ASUHAN KEPERAWATAN HEPATOMA


 Pengertian
Tumor ganas primer pada hati yang berasal dari sel parenkim atau epitel saluran empedu atau metastase dari tumor jaringan lainnya.

Hepatoma (Karsinoma Hepatoseluler) adalah kanker yang berasal dari sel-sel hati. Hepatoma merupakan kanker hati primer yang paling sering ditemukan.

Etiologi
   1. Virus Hepatitis B dan Virus Hepatitis C
   2. Bahan-bahan Hepatokarsinogenik :
  1. Aflatoksin
  2. Alkohol
  3. Penggunaan steroid Anabolic
  4. Penggunaan androgen yang berlebihan
  5. Bahan kontrasepsi / oral
  6. Penimbunan zat besi yang berlebihan dalam hati (Hemochromatosis)

Patofisiologi
   1. yang disebabkan oleh alkoholik dan postnekrotik.
   2. Pedoman diagnostik yang paling penting adalah terjadinya kerusakan yang tidak dapat dijelaskan sebabnya. Pada penderita sirosis hati yang disertai pembesaran hati mendadak.
   3. Tumor hati yang paling sering adalah metastase tumor ganas dari tempat lain. Matastase ke hati dapat terdeteksi pada lebih dari 50 % kematian akibat kanker. Hal ini benar, khususnya untuk keganasan pada saluran pencernaan, tetapi banyak tumor lain juga memperlihatkan kecenderungan untuk bermestatase ke hati, misalnya kanker payudara, paru-paru, uterus, dan pankreas.
   4. Diagnosa sulit ditentukan, sebab tumor biasanya tidak diketahui sampai penyebaran tumor yang luas, sehingga tidak dapat dilakukan reseksi lokal lagi.

Manifestasi Klinis
Biasanya gejala awal hepatoma adalah nyeri perut, penurunan berat badan dan terdapatnya suatu masssa yang besar, yang dapat dirasakan/diraba di perut kanan bagian atas.

Penderita yang sebelumnya menderita sirosis menahun, akan tampak sangat sakit. Pada umumnya terdapat demam. Kadang gejala awalnya berupa nyeri perut akut dan syok, yang disebabkan olehpecahnya tumor atau perdarahan pada tumor

Penatalaksanaan
Pengobatan tergantung dari saat diagnosa ditegakkan.
   1. Fase dini : Dimana pembedahan adalah pilihan utama yaitu reseksi segmen atau lobus hati
   2. Pemberian kemoterapi secara infus
   3. Penyinaran .

Asuhan Keperawatan
Pengkajian (Gejala Klinik)
Fase dini : Asimtomatik.
Fase lanjut :Tidak dikenal simtom yang patognomonik.
Keluhan berupa nyeri abdomen, kelemahan dan penurunan berat badan, anoreksia, rasa penuh setelah makan terkadang disertai muntah dan mual. Bila ada metastasis ke tulang penderita mengeluh nyeri tulang. Pada pemeriksaan fisik bisa didapatkan
   1. Ascites
   2. Ikterus
   3. Hipoalbuminemia
   4. Splenomegali, Spider nevi, Eritoma palmaris, Edema.

Secara umum pengkajian Keperawatan pada klien dengan kasus kanker hati, meliputi:
   1. Gangguan metabolisme
   2. Perdarahan
   3. Asites
   4. Edema
   5. Hipoproteinemia
   6. Jaundice/icterus
   7. Komplikasi endokrin
   8. Aktivitas terganggu akibat pengobatan

Diagnosa Keperawatan

Tidak seimbangan nutrisi berhubungan dengan anoreksia, mual, gangguan absorbsi, metabolisme vitamin di hati.
Intervensi :
   1. Pantau masukan makanan setiap hari, beri pasein buku harian tentang makanan sesuai indikasi
   2. Dorong pasien utk makan deit tinggi kalori kaya protein dg masukan cairan adekuat. Dorong penggunaan suplemen dan makanan sering / lebih sedikit yg dibagi bagi selama sehari.
   3. Berikan antiemetik pada jadwal reguler sebelum / selama dan setelah pemberian agent antineoplastik yang sesuai

Nyeri berhubungan dengan tegangnya dinding perut ( asites )
Intervensi :
   1. Tentukan riwayat nyeri misalnya lokasi , frekwensi, durasi dan intensitas ( 0-10 ) dan tindakan penghilang rasa nyeri misalkan berikan posisi yang duduk tengkurap dengan dialas bantal pada daerah antara perut dan dada.
   2. Berikan tindakan kenyamanan dasar misalnya reposisi, gosok punggung.
   3. kaji tingkat nyeri / kontrol nilai
   4. Intoleransi aktivitas b.d ketidak seimbangan antara suplai O2 dengan kebutuhan

Intoleransi aktivitas b.d ketidak seimbangan antara suplai O2 dengan kebutuhan
Intervensi :
   1. dorong pasein untuk melakukan apa saja bila mungkin, misalnya mandi, bangun dari kursi/ tempat tidur, berjalan. Tingkatkan aktivitas sesuai kemampuan.
   2. pantau respon fisiologi terhadap aktivitas misalnya; perubahan pada TD/ frekuensi jantung / pernapasan.
   3. beri oksigen sesuai indikasi

Resiko terjadinya gangguan integritas kulit berhubungan dengan pruritus, edema dan asites
Intervensi :
   1. Kaji kulit terhadap efek samping terapi kanker. Perhatikan kerusakan atau perlambatan penyembuhan .
   2. Mandikan dengan air hangat dan sabun
   3. Dorong pasien untuk menghindari menggaruk dan menepuk kulit yang kering dari pada menggaruk.
   4. Balikkan / ubah posisi dengan sering
   5. Anjurkan pasein untuk menghindari krim kulit apapun ,salep dan bedak kecuali seijin dokter.


                                         Bisnis Online Klik Disini 
                                www.perfectbisnis.com

ASUHAN KEPERAWATAN TONSILITIS


A.Pengertian
Tonsilitis merupakan peradangan pada tonsil yang disebabkan oleh bakteri atau kuman streptococcusi beta hemolyticus, streptococcus viridans dan streptococcus pyogenes dapat juga disebabkan oleh virus, pada tonsilitis ada dua yaitu :
1.      Tonsilitis Akut dan
  1. Tonsilitis Kronik

B.Etiologi
Disebabkan oleh kuman streptococcus beta hemolyticus, streptococcus viridans dan streptococcus pyogenes yang menjadi penyebab terbanyak dapat juga disebabkan oleh virus. Faktor predisposisi adanya rangsangan kronik (rokok, makanan), pengaruh cuaca, pengobatan radang akut yang tidak adekuat dan higiene, mulut yang buruk.

C.Patofisiologi
Penyebab terserang tonsilitis akut adalah streptokokus beta hemolitikus grup A. Bakteri lain yang juga dapat menyebabkan tonsilitis akut adalah Haemophilus influenza dan bakteri dari golongan pneumokokus dan stafilokokus. Virus juga kadang – kadang ditemukan sebagai penyebab tonsilitis akut.
1.Pada Tonsilitis Akut
Penularan terjadi melalui droplet dimana kuman menginfiltrasi lapisan Epitel kemudian bila Epitel ini terkikis maka jaringan Umfold superkistal bereaksi dimana terjadi pembendungan radang dengan infiltrasi leukosit polimorfo nuklear.
2.Pada Tonsilitif Kronik
Terjadi karena proses radang berulang maka Epitel mukosa dan jaringan limpold terkikis, sehingga pada proses penyembuhan jaringan limpold, diganti oleh jaringan parut. Jaringan ini akan mengerut sehingga ruang antara kelompok melebar (kriptus) yang akan di isi oleh detritus proses ini meluas hingga menembus kapsul dan akhirnya timbul purlengtan dengan jaringan sekitar fosa tonsilaris.
Jadi tonsil meradang dan membengkak, terdapat bercak abu – abu atau kekuningan pada permukaannya, dan jika berkumpul maka terbentuklah membran. Bercak – bercak tersebut sesungguhnya adalah penumpukan leukosit, sel epitel yang mati, juga kuman – kuman baik yang hidup maupun yang sudah mati.

D. Manisfestasi Klinis
Keluhan pasien biasanya berupa nyeri tenggorokan, sakit menelan, dan kadang – kadang pasien tidak mau minum atau makan lewat mulut. Penderita tampak loyo dan mengeluh sakit pada otot dan persendian. Biasanya disertai demam tinggi dan napas yang berbau, yaitu :

• Suhu tubuh naik sampai 40 oC.
• Rasa gatal atau kering ditenggorokan.
• Lesu.
• Nyeri sendi, odinofagia.
• Anoreksia dan otolgia.
• Bila laring terkena suara akan menjadi serak.
• Tonsil membengkak.
• Pernapasan berbau.


E. Komplikasi
• Otitis media akut.
• Abses parafaring.
• Abses peritonsil.
• Bronkitis,
• Nefritis akut, artritis, miokarditis.
• Dermatitis.
• Pruritis.
• Furunkulosis.

F. Pemeriksaan Penunjang
• Kultur dan uji resistensi bila perlu.
• Kultur dan uji resistensi kuman dari sediaan apus tonsil.
G. Penatalaksanaan Medis
Sebaiknya pasien tirah baring. Cairan harus diberikan dalam jumlah yang cukup, serta makan – makanan yang berisi namun tidak terlalu padat dan merangsang tenggorokan. Analgetik diberikan untuk menurunkan demam dan mengurangi sakit kepala. Di pasaran banyak beredar analgetik (parasetamol) yang sudah dikombinasikan dengan kofein, yang berfungsi untuk menyegarkan badan.
Jika penyebab tonsilitis adalah bakteri maka antibiotik harus diberikan. Obat pilihan adalah penisilin. Kadang – kadang juga digunakan eritromisin. Idealnya, jenis antibiotik yang diberikan sesuai dengan hasil biakan. Antibiotik diberikan antara 5 sampai 10 hari.
Jika melalui biakan diketahui bahwa sumber infeksi adalah Streptokokus beta hemolitkus grup A, terapi antibiotik harus digenapkan 10 hari untuk mencegah kemungkinan komplikasi nefritis dan penyakit jantung rematik. Kadang – kadang dibutuhkan suntikan benzatin penisilin 1,2 juta unit intramuskuler jika diperkirakan pengobatan orang tidak adekuat.
  1. Terapi obat lokal untuk hegiene mulut dengan obat kumur atau obat isap.
  2. Antibiotik golongan penisilin atau sulfonamida selama 5 hari.
  3. Antipiretik.
  4. Obat kumur atau obat isap dengan desinfektan.
  5. Bila alergi pada penisilin dapat diberikan eritromisin atau klindamigin

H. Fokus Pengkajian
1. keluhan utama
sakit tenggorokan, nyeri telan, demam dll
2. riwayat penyakit sekarang : serangan, karakteristik, insiden, perkembangan, efek terapi
3. riwayat kesehatan lalu
• riwayat kelahiran
• riwayat imunisasi
• penyakit yang pernah diderita ( faringitis berulang, ISPA, otitis media )
• riwayat hospitalisasi
4. pengkajian umum
usia, tingkat kesadaran, antopometri, tanda – tanda vital dll
5. pernafasan
kesulitan bernafas, batuk
ukuran besarnya tonsil dinyatakan dengan :
• T0 : bila sudah dioperasi
• T1 : ukuran yang normal ada
• T2 : pembesaran tonsil tidak sampai garis tengah
• T3 : pembesaran mencapai garis tengah
• T4 : pembesaran melewati garis tengah
6. nutrisi
sakit tenggorokan, nyeri telan, nafsu makan menurun, menolak makan dan minum, turgor kurang
7. aktifitas / istirahat
anak tampak lemah, letargi, iritabel, malaise
8. keamanan / kenyamanan
kecemasan anak terhadap hospitalisasi

I. Diagnosa Keperawatan
Diagnosa keperawatan yang mungkin muncul pada tonsilitis akut adalah :
1. hipertermi berhubungan dengan proses inflamasi pada faring dan tonsil
2. nyeri berhubungan dengan pembengkakan pada tonsil
3. resiko perubahan status nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan adanya anoreksia
4. intoleransi aktifitas berhubungan dengan kelemahan
5. gangguan persepsi sensori : pendengaran berhubungan dengan adanya obstruksi pada tuba eustakii

J. Fokus Intervensi
1. DP : hipertermi berhubungan dengan proses inflamasi pada tonsil
Intervensi :
• Pantau suhu tubuh anak ( derajat dan pola ), perhatikan menggigil atau tidak
• Pantau suhu lingkungan
• Batasi penggunaan linen, pakaian yang dikenakan klien
• Berikan kompres hangat
• Berikan cairan yang banyak ( 1500 – 2000 cc/hari )
• Kolaborasi pemberian antipiretik

2. DP : nyeri berhubungan dengan pembengkakan pada tonsil
Intervensi :
• Pantau nyeri klien(skala, intensitas, kedalaman, frekuensi )
• Kaji TTV
• Berikan posisi yang nyaman
• Berikan tehnik relaksasi dengan tarik nafas panjang melalui hidung dan mengeluarkannya pelan – pelan melalui mulut
• Berikan tehnik distraksi untuk mengalihkan perhatian anak
• Kolaborasi pemberian analgetik

3. DP : resiko perubahan status nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan adanya anoreksia
Intervensi :
• Kaji conjungtiva, sclera, turgor kulit
• Timbang BB tiap hari
• Berikan makanan dalam keadaan hangat
• Berikan makanan dalam porsi sedikit tapi seringsajikan makanan dalam bentuk yang menarik
• Tingkatkan kenyamanan lingkungan saat makan
• Kolaborasi pemberian vitamin penambah nafsu makan

4. DP : intoleransi aktifitas berhubungan dengan kelemahan
Intervensi :
• Kaji kemampuan klien dalam melakukan aktifitas
• Observasi adanya kelelahan dalam melakukan aktifitas
• Monitor TTV sebelum, selama dan sesudah melakukan aktifitas
• Berikan lingkungan yang tenang
• Tingkatkan aktifitas sesuai toleransi klien

5. DP : gangguan persepsi sensori : pendengaran berhubungan dengan adanya obstruksi pada tuba eustakii
Intervensi :
• Kaji ulang gangguan pendengaran yang dialami klien
• Lakukan irigasi telinga
• Berbicaralah dengan jelas dan pelan
• Gunakan papan tulis / kertas untuk berkomunikasi jika terdapat kesulitan dalam berkomunikasi
• Kolaborasi pemeriksaan audiometri
• Kolaborasi pemberian tetes telinga



Ayo Berbisnis Online disini:

ASUHAN KEPERAWATAN TETRALOGI OF FALLOT


BAB I
PENDAHULUAN

A.     Latar Belakang
Tetralogi fallot (TF) merupakan penyakit jantung sianotik yang paling banyak ditemukan dimana tetralogi fallot menempati urutan keempat penyakit jantung bawaan pada anak setelah defek septum ventrikel,defek septum atrium dan duktus arteriosus persisten,atau lebih kurang 10-15 % dari seluruh penyakit jantung bawaan, diantara penyakit jantung bawaan sianotik Tetralogi fallot merupakan 2/3 nya. Tetralogi fallot merupakan penyakit jantung bawaan yang paling sering ditemukan yang ditandai dengan sianosis sentral  akibat adanya pirau kanan ke kiri.

Di RSU Dr. Soetomo sebagian besar pasien Tetralogi fallot  didapat diatas 5 tahun  dan prevalensi menurun setelah berumur  10 tahun. Dari banyaknya kasus kelainan jantung  serta kegawatan yang ditimbulkan akibat kelainan jantung bawaan ini, maka sebagai seorang perawat dituntut untuk mampu mengenali tanda kegawatan dan mampu memberikan asuhan keperawatan  yang tepat.  

B.  Tujuan
  1. Mengetahui Asuhan Keperawatan Anak atau Bayi dengan TOF
  2. Mengetahui penatalaksanaan Anak atau Bayi dengan TOF
  3. Mengetahui cara pemeriksaan fisik Anak atau Bayi dengan TOF
  4. Mengetahui pemeriksaan tambahan dan penunjang pada Anak atau Bayi dengan TOF





BAB II
TINJAUAN TEORITIS

A. KONSEP DASAR
1.      Pengertian
         Tetralogi fallot (TF) adalah kelainan jantung dengan gangguan sianosis yang ditandai dengan kombinasi 4 hal yang abnormal meliputi defek septum ventrikel, stenosis pulmonal, overriding aorta, dan hipertrofi ventrikel kanan.
        
          Komponen yang paling penting dalam menentukan derajat beratnya penyakit adalah stenosis  pulmonal dari sangat ringan sampai berat. Stenosis pulmonal bersifat progresif , makin lama makin berat.

2.      Etiologi
Pada sebagian besar kasus, penyebab penyakit jantung bawaan tidak diketahui secara pasti. diduga karena adanya faktor endogen dan eksogen. Faktor –faktor tersebut antara lain :
Faktor endogen
  -Berbagai jenis penyakit genetik : kelainan kromosom 
  -Anak yang lahir sebelumnya menderita  penyakit jantung bawaan
-Adanya  penyakit tertentu dalam keluarga seperti  diabetes melitus, hipertensi,  penyakit jantung  atau kelainan bawaan

Faktor eksogen
-Riwayat  kehamilan  ibu  : sebelumnya  ikut program KB oral atau suntik,minum obat-obatan tanpa resep dokter, (thalidmide, dextroamphetamine. aminopterin, amethopterin,  jamu)
-Ibu menderita penyakit infeksi :  rubella
-Pajanan terhadap sinar -X
        
    Para ahli berpendapat bahwa penyebab endogen dan eksogen  tersebut jarang terpisah menyebabkan penyakit jantung bawaan. Diperkirakan lebih dari 90% kasus penyebab adaah  multifaktor. Apapun sebabnya, pajanan terhadap faktor penyebab harus ada sebelum akhir bulan kedua kehamilan , oleh karena pada minggu ke delapan kehamilan pembentukan jantung janin sudah selesai. 

3. Patofisiologi

¨            Pada RVOTO ringan-sedang; awalnya shunt left to right (Pink TOF), 1-2 thn kemudian akan sianotik (R to L)
¨            Klasik TOF: RVOTO severe, PA kecil. Tekanan systole sama pada RV, LV, aorta.
¨            Adanya RVOTO à shunt right to left melalui VSD
¨            Adanya VSD besar pada TOF akan menyebabkan tekanan yang sama pada LV dan RV. Sedangkan rasio aliran darah yang mengalir ke sistemik atau pulmonal (Qp/Qs) ditentukan oleh resistensi pulmonal (PS) dan SVR.  Bila dianggap rvoto tetap maka besarnya shunt ditentukan oleh resistensi sistemik. SVR¯ maka R to L shunt ­ dan sianosis­.
¨            Takikardia dan hipovolemia berat akan menyebabkan R to L shunt ­
¨            Murmur yang terjadi adalah krn PS; intensitas dan lamanya tergantung jumlah darah yg lewat P. valve. Atau berbanding terbalik dengan derajat stenosis.
¨            TOF tidak menyebabkan CHF pada infant.
4. Manifestasi Klinis
  • Riwayat sesak, squatting, atau spell. FTT (+)
  • Murmur terdengar sejak lahir, umumnya sianotik sejak lahir.
  • Pasien TOF dg PA akan sianotik berat sejak lahir.
  • Terdapat tanda sianotik, takipneu, dan clubbing
  • Tap denyut RV, thrill sistolik pada pinggir sternum kiri
·   Murmur ejeksi sistolik (Gr 3-5/6) pd pinggir sternum kiri
EKG : RAD (+120 sampai +150) pada sianotik TOF. QRS axis pada pink TOF biasanya normal. RVH (+)
Rö :
·   Ukuran jantung normal, dan PVM menurun.
·   Gambaran "boot-shaped" (concave MPA segment)
·   RAE (25%) dan right-aortic arch (25%)
·   Gambaran radiologis pink tet tidak dapat dibedakan dengan kelainan VSD, hanya beda pada kecenderungan RVH dibanding LVH
Ekokardiograficardiography
·   VSD dan overriding aorta diperiksa melalui parasternal long-axis
·   Anatomi RVOT sampai cabangnya melalui parasternal short-axis
Perjalanan
·   Pasien akan makin sianosis (termasuk pink tet), oleh karena perburukan RVOTO dan polisitemia
·   Terjadi polisitemia, clubbing
·   Dapat terjadi spell hipoksik pada bayi/anak
·   Terjadi FTT dan growth retardation
·   Komplikasi abses otak dan cerebrovascular accident, dan SBE jarang terjadi.
·   Dapat terjadi anemia defisiensi besi dan koagulopati sbg komplikasi sianosis lama
5. Pemeriksaan diagnostik
Pemeriksaan laboratorium
Ditemukan  adanya peningkatan hemoglobin dan hematokrit (Ht) akibat saturasi oksigen yang rendah. Pada umumnya hemoglobin dipertahankan 16-18 gr/dl dan hematokrit antara 50-65 %. Nilai BGA  menunjukkan peningkatan tekanan partial karbondioksida (PCO2), penurunan tekanan parsial oksigen (PO2) dan penurunan PH.pasien dengan Hn dan Ht normal atau rendah  mungkin menderita defisiensi besi.

Radiologi
Sinar  X pada thoraks menunjukkan penurunan aliran darah pulmonal, tidak ada pembesaran jantung . gambaran khas jantung tampak apeks jantung terangkat sehingga seperti sepatu.

Elektrokardiogram
Pada EKG sumbu QRS hampir selalu berdeviasi ke kanan. Tampak pula hipertrofi ventrikel kanan. Pada anak besar dijumpai P pulmonal

Ekokardiografi
Memperlihatkan  dilatasi aorta, overriding aorta dengan dilatasi ventrikel kanan,penurunan ukuran arteri pulmonalis & penurunan aliran darah ke paru-paru

Kateterisasi
Diperlukan sebelum tindakan pembedahan  untuk mengetahui defek septum ventrikel multiple, mendeteksi kelainan arteri koronari dan mendeteksi stenosis pulmonal perifer. Mendeteksi adanya penurunan saturasi oksigen, peningkatan tekanan ventrikel kanan, dengan tekanan pulmonalis normal atau rendah.

6. Penatalaksanaan
a.        Pada penderita yang mengalami serangan sianosis maka  terapi ditujukan untuk memutus patofisiologi serangan tersebut, antara lain dengan cara :
b.        Posisi lutut ke dada agar aliran darah ke paru bertambah
c.        Morphine  sulfat 0,1-0,2 mg/kg SC, IM atau Iv untuk menekan pusat pernafasan dan mengatasi takipneu.
d.       Bikarbonas natrikus 1 Meq/kg BB  IV untuk mengatasi asidosis
e.        Oksigen dapat diberikan, walaupun pemberian disini tidak begitu tepat karena permasalahan bukan karena kekuranganoksigen, tetapi karena aliran darah ke paru menurun. Dengan usaha diatas diharapkan anak tidak lagi takipnea, sianosis berkurang dan anak menjadi tenang. Bila hal ini tidak terjadi dapat dilanjutkan dengan pemberian :
f.         Propanolol l 0,01-0,25 mg/kg IV perlahan-lahan untuk menurunkan denyut jantung sehingga seranga dapat diatasi. Dosis total dilarutkan dengan 10 ml cairan dalam spuit, dosis awal/bolus diberikan separohnya, bila serangan belum teratasi sisanya diberikan perlahan dalam 5-10 menit berikutnya.
g.        Ketamin 1-3 mg/kg (rata-rata 2,2 mg/kg) IV perlahan. Obat ini bekerja meningkatkan resistensi vaskuler sistemik dan juga sedative
h.        penambahan volume cairan tubuh dengan infus cairan dapat efektif dalam penganan serangan sianotik. Penambahan volume darah juga dapat meningkatkan curah jantung, sehingga aliran darah ke paru  bertambah dan aliran darah sistemik membawa oksigen ke seluruh tubuh juga meningkat.
i.          Propanolol oral 2-4 mg/kg/hari dapat digunakan untuk serangan sianotik
j.          Bila ada defisiensi zat besi segera diatasi
k.        Hindari dehidrasi

7. Komplikasi
¨                              Trombosis pulmonal
¨                              CVA trombosis
¨                              Abses otak
¨                              Perdarahan
¨                              Anemia relatif

B. Proses keperawatan
1.      Pengkajian keperawatan
¨      Riwayat kehamilan : ditanyakan sesuai dengan yang terdapat pada etiologi (faktor endogen dan eksogen yang mempengaruhi).
¨      Riwayat  tumbuh : Biasanya anak cendrung mengalami keterlambatan pertumbuhan karena fatiq selama makan dan peningkatan kebutuhan kalori sebagai akibat dari kondisi penyakit.
¨      Riwayat psikososial/ perkembangan
¨      Kemungkinan mengalami masalah perkembangan
¨      Mekanisme koping anak/ keluarga
¨      Pengalaman hospitalisasi sebelumnya
¨      Pemeriksaan fisik
¨      Pada awal bayi baru lahir biasanya belum ditemukan sianotik,bayi tampak biru setelah tumbuh.
¨      Clubbing finger tampak setelah usia 6 bulan.
¨      Serang sianotik mendadak (blue spells/cyanotic spells/paroxysmal hiperpnea,hypoxic spells) ditandai dengan dyspnea, napas cepat dan dalam,lemas,kejang,sinkop bahkan sampai koma dan kematian.
¨      Anak akan sering Squatting (jongkok) setelah anak dapat berjalan, setelah berjalan beberapa lama anak akan berjongkok dalam beberapa waktu sebelum ia berjalan kembali.
¨      Pada auskultasi terdengar bising sistolik yang keras didaerah pulmonal yang semakin melemah dengan bertambahnya derajat obstruksi
¨      Bunyi jantung  I normal. Sedang bunyi jantung II tunggal dan keras.
¨      Bentuk dada bayi masih normal, namun pada anak yang lebih besar tampak menonjol akibat pelebaran ventrikel kanan
¨      Ginggiva hipertrofi,gigi sianotik
¨      Pengetahuan  anak dan keluarga :
a.       Pemahaman  tentang diagnosis.
b.      Pengetahuan/penerimaan terhadap prognosis
c.       Regimen pengobatan
d.      Rencana perawatan ke depan
e.       Kesiapan dan kemauan untuk belajar

2. Diagnosa.
¨      Gangguan pertukaran gas  b.d  penurunan alian darah ke pulmonal
¨      Penurunan kardiak output b.d sirkulasi yang tidak efektif sekunder dengan adanya malformasi jantung
¨      Gangguan  perfusi jaringan b.d penurunan sirkulasi (anoxia kronis , serangan sianotik akut)
¨      Gangguan  nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh b.d fatiq selama makan dan peningkatan kebutuhan kalori,penurunan nafsu makan
¨      Gangguan  pertumbuhan dan perkembangan b.d tidak adekuatnya suplai oksigen dan zat nutrisi ke jaringan
¨      Intoleransi  aktifitas b.d ketidakseimbangan suplai dan kebutuhan oksigen
¨      Koping keluarga  tidak efektif b.d kurang pengetahuan klg tentang diagnosis/prognosis penyakit anak


3. Intervensi
Penurunan kardiac output b.d sirkulasi yang tidak efektif sekunder dengan adanya malformasi jantung
Tujuan :
¨          Anak dapat mempertahankan kardiak output yang adekuat.
Kriteria hasil
¨      Tanda-tanda vital normal sesuai umur 
¨      Tidak ada : dyspnea, napas cepat dan dalam,sianosis, gelisah/letargi , takikardi, mur-mur
¨      Pasien komposmentis
¨      Akral hangat
¨      Pulsasi perifer kuat dan sama pada kedua ekstremitas
¨      Capilary refill time < 3 detik
¨      Urin output 1-2 ml/kgBB/jam

Intervensi:
¨      Monitor tanda vital,pulsasi perifer,kapilari refill dengan membandingkan pengukuran pada kedua ekstremitas dengan posisi berdiri, duduk dan tiduran jika memungkinkan
¨      Kaji dan catat denyut apikal  selama 1 menit  penuh
¨      Observasi adanya serangan sianotik
¨      Berikan posisi knee-chest pada anak
¨      Observasi adanya tanda-tanda  penurunan sensori : letargi,bingung dan disorientasi
¨      Monitor intake dan output secara adekuat
¨      Sediakan waktu istirahat yang cukup bagi anak dan dampingi anak pada saat melakukan aktivitas
¨      Sajikan makanan yang mudah di cerna dan kurangi konsumsi kafeine.
¨      Kolaborasi dalam: pemeriksaan serial ECG, foto thorax, pemberian obat-obatan anti disritmia
¨      Kolaborasi pemberian oksigen
¨      Kolaborasi pemberian cairan tubuh melalui infus


Intoleransi aktivitas b.d ketidakseimbangan antara suplai dan kebutuhan oksigen
Tujuan: Anak menunjukan peningkatan kemampuan dalam melakukan aktivitas (tekanan darah, nadi, irama dalam batas normal) tidak adanya angina.
Kriteria hasil :
¨      Tanda vital normal sesuai umur
¨      Anak mau berpartisipasi dalam setiap kegiatan yang dijadwalkan
¨      Anak mencapai peningkatan toleransi aktivitas sesuai umur
¨      Fatiq dan kelemahan berkurang
¨      Anak dapat tidur dengan lelap

Intervensi
¨      Catat irama jantung, tekanan darah dan nadi sebelum, selama dan sesudah melakukan aktivitas.
¨                                                                                                                                                                                                           Anjurkan pada pasien agar lebih banyak beristirahat terlebih dahulu.
¨                                                                                                                                                                                                           Anjurkan pada pasien agar tidak “ngeden” pada saat buang air besar.
¨      Jelaskan pada pasien tentang tahap- tahap aktivitas yang boleh dilakukan oleh pasien.
¨      Tunjukan pada pasien tanda-tanda fisik bahwa aktivitas melebihi batas
¨      Bantu anak dalam memenuhi kebutuhan ADL dan dukung kearah kemandirian anak sesui dengan indikasi
¨      Jadwalkan aktivitas  sesuai dengan usia, kondisi dan kemampuan anak.

Gangguan  nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh b.d fatiq selama makan dan peningkatan kebutuhan kalori,penurunan nafsu makan
Tujuan :  anak dapat makan secara adekuat dan cairan dapat dipertahankan sesuai dengan berat badan normal dan pertumbuhan normal.
Kriteria hasil :
¨      Anak menunjukkan penambahan BB sesuai dengan umur
¨      Peningkatan toleransi makan.
¨      Anak dapat menghabiskan porsi makan yang disediakan
¨      Hasil lab tidak menunjukkan tanda malnutrisi. Albumin,Hb
¨      Mual muntah tidak ada
¨      Anemia tidak ada.

Intervensi :
¨      Timbang berat badan anak setiap pagi tanpa diaper pada alat ukur yang sama, pada waktu yang sama dan dokumentasikan.
¨      Catat intake dan output secara akurat
¨      Berikan makan sedikit tapi sering untuk mengurangi kelemahan disesuaikan dengan aktivitas selama makan ( menggunakan terapi bermain)
¨      Berikan perawatan  mulut untuk meningktakan nafsu makan anak
¨      Berikan posisi jongkok bila terjadi sianosis pada saat makan
¨      gunakan dot yang lembut bagi bayi dan berikan waktu istirahat di sela makan dan sendawakan
¨      gunakan aliran oksigen untuk menurunkan distress pernafasan yang dapat disebabkan karena tersedak
¨      berikan formula yang mangandung kalori tinggi yang sesuaikan dengan kebutuhan
¨      Batasi pemberian sodium jika memungkinkan
¨      Bila ditemukan tanda anemia kolaborasi pemeriksaan laboratorium


Ayo Berbisnis Online disini: