Tumor ganas
primer pada hati yang berasal dari sel parenkim atau epitel saluran empedu atau
metastase dari tumor jaringan lainnya.
Hepatoma
(Karsinoma Hepatoseluler) adalah kanker yang berasal dari sel-sel hati.
Hepatoma merupakan kanker hati primer yang paling sering ditemukan.
Etiologi
1. Virus Hepatitis B dan Virus Hepatitis C
2. Bahan-bahan Hepatokarsinogenik :
Aflatoksin
Alkohol
Penggunaan steroid Anabolic
Penggunaan androgen yang berlebihan
Bahan kontrasepsi / oral
Penimbunan zat besi yang berlebihan dalam hati
(Hemochromatosis)
Patofisiologi
1. yang disebabkan oleh alkoholik dan
postnekrotik.
2. Pedoman diagnostik yang paling penting
adalah terjadinya kerusakan yang tidak dapat dijelaskan sebabnya. Pada penderita
sirosis hati yang disertai pembesaran hati mendadak.
3. Tumor hati yang paling sering adalah
metastase tumor ganas dari tempat lain. Matastase ke hati dapat terdeteksi pada
lebih dari 50 % kematian akibat kanker. Hal ini benar, khususnya untuk keganasan
pada saluran pencernaan, tetapi banyak tumor lain juga memperlihatkan
kecenderungan untuk bermestatase ke hati, misalnya kanker payudara, paru-paru,
uterus, dan pankreas.
4. Diagnosa sulit ditentukan, sebab tumor
biasanya tidak diketahui sampai penyebaran tumor yang luas, sehingga tidak
dapat dilakukan reseksi lokal lagi.
Manifestasi
Klinis
Biasanya gejala
awal hepatoma adalah nyeri perut, penurunan berat badan dan terdapatnya suatu
masssa yang besar, yang dapat dirasakan/diraba di perut kanan bagian atas.
Penderita yang
sebelumnya menderita sirosis menahun, akan tampak sangat sakit. Pada umumnya
terdapat demam. Kadang gejala awalnya berupa nyeri perut akut dan syok, yang
disebabkan olehpecahnya tumor atau perdarahan pada tumor
Penatalaksanaan
Pengobatan
tergantung dari saat diagnosa ditegakkan.
1. Fase dini : Dimana pembedahan adalah
pilihan utama yaitu reseksi segmen atau lobus hati
2. Pemberian kemoterapi secara infus
3. Penyinaran .
Asuhan
Keperawatan
Pengkajian
(Gejala Klinik)
Fase dini :
Asimtomatik.
Fase lanjut
:Tidak dikenal simtom yang patognomonik.
Keluhan berupa
nyeri abdomen, kelemahan dan penurunan berat badan, anoreksia, rasa penuh
setelah makan terkadang disertai muntah dan mual. Bila ada metastasis ke tulang
penderita mengeluh nyeri tulang. Pada pemeriksaan fisik bisa didapatkan
Secara umum
pengkajian Keperawatan pada klien dengan kasus kanker hati, meliputi:
1. Gangguan metabolisme
2. Perdarahan
3. Asites
4. Edema
5. Hipoproteinemia
6. Jaundice/icterus
7. Komplikasi endokrin
8. Aktivitas terganggu akibat pengobatan
Diagnosa
Keperawatan
Tidak seimbangan
nutrisi berhubungan dengan anoreksia, mual, gangguan absorbsi, metabolisme
vitamin di hati.
Intervensi :
1. Pantau masukan makanan setiap hari, beri
pasein buku harian tentang makanan sesuai indikasi
2. Dorong pasien utk makan deit tinggi
kalori kaya protein dg masukan cairan adekuat. Dorong penggunaan suplemen dan
makanan sering / lebih sedikit yg dibagi bagi selama sehari.
3. Berikan antiemetik pada jadwal reguler
sebelum / selama dan setelah pemberian agent antineoplastik yang sesuai
Nyeri
berhubungan dengan tegangnya dinding perut ( asites )
Intervensi :
1. Tentukan riwayat nyeri misalnya lokasi ,
frekwensi, durasi dan intensitas ( 0-10 ) dan tindakan penghilang rasa nyeri
misalkan berikan posisi yang duduk tengkurap dengan dialas bantal pada daerah
antara perut dan dada.
2. Berikan tindakan kenyamanan dasar
misalnya reposisi, gosok punggung.
3. kaji tingkat nyeri / kontrol nilai
4. Intoleransi aktivitas b.d ketidak
seimbangan antara suplai O2 dengan kebutuhan
Intoleransi
aktivitas b.d ketidak seimbangan antara suplai O2 dengan kebutuhan
Intervensi :
1. dorong pasein untuk melakukan apa saja
bila mungkin, misalnya mandi, bangun dari kursi/ tempat tidur, berjalan.
Tingkatkan aktivitas sesuai kemampuan.
2. pantau respon fisiologi terhadap
aktivitas misalnya; perubahan pada TD/ frekuensi jantung / pernapasan.
3. beri oksigen sesuai indikasi
Resiko
terjadinya gangguan integritas kulit berhubungan dengan pruritus, edema dan
asites
Intervensi :
1. Kaji kulit terhadap efek samping terapi
kanker. Perhatikan kerusakan atau perlambatan penyembuhan .
2. Mandikan dengan air hangat dan sabun
3. Dorong pasien untuk menghindari menggaruk
dan menepuk kulit yang kering dari pada menggaruk.
4. Balikkan / ubah posisi dengan sering
5. Anjurkan pasein untuk menghindari krim
kulit apapun ,salep dan bedak kecuali seijin dokter.
A.Pengertian Tonsilitis merupakan peradangan pada tonsil yang disebabkan oleh
bakteri atau kuman streptococcusi beta hemolyticus, streptococcus viridans dan streptococcus
pyogenes dapat juga disebabkan oleh virus, pada tonsilitis ada dua yaitu :
1.Tonsilitis Akut dan
Tonsilitis
Kronik
B.Etiologi Disebabkan oleh kuman streptococcus beta hemolyticus, streptococcus
viridans dan streptococcus pyogenes yang menjadi penyebab terbanyak dapat juga
disebabkan oleh virus. Faktor predisposisi adanya rangsangan kronik (rokok,
makanan), pengaruh cuaca, pengobatan radang akut yang tidak adekuat dan
higiene, mulut yang buruk.
C.Patofisiologi Penyebab terserang tonsilitis akut adalah
streptokokus beta hemolitikus grup A. Bakteri lain yang juga dapat menyebabkan
tonsilitis akut adalah Haemophilus influenza dan bakteri dari golongan
pneumokokus dan stafilokokus. Virus juga kadang – kadang ditemukan sebagai
penyebab tonsilitis akut.
1.Pada
Tonsilitis Akut
Penularan
terjadi melalui droplet dimana kuman menginfiltrasi lapisan Epitel kemudian
bila Epitel ini terkikis maka jaringan Umfold superkistal bereaksi dimana
terjadi pembendungan radang dengan infiltrasi leukosit polimorfo nuklear.
2.Pada
Tonsilitif Kronik
Terjadi
karena proses radang berulang maka Epitel mukosa dan jaringan limpold terkikis,
sehingga pada proses penyembuhan jaringan limpold, diganti oleh jaringan parut.
Jaringan ini akan mengerut sehingga ruang antara kelompok melebar (kriptus)
yang akan di isi oleh detritus proses ini meluas hingga menembus kapsul dan
akhirnya timbul purlengtan dengan jaringan sekitar fosa tonsilaris.
Jadi tonsil
meradang dan membengkak, terdapat bercak abu – abu atau kekuningan pada
permukaannya, dan jika berkumpul maka terbentuklah membran. Bercak – bercak
tersebut sesungguhnya adalah penumpukan leukosit, sel epitel yang mati, juga
kuman – kuman baik yang hidup maupun yang sudah mati.
D. Manisfestasi Klinis
Keluhan
pasien biasanya berupa nyeri tenggorokan, sakit menelan, dan kadang – kadang
pasien tidak mau minum atau makan lewat mulut. Penderita tampak loyo dan
mengeluh sakit pada otot dan persendian. Biasanya disertai demam tinggi dan
napas yang berbau, yaitu :
• Suhu tubuh naik sampai 40 oC. • Rasa gatal atau kering ditenggorokan. • Lesu. • Nyeri sendi, odinofagia. • Anoreksia dan otolgia. • Bila laring terkena suara akan menjadi serak. • Tonsil membengkak. • Pernapasan berbau.
F. Pemeriksaan Penunjang • Kultur dan uji resistensi bila perlu. • Kultur
dan uji resistensi kuman dari sediaan apus tonsil.
G. Penatalaksanaan Medis
Sebaiknya
pasien tirah baring. Cairan harus diberikan dalam jumlah yang cukup, serta
makan – makanan yang berisi namun tidak terlalu padat dan merangsang
tenggorokan. Analgetik diberikan untuk menurunkan demam dan mengurangi sakit
kepala. Di pasaran banyak beredar analgetik (parasetamol) yang sudah
dikombinasikan dengan kofein, yang berfungsi untuk menyegarkan badan.
Jika penyebab tonsilitis adalah
bakteri maka antibiotik harus diberikan. Obat pilihan adalah penisilin.
Kadang – kadang juga digunakan eritromisin. Idealnya, jenis antibiotik yang
diberikan sesuai dengan hasil biakan. Antibiotik diberikan antara 5 sampai 10
hari. Jika melalui biakan diketahui bahwa sumber infeksi adalah
Streptokokus beta hemolitkus grup A, terapi antibiotik harus digenapkan 10 hari
untuk mencegah kemungkinan komplikasi nefritis dan penyakit jantung rematik.
Kadang – kadang dibutuhkan suntikan benzatin penisilin 1,2 juta unit
intramuskuler jika diperkirakan pengobatan orang tidak adekuat.
Terapi obat lokal untuk hegiene mulut dengan obat
kumur atau obat isap.
Antibiotik
golongan penisilin atau sulfonamida selama 5 hari.
Antipiretik.
Obat kumur atau obat isap dengan desinfektan.
Bila
alergi pada penisilin dapat diberikan eritromisin atau klindamigin
H. Fokus Pengkajian 1.
keluhan utama sakit tenggorokan, nyeri telan, demam dll 2. riwayat penyakit sekarang : serangan, karakteristik,
insiden, perkembangan, efek terapi 3. riwayat kesehatan lalu • riwayat kelahiran • riwayat imunisasi • penyakit yang pernah diderita ( faringitis berulang,
ISPA, otitis media ) • riwayat hospitalisasi 4. pengkajian umum usia, tingkat kesadaran, antopometri, tanda – tanda vital
dll 5. pernafasan kesulitan bernafas, batuk ukuran besarnya tonsil dinyatakan dengan : • T0 : bila sudah dioperasi • T1 : ukuran yang normal ada • T2 : pembesaran tonsil tidak sampai garis tengah • T3 : pembesaran mencapai garis tengah • T4 : pembesaran melewati garis tengah 6. nutrisi sakit tenggorokan, nyeri telan, nafsu makan menurun,
menolak makan dan minum, turgor kurang 7. aktifitas / istirahat anak tampak lemah, letargi, iritabel, malaise 8. keamanan / kenyamanan kecemasan anak terhadap hospitalisasi
I. Diagnosa Keperawatan Diagnosa
keperawatan yang mungkin muncul pada tonsilitis akut adalah : 1. hipertermi berhubungan dengan proses inflamasi pada
faring dan tonsil 2. nyeri berhubungan dengan pembengkakan pada tonsil 3. resiko perubahan status nutrisi kurang dari kebutuhan
tubuh berhubungan dengan adanya anoreksia 4. intoleransi aktifitas berhubungan dengan kelemahan 5. gangguan persepsi sensori : pendengaran berhubungan
dengan adanya obstruksi pada tuba eustakii
J. Fokus Intervensi 1.
DP : hipertermi berhubungan dengan proses inflamasi pada tonsil Intervensi : • Pantau suhu tubuh anak ( derajat dan pola ), perhatikan
menggigil atau tidak • Pantau suhu lingkungan • Batasi penggunaan linen, pakaian yang dikenakan klien • Berikan kompres hangat • Berikan cairan yang banyak ( 1500 – 2000 cc/hari ) • Kolaborasi pemberian antipiretik
2. DP : nyeri
berhubungan dengan pembengkakan pada tonsil Intervensi : • Pantau nyeri klien(skala, intensitas, kedalaman,
frekuensi ) • Kaji TTV • Berikan posisi yang nyaman • Berikan tehnik relaksasi dengan tarik nafas panjang
melalui hidung dan mengeluarkannya pelan – pelan melalui mulut • Berikan tehnik distraksi untuk mengalihkan perhatian
anak • Kolaborasi pemberian analgetik
3. DP : resiko
perubahan status nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan adanya
anoreksia Intervensi : • Kaji conjungtiva, sclera, turgor kulit • Timbang BB tiap hari • Berikan makanan dalam keadaan hangat • Berikan makanan dalam porsi sedikit tapi seringsajikan
makanan dalam bentuk yang menarik • Tingkatkan kenyamanan lingkungan saat makan • Kolaborasi pemberian vitamin penambah nafsu makan
4. DP :
intoleransi aktifitas berhubungan dengan kelemahan Intervensi : • Kaji kemampuan klien dalam melakukan aktifitas • Observasi adanya kelelahan dalam melakukan aktifitas • Monitor TTV sebelum, selama dan sesudah melakukan
aktifitas • Berikan lingkungan yang tenang • Tingkatkan aktifitas sesuai toleransi klien
5. DP : gangguan persepsi sensori : pendengaran
berhubungan dengan adanya obstruksi pada tuba eustakii Intervensi : • Kaji ulang gangguan pendengaran yang dialami klien • Lakukan irigasi telinga • Berbicaralah dengan jelas dan pelan • Gunakan papan tulis / kertas untuk berkomunikasi jika
terdapat kesulitan dalam berkomunikasi • Kolaborasi pemeriksaan audiometri • Kolaborasi pemberian tetes telinga
Tetralogi fallot (TF) merupakan penyakit jantung
sianotik yang paling banyak ditemukan dimana tetralogi fallot menempati urutan
keempat penyakit jantung bawaan pada anak setelah defek septum ventrikel,defek
septum atrium dan duktus arteriosus persisten,atau lebih kurang 10-15 % dari
seluruh penyakit jantung bawaan, diantara penyakit jantung bawaan sianotik
Tetralogi fallot merupakan 2/3 nya. Tetralogi fallot merupakan penyakit jantung
bawaan yang paling sering ditemukan yang ditandai dengan sianosis sentral
akibat adanya pirau kanan ke kiri.
Di RSU Dr. Soetomo sebagian besar pasien Tetralogi
fallot didapat diatas 5 tahun dan prevalensi menurun setelah
berumur 10 tahun. Dari banyaknya kasus kelainan jantung serta
kegawatan yang ditimbulkan akibat kelainan jantung bawaan ini, maka sebagai
seorang perawat dituntut untuk mampu mengenali tanda kegawatan dan mampu
memberikan asuhan keperawatan yang tepat.
B. Tujuan
Mengetahui Asuhan Keperawatan Anak atau Bayi dengan
TOF
Mengetahui penatalaksanaan Anak atau Bayi dengan
TOF
Mengetahui cara pemeriksaan fisik Anak atau Bayi dengan TOF
Mengetahui
pemeriksaan tambahan dan penunjang pada Anak atau Bayi dengan TOF
BAB II
TINJAUAN
TEORITIS
A. KONSEP DASAR
1.Pengertian
Tetralogi fallot (TF) adalah kelainan
jantung dengan gangguan sianosis yang ditandai dengan kombinasi 4 hal yang
abnormal meliputi defek septum ventrikel, stenosis pulmonal, overriding aorta,
dan hipertrofi ventrikel kanan.
Komponen yang paling penting
dalam menentukan derajat beratnya penyakit adalah stenosis pulmonal dari
sangat ringan sampai berat. Stenosis pulmonal bersifat progresif , makin lama
makin berat.
2.Etiologi
Pada sebagian besar kasus, penyebab penyakit jantung
bawaan tidak diketahui secara pasti. diduga karena adanya faktor endogen dan
eksogen. Faktor –faktor tersebut antara lain :
Faktor endogen
-Berbagai
jenis penyakit genetik : kelainan kromosom
-Anak
yang lahir sebelumnya menderita penyakit jantung bawaan
-Adanya penyakit tertentu dalam keluarga seperti diabetes
melitus, hipertensi, penyakit
jantung atau kelainan bawaan
Faktor eksogen
-Riwayat kehamilan ibu : sebelumnya ikut program
KB oral atau suntik,minum obat-obatan tanpa resep dokter, (thalidmide, dextroamphetamine.
aminopterin, amethopterin, jamu)
-Ibu menderita penyakit
infeksi : rubella
-Pajanan terhadap sinar
-X
Para ahli berpendapat bahwa penyebab
endogen dan eksogen tersebut jarang terpisah menyebabkan penyakit jantung
bawaan. Diperkirakan lebih dari 90% kasus penyebab adaah
multifaktor. Apapun sebabnya, pajanan terhadap faktor penyebab harus ada
sebelum akhir bulan kedua kehamilan , oleh karena pada minggu ke delapan
kehamilan pembentukan jantung janin sudah selesai.
3. Patofisiologi
¨Pada RVOTO ringan-sedang; awalnya shunt left to
right (Pink TOF), 1-2 thn kemudian akan sianotik (R to L)
¨Klasik TOF: RVOTO severe, PA kecil. Tekanan
systole sama pada RV, LV,
aorta.
¨Adanya RVOTO Ã shunt right to left melalui VSD
¨Adanya VSD besar pada TOF akan menyebabkan
tekanan yang sama pada LV
dan RV. Sedangkan rasio aliran darah yang mengalir ke sistemik atau pulmonal
(Qp/Qs) ditentukan oleh resistensi pulmonal (PS) dan SVR. Bila dianggap
rvoto tetap maka besarnya shunt ditentukan oleh resistensi sistemik. SVR¯ maka
R to L shunt dan sianosis.
¨Takikardia dan hipovolemia berat akan
menyebabkan R to L shunt
¨Murmur yang terjadi adalah krn PS; intensitas
dan lamanya tergantung jumlah darah yg lewat P. valve. Atau berbanding terbalik
dengan derajat stenosis.
¨TOF tidak menyebabkan CHF pada infant.
4.
Manifestasi Klinis
Riwayat sesak, squatting, atau spell. FTT (+)
Murmur terdengar sejak lahir, umumnya sianotik sejak lahir.
Pasien TOF dg PA akan sianotik berat sejak lahir.
Terdapat tanda sianotik, takipneu, dan clubbing
Tap denyut RV, thrill sistolik pada pinggir sternum kiri
·Murmur ejeksi sistolik (Gr 3-5/6) pd pinggir
sternum kiri
EKG : RAD (+120 sampai +150) pada sianotik TOF.
QRS axis pada pink TOF biasanya normal. RVH (+)
Rö :
·Ukuran jantung normal, dan PVM menurun.
·Gambaran "boot-shaped" (concave MPA
segment)
·RAE (25%) dan right-aortic arch (25%)
·Gambaran radiologis pink tet tidak dapat
dibedakan dengan kelainan VSD, hanya beda pada kecenderungan RVH dibanding LVH
Ekokardiograficardiography
·VSD dan overriding aorta diperiksa melalui
parasternal long-axis
·Anatomi
RVOT sampai cabangnya melalui parasternal short-axis
Perjalanan
·Pasien akan makin sianosis (termasuk pink tet),
oleh karena perburukan RVOTO dan polisitemia
·Terjadi polisitemia, clubbing
·Dapat terjadi spell hipoksik pada bayi/anak
·Terjadi FTT dan growth retardation
·Komplikasi abses otak dan cerebrovascular
accident, dan SBE jarang terjadi.
·Dapat
terjadi anemia defisiensi besi dan koagulopati sbg komplikasi sianosis lama
5. Pemeriksaan diagnostik
Pemeriksaan laboratorium
Ditemukan adanya peningkatan hemoglobin dan hematokrit (Ht) akibat
saturasi oksigen yang rendah. Pada umumnya hemoglobin dipertahankan 16-18 gr/dl
dan hematokrit antara 50-65 %. Nilai BGA menunjukkan peningkatan tekanan
partial karbondioksida (PCO2), penurunan tekanan parsial oksigen (PO2) dan
penurunan PH.pasien dengan Hn dan Ht normal atau rendah mungkin menderita
defisiensi besi.
Radiologi
Sinar X pada thoraks menunjukkan penurunan aliran darah pulmonal,
tidak ada pembesaran jantung . gambaran khas jantung tampak apeks jantung
terangkat sehingga seperti sepatu.
Elektrokardiogram
Pada EKG sumbu QRS
hampir selalu berdeviasi ke kanan. Tampak pula hipertrofi ventrikel
kanan. Pada anak besar dijumpai P pulmonal
Ekokardiografi
Memperlihatkan dilatasi aorta, overriding aorta dengan dilatasi
ventrikel kanan,penurunan ukuran arteri pulmonalis & penurunan aliran darah
ke paru-paru
Kateterisasi
Diperlukan sebelum tindakan pembedahan untuk
mengetahui defek septum ventrikel multiple, mendeteksi kelainan arteri koronari
dan mendeteksi stenosis pulmonal perifer. Mendeteksi adanya penurunan saturasi
oksigen, peningkatan tekanan ventrikel kanan, dengan tekanan pulmonalis normal
atau rendah.
6. Penatalaksanaan
a.Pada
penderita yang mengalami serangan sianosis maka terapi ditujukan untuk
memutus patofisiologi serangan tersebut, antara lain dengan cara :
b.Posisi
lutut ke dada agar aliran darah ke paru bertambah
c.Morphine sulfat 0,1-0,2 mg/kg SC, IM atau Iv
untuk menekan pusat pernafasan dan mengatasi takipneu.
d.Bikarbonas natrikus 1 Meq/kg
BB IV untuk mengatasi asidosis
e.Oksigen
dapat diberikan, walaupun pemberian disini tidak begitu tepat karena
permasalahan bukan karena kekuranganoksigen, tetapi karena aliran darah ke paru
menurun. Dengan usaha diatas diharapkan anak tidak lagi takipnea, sianosis
berkurang dan anak menjadi tenang. Bila hal ini tidak terjadi dapat
dilanjutkan dengan pemberian :
f.Propanolol l 0,01-0,25 mg/kg IV perlahan-lahan untuk
menurunkan denyut jantung sehingga seranga dapat diatasi. Dosis total
dilarutkan dengan 10 ml cairan dalam spuit, dosis awal/bolus diberikan
separohnya, bila serangan belum teratasi sisanya diberikan perlahan dalam 5-10
menit berikutnya.
g.Ketamin 1-3 mg/kg (rata-rata 2,2 mg/kg) IV perlahan.
Obat ini bekerja meningkatkan resistensi vaskuler sistemik dan juga sedative
h.penambahan volume cairan tubuh dengan infus cairan
dapat efektif dalam penganan serangan sianotik. Penambahan volume darah juga
dapat meningkatkan curah jantung, sehingga aliran darah ke paru bertambah
dan aliran darah sistemik membawa oksigen ke seluruh tubuh juga meningkat.
i.Propanolol oral 2-4 mg/kg/hari dapat digunakan untuk
serangan sianotik
j.Bila
ada defisiensi zat besi segera diatasi
k.Hindari dehidrasi
7. Komplikasi
¨Trombosis pulmonal
¨CVA trombosis
¨Abses otak
¨Perdarahan
¨Anemia relatif
B. Proses keperawatan
1.Pengkajian keperawatan
¨Riwayat kehamilan : ditanyakan sesuai dengan
yang terdapat pada etiologi (faktor endogen dan eksogen yang mempengaruhi).
¨Riwayat tumbuh : Biasanya anak cendrung
mengalami keterlambatan pertumbuhan karena fatiq selama makan dan peningkatan
kebutuhan kalori sebagai akibat dari kondisi penyakit.
¨Riwayat psikososial/ perkembangan
¨Kemungkinan mengalami masalah perkembangan
¨Mekanisme koping anak/ keluarga
¨Pengalaman hospitalisasi sebelumnya
¨Pemeriksaan fisik
¨Pada awal bayi baru lahir biasanya belum
ditemukan sianotik,bayi tampak biru setelah tumbuh.
¨Clubbing finger tampak setelah usia 6 bulan.
¨Serang sianotik mendadak (blue spells/cyanotic
spells/paroxysmal hiperpnea,hypoxic spells) ditandai dengan dyspnea, napas
cepat dan dalam,lemas,kejang,sinkop bahkan sampai koma dan kematian.
¨Anak akan sering Squatting (jongkok) setelah
anak dapat berjalan, setelah berjalan beberapa lama anak akan berjongkok dalam
beberapa waktu sebelum ia berjalan kembali.
¨Pada auskultasi terdengar bising sistolik yang
keras didaerah pulmonal yang semakin melemah dengan bertambahnya derajat
obstruksi
¨Bunyi jantung I normal. Sedang bunyi
jantung II tunggal dan keras.
¨Bentuk dada bayi masih normal, namun pada anak
yang lebih besar tampak menonjol akibat pelebaran ventrikel kanan
¨Ginggiva hipertrofi,gigi sianotik
¨Pengetahuan anak dan keluarga :
a.Pemahaman tentang diagnosis.
b.Pengetahuan/penerimaan terhadap prognosis
c.Regimen pengobatan
d.Rencana perawatan ke depan
e.Kesiapan dan kemauan untuk belajar
2. Diagnosa.
¨Gangguan pertukaran gas b.d
penurunan alian darah ke pulmonal
¨Penurunan kardiak output b.d sirkulasi yang
tidak efektif sekunder dengan adanya malformasi jantung
¨Gangguan perfusi jaringan b.d penurunan
sirkulasi (anoxia kronis , serangan sianotik akut)
¨Gangguan nutrisi kurang dari kebutuhan
tubuh b.d fatiq selama makan dan peningkatan kebutuhan kalori,penurunan nafsu
makan
¨Gangguan pertumbuhan dan perkembangan b.d
tidak adekuatnya suplai oksigen dan zat nutrisi ke jaringan
¨Intoleransi aktifitas b.d
ketidakseimbangan suplai dan kebutuhan oksigen
¨Koping keluarga tidak efektif b.d kurang
pengetahuan klg tentang diagnosis/prognosis penyakit anak
3. Intervensi
Penurunan kardiac output b.d sirkulasi yang tidak efektif sekunder dengan
adanya malformasi jantung
Tujuan :
¨Anak dapat mempertahankan kardiak output yang
adekuat.
Kriteria
hasil
¨Tanda-tanda vital normal sesuai
umur
¨Tidak ada : dyspnea, napas cepat dan
dalam,sianosis, gelisah/letargi , takikardi, mur-mur
¨Pasien komposmentis
¨Akral hangat
¨Pulsasi perifer kuat dan sama pada
kedua ekstremitas
¨Capilary refill time < 3 detik
¨Urin output 1-2 ml/kgBB/jam
Intervensi:
¨Monitor tanda vital,pulsasi perifer,kapilari
refill dengan membandingkan pengukuran pada kedua ekstremitas dengan posisi
berdiri, duduk dan tiduran jika memungkinkan
¨Kaji dan catat denyut apikal selama 1
menit penuh
¨Observasi adanya serangan sianotik
¨Berikan posisi knee-chest pada anak
¨Observasi adanya tanda-tanda penurunan sensori
: letargi,bingung dan disorientasi
¨Monitor intake dan output secara adekuat
¨Sediakan waktu istirahat yang cukup bagi anak
dan dampingi anak pada saat melakukan aktivitas
¨Sajikan makanan yang mudah di cerna dan kurangi
konsumsi kafeine.
¨Kolaborasi dalam: pemeriksaan serial ECG, foto
thorax, pemberian obat-obatan anti disritmia
¨Kolaborasi pemberian oksigen
¨Kolaborasi pemberian cairan tubuh melalui infus
Intoleransi aktivitas
b.d ketidakseimbangan antara suplai dan kebutuhan oksigen
Tujuan: Anak menunjukan
peningkatan kemampuan dalam melakukan aktivitas (tekanan darah, nadi, irama
dalam batas normal) tidak adanya angina.
Kriteria
hasil :
¨Tanda vital normal sesuai umur
¨Anak mau berpartisipasi dalam setiap kegiatan
yang dijadwalkan
¨Anak mencapai peningkatan toleransi aktivitas
sesuai umur
¨Fatiq dan kelemahan berkurang
¨Anak dapat tidur dengan lelap
Intervensi
¨Catat irama jantung, tekanan darah dan nadi
sebelum, selama dan sesudah melakukan aktivitas.
¨Anjurkan pada pasien agar lebih banyak
beristirahat terlebih dahulu.
¨Anjurkan pada pasien agar tidak “ngeden” pada
saat buang air besar.
¨Jelaskan pada pasien tentang tahap- tahap
aktivitas yang boleh dilakukan oleh pasien.
¨Tunjukan pada pasien tanda-tanda
fisik bahwa aktivitas melebihi batas
¨Bantu anak dalam memenuhi kebutuhan ADL dan
dukung kearah kemandirian anak sesui dengan indikasi
¨Jadwalkan aktivitas sesuai dengan usia,
kondisi dan kemampuan anak.
Gangguan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh b.d fatiq selama makan
dan peningkatan kebutuhan kalori,penurunan nafsu makan
Tujuan : anak dapat makan secara adekuat dan cairan dapat
dipertahankan sesuai dengan berat badan normal dan pertumbuhan normal.
Kriteria hasil :
¨Anak menunjukkan penambahan BB sesuai dengan
umur
¨Peningkatan toleransi makan.
¨Anak dapat menghabiskan porsi makan yang
disediakan
¨Hasil lab tidak menunjukkan tanda malnutrisi.
Albumin,Hb
¨Mual muntah tidak ada
¨Anemia tidak ada.
Intervensi :
¨Timbang berat badan anak setiap pagi tanpa
diaper pada alat ukur yang sama, pada waktu yang sama dan dokumentasikan.
¨Catat intake dan output secara akurat
¨Berikan makan sedikit tapi sering untuk
mengurangi kelemahan disesuaikan dengan aktivitas selama makan ( menggunakan
terapi bermain)
¨Berikan perawatan mulut untuk meningktakan
nafsu makan anak
¨Berikan posisi jongkok bila terjadi sianosis
pada saat makan
¨gunakan dot yang lembut bagi bayi dan berikan
waktu istirahat di sela makan dan sendawakan
¨gunakan aliran oksigen untuk menurunkan distress
pernafasan yang dapat disebabkan karena tersedak
¨berikan formula yang mangandung kalori tinggi
yang sesuaikan dengan kebutuhan
¨Batasi pemberian sodium jika memungkinkan
¨Bila ditemukan tanda anemia kolaborasi
pemeriksaan laboratorium