperawatan Pediatrik Vol.1. EGC : Jakarta.

           

Tidak ada komentar: