MODEL DAN KONSEP PENGKAJIAN KEPERAWATAN KELUARGA CALGARY



Bab 1
PENDAHULUAN

1.1         Latar Belakang
          Asuhan keperawatan dalam keluarga merupakan suatu proses atau rangkaian kegiatan praktik keperawatan yang bertujuan untuk mengatasi masalah kesehatan yang dialami oleh keluarga dan meningkatkan potensi kesehatan yang dimiliki oleh keluarga secara mandiri. Dalam pelaksanaan asuhan keperawatan keluarga, perawat bekerja secara bersamaan dengan individu, subsistem dan seluruh anggota keluarga dan masyarakat. Proses keperawatan berfungsi sebagai sebuah kerangka dalam pemberian asuhan keperawatan keluarga (Friedman, 2003). Pada makalah ini akan dipaparkan model pengkajian keluarga dalam tahap perkembangan keluarga dengan anak remaja.
Tahap Perkembangan keluarga dengan remaja dimulai ketika anak pertama di dalam keluarga tersebut telah memasuki usia remaja awal yaitu 12 tahun dan akan berakhir pada usia remaja akhir atau memasuki dewasa yaitu 24 tahun (Wong, et al., 2009). Remaja merupakan masa transisi dari anak-anak menuju dewasa yang ditandai dengan berbagai perubahan pada dirinya meliputi perubahan fisik, psikologi, perilaku, kognitif, moral, dan emosi. Pada usia remaja, pusat perhatian adalah bagaimana mendapatkan pengakuan atau status dari kelompok. Menjadi bagian dari sebuah kelompok dapat membantu remaja mengetahui perbedaan antara mereka dan orang tuanya. Remaja cenderung melakukan hal apa saja agar dapat dianggap dan diterima oleh kelompok sebayanya, mengubah penampilan, gaya dan menonjolkan diri masing-masing (Soetjiningsih, 2010).
 Orangtua dan seluruh anggota keluarga lainnya bertanggung jawab dalam menangani anak-anaknya yang sedang dalam tahap tumbuh kembang usia remaja, namun bukan hanya mereka tapi masyarakat  juga termasuk perawat spesialis komunitas memegang peranan penting untuk mengontrol dan memonitoring perilaku remaja. Peran perawat spsesialis komunitas yang dibutuhkan dalam menangani permasalahan ini adalah sebagai educator yang akan memberikan pendidikan dengan pendekatan health promotion dalam upaya mencegah timbulnya perilaku remaja yang menyimpang atau maladaptif.
Tujuan tugas anggota keluarga pada tahap perkembangan ini adalah untuk meningkatkan fleksibilitas dari batasan-batasan di dalam keluarga dengan memasukkan kebebasan anak berusia remaja dan memahami kelemahan orang yang lebih tua. Adapun rincian tugas dalam tahap ini yang pertama yaitu menerima adanya perubahan hubungan antara orang tua dengan anak, memberi pilihan  atau mengizinkan anak remaja untuk diam di rumah atau keluar. Tugas kedua adalah memfokuskan kembali kepada isu keluarga dan karir. Lalu yang terakhir adalah memulai perubahan ke depan dengan ikut terlibat dalam perawatan orang tua (Friedman, 2003).
Selain orang tua, perawat spesialis komunitas juga memiliki peranan penting dalam memberikan asuhan keperawatan di dalam keluarga. Proses keperawatan dimulai dari pengkajian untuk memperoleh data dan mengidentifikasi suatu masalah yang terjadi dalam sebuah keluarga. Dalam makalah ini, penulis akan memaparkan mengenai pengkajian struktural keluarga dengan menggunakan model pengkajian keluarga dengan menggunakan model dan konsep pengkajian Calgary atau yang sering dikenal dengan istilah The Calgary Family Assessment Model (CFAM), dan penulis mencoba menerapkan model pengkajian tersebut pada tahap perkembangan keluarga dengan remaja.

1.2         Rumusan Masalah
Model dan konsep pengkajian dalam keluarga sangat diperlukan untuk memulai proses asuhan keperawatan di dalam keluarga. Setelah data hasil pengkajian diperoleh oleh perawat, kemudian perawat spesialis komunitas dapat menegakkan suatu masalah yang terjadi di dalam keluarga lali kemudian dapat dianalisis dan diberikan intervensi sesuai fenomena yang terjadi di dalam keluarga. Model dan konsep pengkajian keluarga telah banyak dikembangkan oleh beberapa ahli. Dalam makalah ini akan dibahas tentang sebuah model pengkajian yaitu The Calgary Family Assessment Model (CFAM), yang akan diaplikasikan ddalam tahap perkembangan keluarga dengan remaja.

1.3         Tujuan Penulisan
Makalah ini bertujuan untuk memaparkan model dan konsep pengkajian keluarga  yaitu The Calgary Family Assessment Model (CFAM). Penulis mencoba memaparkan komponen-komponen yang terdapat dalam model pengkajian Calgary dan bagaimana model pengkajian ini menghasilkan sebuah data yang dapat diproses lebih lanjut oleh perawat spesialis komunitas.



Bab 2
TINJAUAN PUSTAKA

2.1         Model dan Konsep Pengkajian Calgary
The Calgary Family Assessment Model (CFAM) merupakan suatu model pengkajian keluarga terintegrasi yang bersifat menyeluruh, sistem kerangka kerja multidimensional, sibernetika, dan komunikatif. CFAM dikembangkan oleh Tom & Sanders (1983) sebagai kerangka pengkajian keluarga dan dikategorikan kedalam tiga kategori yaitu struktural, developmental dan fungsional. Tiap kategori tersebut terdiri atas beberapa subkategori (Levac, Wright, and Leahey, 2009).
Pengkajian struktural keluarga dalam tahap perkembangan dengan remaja dimulai dengan pengkajian struktur internal. Struktur internal terdiri atas enam (6) subkategori yaitu:
1.             Komposisi dalam keluarga (Family composition)
Jenis komposisi keluarga berbeda-beda pada tiap keluarga. Komposisi keluarga dapat terdiri atas keluarga inti (nuclear family), orang tua tunggal (single parent), keluarga tiri, keluarga lesbian, gay biseksual, queer (ambigu/aneh), intersexed, trangendered, atau twin-spirited (LGBQITT). Pertanyaan yang perlu diajukan perawat kepada remaja dan keluarga adalah: saya siapa saja yang ada di dalam keluarga, apakah ada orang lain yang tinggal dengan keluarga, dan kaji menurut keluarga adakah orang lain yang dianggap sebagai keluarga tapi tidak tinggal serumah sekarang, dan kaji adakah yang bukan anak atau saudara kandung di dalam keluarga.
2.             Jenis kelamin (Gender)
Pada subkategori gender, hal yang dikaji adalah pengenalan dan persepsi anggota keluarga mengenai peran jenis kelamin wanita dan laki-laki di dalam keluarga. Tiap anggota keluarga mampu menidentifikasi jenis kelamin masing-masing dan berpenampilan juga berperilaku sesuai jenis kelaminnya. Banyak kasus yang ditemukan pada remaja mereka mengalami penyimpangan akan gender ini. Pertanyaan perawat yang perlu dimunculkan adalah: bagaimana harapan anggota keluarga terhadap perilaku anggota keluarga berjenis kelamin laki-laki dan berjenis kelamin perempuan, pandangan keluarga pada feminitas dan maskulinitas. Kaji apakah ada masalah yang terjadi dalam penentuan jenis kelamin pada anggota keluarga.
3.             Sexual Orientation
Pada subkategori ini perawat mengkaji tentang orientasi seksual di dalam keluarga apakah  keluarga mengetahui tentang heteroseksual, homoseksual, LGBQITT. Mengingat bahwa masa remaja adalah masa yang berfokus pada peran teman sebaya (peer group), pada remaja perlu juga dikaji bagaimana pandangan remaja terhadap orientasi seksual LGBQITT dan apakah ada anggota keluarga yang berorientasi LGBITT, dan jika ada tanyakan lagi bagaimana reaksi penerimaan atau penolakan dari keluarga akan hal tersebut.
4.             Urutan/Posisi (Rank order)
Subkategori ini merujuk pada posisi anak dalam keluarga berdasarkan usia dan jenis kelamin. Pengkajian ini dilakukan untuk menggali relasi antar siblings dan bagaimana pengaruh posisi atau urutan anak dalam keluarga. Pada usia remaja, misalnya jika ada siblingnya yang mengalami kecacatan atau kelainan fisik maupun psikologis, maka hal ini akan mempengaruhi reputasi dan identitas dirinya dihadapan teman sebaya (peer). Perawat juga harus menanyakan riwayat keguguran yang dialami oleh ibu dalam keluarga itu.
5.             Subsystem
Tiap individu dalam sebuah keluarga memiliki beberapa subsistem yang berbeda. Seorang remaja berada pada subsistem anak dari orang tua mereka, sibling dari saudara kandungnya, dan sebagai anggota dari suatu perkumpulan dengan teman sebayanya. Hal yang perlu ditanyakan dalam keluarga adalah mengenai keterlibatan anggota keluarga pada kelompok atau subgroup tertentu, bagaimana pandangan anggota lain terhadap kelompok tersebut, kelompok mana yang paling berpengaruh pada remaja tersebut dan kaji apa pengaruhnya, diakhiri dengan pertanyaan apakah remaja tersebut memiliki masalah di dalam kelompok.
6.             Batasan keluarga (Boundaries)
Batasan keluarga merujuk pada peraturan-peraturan yang ada di dalam keluarga. Bagaimana keterlibatan remaja dalam keluarga, bagaimana sifat dari batasan yang dibuat dalam keluarga apakah fleksibel, kaku, permeable, terbuka atau tertutup. Tanyakan juga kepada remaja siapa yang biasa memberi perhatian dan perlindungan di dalam keluarga, kepada siapa biasanya remaja tersebut berbagi saat senang dan sedih.
(Levac, Wright, and Leahey, 2009).
Berdasarkan model CFAM, setelah pengkajian struktur internal selesai kemudian perawat melakukan pengkajian struktur eksternal yang meliputi:
1.             Keluarga Besar (Extended family)
Keluarga besar terdiri dari keluarga inti dan keluarga pembentuk atau pendukung lainnya. Levac, Wright, and Leahey (2009) merekomendasikan pengkajian terhadap seberapa sering dan bagaiman tipe kontak keluarga dengan keluarga besar untuk mencari informasi mengenai kualitas dan kuantitas dukungan yang diperoleh keluarga. Perawat perlu mengkaji apakah remaja tersebut masih memiliki kakek atau nenek dan dimana tempat tinggalnya, apakah remaja tersebut memiliki saudara tiri atau orang tua tiri, adakah anggota keluarga lain yang belum pernah dilihat oleh remaja sampai saat ini, dengan keluarga yang mana remaja tersebut punya hubungan dekat, apakah sering bertelepon. Siapa yang akan dimintai tolong jika ada masalah, apakah keluarga lainnya selalu sedia membantu jika dibutuhkan. Tanyakan jenis bantuan apa yang biasanya diminta dan apakah remaja tersebut bersedia membantu jika mereka meminta bantuannya.
2.             Sistem Lebih Luas (Larger System)
Subkategori ini mengacu pada  agen-agen sosial dan personal yang  memiliki hubungan berarti dalam  keluarga. Pertanyaan yang dapat diajukan perawat adalah mengenai siapa yang terlibat dalam pelayanan kesehatan keluarga, bagaimana hubungan antara keluarga dengan sistem yang lebih luas, apakah ada agen professional yang datang ke rumah (keluarga, perawat).
          Selanjutnya yang perlu dilakukan adalah pengkajian struktural konteks. Konteks menjelaskan keseluruhan kondisi atau latarbelakang yang berhubungan dengan individu di dalam keluarga. Misalnya pada remaja, konteks yang dapat mempengaruhinya adalah hubungan dengan teman sebaya, tetangga, hubungan di dalam kelas, agama dan Negara. Belakangan ini, adanya jaringan pertemanan menggunakan media sosial di kalangan remaja juga menjadi konteks yang perlu diperhatikan. Konteks meliputi lima (5) subkategori sebagai berikut.
1.             Etnis (Ethnicity)
Subkategori ini dimaksudkan untuk mencari tahu konsep kebangsaan yang dianut   oleh keluarga diantaranya yaitu  kombinasi dari kebudayaan, suku,   ras dan agama. Perawat perlu  mengetahui etnis apa yang dianut oleh keluarga, perbedaan nilai dan kepercayaan dalam keluarga, larangan dan anjuran yang berlaku bagi remaja sesuai budaya yang dianut. Perawat juga perlu mengkaji apakah keluarga mebentuk jaringan sosial dengan etnis yang sama dan apakah sesama etnis saling tolong-menolong.
2.             Ras (Race)
Perawat perlu mengkaji ras apa yang dianut oleh keluarga, apakah ada perbedaan antar keluarga dalam ras yang sama dalam menangani anak usia remaja.
3.             Kelas Sosial (Social Class)
Kelas sosial terbentuk berdasarkan keberhasilan tingkat pendidikan, jumlah pendapatan dan pemasukan yang diperoleh. Pada remaja tanyakan apakah remaja tersebut bersekolah ditempat yang kelas sosial ekonomi rendah atau tinggi. Tanyakan kepada keluarga apakah kelas sosial mempengaruhi keyakinan terhadap perawatan kesehatan, nilai, dan interaksi didalam keluarga, apakah penyakit yang diderita oleh anggota keluarga mempengaruhi masalah finansial keluarga. Tanya juga apakah keluarga sudah pernah pindah dalam 5 tahun terakhir, apakah dengan pindah memberi pengaruh baru terhadap keluarga. Kaji bagaimana kondisi keuangan mempengaruhi pelayanan kesehatan yang digunakan keluarga, apakah pekerjaan berdampak terhadap tingkat stress dalam keluarga.
4.             Agama dan Spiritual (Spirituality and/or Religion)
Kaji apa agama yang dianut oleh remaja di dalam keluarga apakah sama atau berbeda dengan orangtuanya, apakah remaja dan keluarga terlibat dalam kegiatan keagamaan tertentu, kepada siapa remaja dan anggota keluarga lainnya menceritakan masalah dalam mengatasi penyakit yang dialami, apakah keyakinan spiritual yang dianut memberikan motivasi untuk mengatasi masalah yang terjadi, apakah keluarga dan remaja menemukan cara lain, doa, keyakinan dan agama lain yang membantu dalam mengatasi masalah keluarga.
5.             Lingkungan (Environmental)
Perawat perlu mengkaji kondisi lingkungan rumah dengan membuat denah rumah. Pada tahap perkembangan keluarga dengan remaja, perlu dikaji bagaimana faktor lingkungan yang ada disekelilingnya misalnya tersedianya ruangan adekuat, privasi, dan penjangkauan akan sekolah, tempat rekreasi, kendaraan umum, layanan publik dan lainnya. Tanyakan layanan masyarakat apa yang digunakan oleh keluarga, adakah layanan masyarakat yang ingin diikuti tetapi tidak tahu bagaimana menjangkaunya. Kaji Apa yang membuat keluarga merasa lebih nyaman berada di lingkungan daripada diam di dalam rumah.

         
Daftar pustaka

Friedman,M.M., Bowden & Jones (2003). Family nursing: Research, theory, and
            practice (5th ed.).Connecticut: Appleton & Lange
Levac, Wright, and Leahey (2009). Nurses and Families: A Guide to Family
          Assessement and Intervention. 5th edition.Philadelphia: F.A. Davis
          Company
Soetjiningsih.(2010). Tumbuh kembang remaja dan permasalahannya. Jakarta:
Sagung Seto
Wong, Hockenberry, Wilson, Winkelstein, Schwartz. (2009). Buku Ajar
Keperawatan Pediatrik (ed. 6). Jakarta : EGC

TEORI DAN KONSEP MODEL KEPERAWATAN JIWA STRESS DAN ADAPTASI ROY



BAB I
PENDAHULUAN

a. Latar belakang
Seiring dengan bertambahnya waktu bertambah pula permasalahan masyarakat. Tuntutan yang semakin tinggi tidak diimbangi dengan pertambahan sumber daya. Munculnya berbagai masalah diantaranya masalah kejiwaan. Permasalahan kejiwaan muncul dari yang paling ringan sampai berat dan patologis. Berbagai macam disiplin ilmu berkembang untuk mempelajari tentang jiwa mulai dari tingkat individu sampai pada sebuah komunitas masyarakat. Keperawatan jiwa merupakan salah satu disiplin ilmu yang mempunyai peran signifikan dalam meningkatkan derajat kesehatan jiwa. Didalam keilmuan keperawatan jiwa digunakan beberapa macam konsep model keperawatan jiwa. Berbagai macam model konseptual dalam keperawatan jiwa memungkinkan perawat untuk memberikan asuhan keperawatan jiwa kepada pasien. Perawat perlu memahami konsep ini sebelum menerapkan asuhan keperawatan kepada pasien.  Dengan pemahaman berbagai macam konsep perawat dapat memilih sesuai dengan kondisi pasien. Salah satu konsep yang bisa dipakai sebagai acuan adalah konsep keperawatan stress dan adaptasi Roy. Makalah ini akan membahas konsep model keperawatan jiwa stress dan adaptasi Roy beserta analisisnya.

b. Tujuan Penulisan
Tujuan Penulisan makalah ini adalah memahami tentang teori konsep model keperawatan jiwa stress dan adaptasi Roy,kemudian menganalisa kelebihan dan kekurangan konsep tersebut.




BAB II
LANDASAN TEORI

Konsep model teori keperawatan stress dan adaptasi menurut Roy mendasarkan kerangka berpikir dalam sebuah sistem, termasuk manusia dipandang sebagai sistem adaptif. Tiap individu mempunyai keunikan tersendiri dalam menghadapi dan beradaptasi terhadap stress. Perawat mempunyai peran yang penting dalam menghadapi kesenjangan kemampuan tiap individu yang berbeda dalam merespon tuntutan lingkungan.

Garis Besar Konsep
Teori Adaptasi Roy mendasarkan pada tiga bagian besar.
1. Stimulus
Stimulus atau rangsangan terbagi menjadi dua berdasarkan asalnya yaitu eksternal dan internal. Kedua stimulus ini bisa mengenai individu secara sendiri-sendiri atau bersamaan. Sementara efek atau respon dari stimulus ini dapat diklasifikasikan menjadi 3 yaitu :
a. Fokal
Stimulus yang langsung mengenai individu dan bisa langsung bereaksi misalnya stimulus suhu dingin. Individu menghadapi dengan menggigil

b. Kontekstual
Stimulus yang mengenai individu baik internal maupun eksternal yang mempengaruhi perilaku. Karena mempengaruhi perilaku maka dapat diobservasi, dan secara subyektif dapat dilaporkan. Menimbulkan respon perilaku seperti isolasi sosial.

c. Residual
Stimulus ini mengenai individu dan respon yang muncul dari individu berangkat dari kepercayaan, sikap, pengalaman yang lalu. Karena merupakan sebuah kepercayaan sikap, dan pengalaman masa lalu agak sukar untuk diobservasi. Misalnya masa transisi kepindahan ke lingkungan baru. Pada beberapa individu bisa merespon dengan baik berdasarkan pengalaman belajar pada masa lalu, yang  hal ini pada individu yang lain tidak bisa segera merespon karena tidak mempunyai pengalaman masa lalu. Hal ini berkembang memberi proses belajar pada individu.


2. Sistem Adaptasi
    Terdiri atas dua subsistem yaitu :
a. Regulator
Subsistem regulator merespon stimulus berupa internal atau eksternal dengan menggunakan sistem yang ada pada tubuh individu yaitu sistem persarafan, sistem  endokrin. Tubuh merespon seperti refleks otonom yang merupakan respon sistem persarafan. Berbagai macam proses fisiologis yang muncul pada individu dapat dinilai sebagai perilaku regulator subsistem.

b. Kognator
Subsistem kognator juga merespon stimulus untuk dapat eksternal maupun internal. Subsistem kognator berhubungan dengan empat hal dalam kognitif emosional yaitu persepsi dan proses informasi, pembelajaran, proses pengambilan keputusan dan emosi. (Roy,2008) Persepsi dan pemrosesan informasi pada individu termasuk dalam aktifitas  pemusatan perhatian atau konsentrasi, pencatatan kemudian pemilahan dan mengingat. Pembelajaran dengan proses meniru, penguatan atau pemantapan dan perenungan yang mendalam adalah sebuah proses dalam aktifitas penyelesaian masalah dan pengambilan keputusan(Roy,2008). Sedang proses emosi dalam individu adalah merupakan proses pertahanan diri untuk membebaskan diri dari kecemasan,dengan menggunakan pendekatan atau penilaian dan penanganan berdasarkan perasaan.
Regulator maupun Cognator ini sangat mempengaruhi tingkatan adaptasi individu.

Dari berbagai macam tingkatan adaptasi individu inilah yang fungsi ilmu keperawatan untuk membantu individu untuk menerapkan model-model adaptasi. Model adaptasi ini bisa diterapkan satu atau beberapa model  sekaligus sesuai dengan problem adaptasi pada individu yang bersangkutan
Model adaptasi ada empat macam :
a. Fungsi fisiologis,
Komponen system adaptasi ini menyangkut adaptasi fisiologis pada tubuh individu diantaranya oksigenasi, nutrisi, eliminasi, aktivitas dan istirahat, integritas kulit, indera, cairan dan elektrolit, fungsi neurologis dan fungsi endokrin.



b. Konsep diri
Merupakan gabungan antara kepercayaan dan perasaan yang merupakan satu kesatuan yang terbentuk dari persepsi, pola-pola interaksi,reaksi sosial dalam berhubungan dengan orang lain seiring dengan perjalanan waktu.

c. Fungsi peran
Merupakan proses penyesuaian yang berhubungan dengan bagaimana seseorang harus memenuhi tugas, fungsi, statusnya dalam koridor atau aturan-aturan yang diharapkan dan berlaku di masyarakat.

d. Interdependent
Merupakan kemampuan seseorang dalam mencapai harmonisasi keseimbangan melalui hubungan secara interpersonal pada tingkat individu maupun kelompok secara timbal balik melalui proses saling mengenal, menghargai, menerima.

Model adaptasi ini merupakan acuan dalam melihat respon individu yang merupakan mekanisme koping atau adaptasinya. Mekanisme koping atau adaptasi ini berhubungan dengan tingkat kebutuhan yang dihadapi tiap individu

Perspektif Holistic
1. Dimensi fisik
a. Oksigenasi :
Merupakan kebutuhan tubuh terhadap oksigen dan berbagai macam prosesnya fisiologisnya seperti ventilasi, pertukaran oksigen dan transport oksigen keseluruh tubuh individu

b. Nutrisi :
Merupakan kebutuhan tubuh terhadap zat makanan dan berbagai macam proses fisiologisnya mulai dari proses pencernaan, penyerapan, pendistribusian zat makanan ke seluruh tubuh untuk mempertahankan fungsi organ tubuh, meningkatkan pertumbuhan dan mengganti jaringan yang rusak atau mati.



c. Eliminasi :
Merupakan fungsi tubuh untuk mengeluarkan hasil dan sisa metabolisme yang berasal dari sistem pencernaan maupun sistem perkemihan.

d. Aktivitas dan istirahat :
Selain berbagai fungsi tubuh diatas juga dibutuhkan keseimbangan antara aktivitas fisik dan istirahat yang berfungsi untuk mengoptimalkan fungsi fisiologis dalam memperbaiki dan memulihkan semua komponen-komponen tubuh yang rusak atau mati.

e. Cairan dan elektrolit. :
Selain keseimbangan aktivitas dan istirahat, mutlak diperlukan keseimbangan fisiologis tubuh yaitu cairan dan elektrolit. Di dalamnya termasuk keseimbangan air, elektrolit, asam basa dalam sel, diluar sel dan fungsi sistemik tubuh. Ketidakseimbangan  cairan dan elektrolit akan mengganggu fungsi sistem fisiologis tubuh.

2. Dimensi emosional
Dimensi emosional merupakan dimensi yang tidak bisa dipisahkan dari model konsep diri (Roy,1998) Dimensi emosional melibatkan perasaan dan persepsi. Pengalaman yang ada dan mempengaruhi konsep diri terbangun melalui/persepsi,peristiwa masa lalu dan berjalan sampai pada peristiwa saat ini. Berbagai pengalaman yang pernah dilalui indi vidu mempengaruhi adaptasinya secara emosional. Roy menjelaskan bahwa reaksi emosional yang muncul dapat berupa ungkapan secara verbal tentang ketakutan terhadap sesuatu, perhatian yang berlebihan atau kecemasan. Model konsep diri juga meliputi beberapa aspek seperti dimensi sosial dan intelektual

3. Dimensi intelektual
Dimensi intelektual ini menurut Roy meliputi memori atau ingatan, proses pengolahan sebuah informasi dan integritas atau kapasitas seseorang. Beban perasaan yang terlalu berat atau perasaan tidak berdaya dapat mempengaruhi fungsi intelektual. Tidak adaptifnya respon atau tanggapan perasaan individu dapat menjadikan individu  pada situasi ketidakseimbangan dan disorganisasi. Fungsi intelektual merupakan salah satu aspek atau bagian dari psikososial. Psikososial masuk ke dalam  subsistem kognator

4. Dimensi sosial
Dimensi sosial menitikberatkan pada faktor saling ketergantungan dan model peran fungsi. Pengalaman sosial yang dimiliki individu mencerminkan berbagai macam stimulus eksternal yang selama ini dialami individu. Roy menyimpulkan bahwa integritas sosial, mekanisme adaptasi individu dan adaptasi terhadap kelompok sebagai sebuah sistem. Interaksi dan hubungan antara faktor-faktor diatas mengembangkan dimensi sosial  individu untuk menyesuaikan atau beradaptasi dalam kultur sosial.

5. Dimensi spiritual
Didalam teori ini dimensi spiritual tidak dengan tegas dinyatakan sebagai komponen sebagaimana dimensi yang lain. Namun tidak dapat dipungkiri dimensi rohani atau spiritual merupakan kebutuhan bawaan setiap individu. Untuk menunjang keberhasilan adaptasi aspek personal, sosial  dan budaya dalam kehidupan individu perlu untuk dipenuhi

Aplikasi Klinik

Seorang pasien bernama Merry  umur 17 tahun dibawa ke ruang jiwa dari Instalasi Rawat Darurat setelah mencoba bunuh diri dengan minum baygon. Dia menyatakan punya pikiran untuk bunuh diri dengan minum baygon walaupun sebenarnya Merry tidak ingin mati.

Riwayat sebelumnya Merry  pernah kos bersama seorang teman. Selama kos dengan temannya Merry merasa tidak cocok karena beberapa hal. Kemudian Merry  pindah ke tempat kos yang lain,tetapi tetap tidak cocok dengan teman sekosan. Puncaknya ketika kos disuatu tempat Merry  sering kehilangan barang antara lain uang. Stressnya bertambah ketika kehilangan laptop yang berisi tugas kuliahnya. Ketika pulang ke rumah orang tuanya Merry  melaporkan kejadian yang menimpanya. Ketika orang tuanya memberikan sejumlah uang untuk mengganti uangnya dan laptopnya yang hilang Merry menolak. Dia beralasan hanya menghamburkan uang saja.

Pada saat Merry masuk ruang jiwa ibunya mengatakan sejak peristiwa tersebut Merry  merasa tertekan. Selama di rawat di ruang jiwa Merry sering merasa ketakutan dan ingin selalu didampingi ibunya. Sayang ibunya tidak bisa terus mendampingi dan hanya bisa meluangkan waktu sebentar saja karena harus bekerja. Setiap kali ditinggal ibunya Merry  seringkali mengatakan ingin pulang bertemu ibunya. 

Latar belakang keluarga Merry adalah pedagang keliling. Ayahnya jarang berada dirumah karena sering keluar kota untuk berdagang. Ibunya sering mengikuti suaminya untuk berdagang. Merry  adalah anak sulung dan mempunyai 3 orang adik yang semuanya masih bersekolah.

            Berdasarkan pendekatan Roy untuk kasus diatas perawat menetapkan data mengenai perawatan Merry dengan melakukan observasi perilaku pada tiap model adaptasi. Dari kasus ini perawat menguraikan dan membagi stimulus fokal,kontekstual, dan residual yang berpengaruh terhadap perilaku Merry.

Stimulus fokal : yang menuntut penanganan segera adalah keinginan Merry untuk bunuh diri.
Stimulus kontekstual menyangkut hubungan Merry dengan orang tuanya terutama ibu dan anggota keluarga yang lain, lebih luas lagi dengan lingkungan sosial yaitu teman.
Stimulus residual menyangkut rasa marah, ketidakberdayaan,selalu merasa tidak cocok sebagai respon dari tidak terpenuhinya keinginan dan kebutuhan.

Lebih lanjut peran perawat untuk meningkatkan status kesehatan Merry  membantu meningkatkan dan mendukung kemampuan adaptasi yang bersangkutan. Kemampuan adaptasi yang perlu ditingkatkan adalah hubungan sosial,saling membutuhkan dengan orang lain.

Dari tinjauan individu sebagai sistem yang holistik dimensi sosial dan emosional menjadi aspek yang berpengaruh dan diprioritaskan pada  perawatan Merry.

Model adaptasi konsep diri dan hubungan saling ketergantungan dengan orang lain merupakan perilaku utama atau respon yang mendasari mekanisme koping Merry dalam memenuhi kebutuhan dirinya.

Perawat membantu Merry untuk menemukan kebutuhan sebenarnya pada dirinya yaitu membangun konsep diri yang positif. Selanjutnya membantu pasien untuk mencapai keseimbangan antara kemandirian dan saling ketergantungan dengan orang lain.

Pengkajian stimulus pada pasien yang meliputi fokal,kontekstual, residual. Hasil pengkajian stimulus ini menentukan intervensi yang diberikan. Intervensi yang sudah ditentukan diarahkan pada stimulus yang mendasari tindakan keperawatan berdasarkan model adaptasi.

Tahapan proses keperawatan mulai dari pengkajian,analisa data, perencanaan,pelaksanaan dan evaluasi sangat menentukan kemajuan tingkat adaptasi pasien.


BAB III
PEMBAHASAN

a.  Analisis teori dan model yang dipilih
Model yang dipilih adalah model keperawatan stress dan adaptasi menurut Roy. Teori ini memandang individu sebagai sebuah sistem yang menyeluruh atau holistik. Sehingga dalam pengkajian pasien ditataran praktek klinik akan didapatkan data yang menyeluruh dari setiap sisi kehidupan pasien. Mulai dari dimensi fisik sampai dimensi spiritual.
Selanjutnya selain aspek individu pasien ditekankan juga aspek diluar pasien yaitu stimulus sebagai input kepada individu yang terdiri dari aspek yang bisa diobservasi langsung sampai kepada aspek yang harus digali lebih dalam yang melekat pada individu. Dari aspek stimuli ini bisa dilihat mulai dari rentang waktu pendek yaitu fokal sampai rentang waktu yang lebih panjang pada residual.
Input berupa stimulus ini kemudian menurut Roy masuk dalam proses adaptasi yang dibagi menjadi pengolahan stimulus secara fisik dan mental. Hasil pengolahan ini menentukan tingkat adaptasi tiap individu.
Output secara garis besar dapat dibagi empat model adaptasi individu mulai fisik sampai hubungan sosial dengan individu lain. Model adaptasi ini bisa kearah negatif atau positif.
Kelebihan dari teori ini memandang semua aspek mulai input proses dan output secara menyeluruh biopsikososial dan saling terkait satu dengan yang lainnya.
Kelemahan dari teori ini adalah hubungan timbal balik antara subsistem regulator dan kognator tidak dijelaskan secara tegas. Kemudian penjelasan untuk dimensi spiritual kurang luas dan jelas.

b. Masukan perbaikan untuk model dan konsep yang dipilih
Perlu penjelasan lebih jelas dan rinci hubungan subsistem regulator dan kognator
Penjelasan yang lebih luas dan jelas dimensi spiritual karena individu dipandang sebagai sistem yang holistik





BAB IV
PENUTUP

Secara ringkas dapat disimpulkan semua teori mempunyai kelemahan dan membutuhkan pengembangan sebagai dasar untuk praktek keperawatan. Penyusunan makalah ini merupakan aktifitas ilmiah dalam usaha untuk mengembangkan dan menyempurnakan teori ada dan model konseptual yang sudah terlebih dulu ada.
Semua teori ilmu perawatan jiwa yang sudah ada tetap dipraktekkan di tataran praktik dengan menyesuaikan kondisi, kekuatan, kelebihan maupun kelemahannya masing-masing dengan tetap mengembangkan riset keilmuan.

 

DAFTAR PUSTAKA

Roy,Sister Callista. (2008) The Roy Adaption Model 3rd ed. New Jersey: Pearson
Stuart, G.W.,and Laraia, M.T (2005) Principles and Practice of Psychiatric Nursing.(8thed.) St Louis: Mosby Year Book.
Varcarolis,E.M. (1998) Foundations of Psychiatric Mental Health Nursing. 3rd ed Philadelphia: W.B Saunders Company.