ASUHAN KEPERAWATAN ANTE NATAL CARE

 
1.      PENGERTIAN
ANC adalah Pengawasan sebelum persalinan terutama ditujukan pada pertumbuhan dan perkembangan janin dalam rahim
2.      TUJUAN :
*       Pengawasan : Kesh. Ibu, Deteksi dini penyakit penyerta & komplikasi kehamilan, menetapkan resiko kehamilan (tinggi, meragukan dan rendah)
*      Menyiapkan persalinan à well born baby dan well health mother
*      Mempersiapkan pemeliharaan bayi & laktasi
*      Mengantarkan pulihnya kesh. Ibu optimal

3.      BUKTI KEHAMILAN
a.      PRESUMTIF ( Bukti Subjektif)
*      Amenorea
*      Perubahan payudara
*      Mual & muntah (morning sickness)
*      Frekuensi berkemih
*      Leukorea
*      Tanda Chadwiek’s
*      Quickening


b. PROBABILITAS ( Bukti Objektif)
q  Pertumbuhan & perubahan uterus
q  Tanda Hegar’s ( melunaknya segmen bawah uterus)
q  Ballotement (lentingan janin dl uterus saat palpasi)
q  Braxton hick’s (kontraksi selama kehamilan)
q  Perubahan Abdomen
q  Pembesaran abdomen
q  Striae Gravidarum
q  Pigmentasi pada linea nigra
c.       ABSOLUT ( Bukti Positif)
   Terdengar DJJ
   Teraba bagian anak oleh pemeriksa
   Terlihat hasil konsepsi dg USG
   Teraba gerakan janin oleh pemeriksa

4. PEMERIKSAAN PENUNJANG
     LABORATORIUM
     Darah ( Hb, Gol darah, Glukosa, VDRL)
     Urine (Tes kehamilan, protein, glukosa, analisis)
     Pemeriksaan Swab (Lendir vagina & servik)
     U S G
     Jenis kelamin
     Taksiran kelahiran, TBJ, Jumlah cairan amnion,
5. PEMERIKSAAN KEHAMILAN
BILA HPHT TIDAK DIKETAHUI,
USIA KEHAMILAN TENTUKAN DG CARA :
n  TFU ( Cm x 7/8 = Usia dl mgg)
n  Terabanya ballotement di simpisis à 12 mgg
n  DJJ (+) dg Dopller à 10-12 mgg
n  DJJ (+) dg fetoscop à 20 mgg
n  Quickening à 20 mgg
n  USG
PERHITUNGAN TAKSIRAN PARTUS
            ( NAGELE) :
n  H + 7
n  B (1-3)             + 9, bila tanggal > 24 + B 1
            B (4-12)           – 3
n  T (1-3)                         + 0
            T (4-12)           + 1

n  PERHITUNGAN TAKSIRAN BERAT JANIN
n  TFU – (11 belum masuk PAP) X 155 = ….gr
n  TFU – (13 sudah masuk PAP) X 155 = ….gr

FREKUENSI KEHAMILAN
u Kunjungan I (12-24 mgg)
      Anamnesis lengkap, pemeriksaan fisik & obstetri, Pemeriksaan lab., Antopo metri, penilaian resiko kehamilan, KIE
u  Kunjungan II ( 28 – 32 mgg )
      Anamnesis, USG, Penilaian resiko kehamilan, Nasehat perawatan payudara & Senam hamil), TT I
u  Kunjungan III ( 34 mgg)
      Anamnesis, pemeriksaan ulang lab. TT II
u  Kunjungan IV, V, VII & VIII ( 36-42 mgg)
     Anamnesis , perawatan payudara & persiapan persalinan

6. PENGKAJIAN ANC
  1. AKTIFITAS / ISTIRAHAT
*      BP ↓ , HR ↑ , Episode Sinkop, Edema
  1. INTEGRITAS EGO à Persepsi diri
  2. ELIMINASI
*      Konstipasi, miksi ↑ , BJ urine ↑ , haemoroid
  1. MAKANAN & CAIRAN
*      morning sickness (TM I), nyeri ulu hati,
*      Penambahan BB ( 8 – 12 kg), hipertrofi gusi (berdarah)
*      Anemi fisiologis  (Hemodilusi)
  1. NYERI / KETIDAK NYAMANAN
*      Kram kaki, nyeri payudara & punggung, Braxton Hicks

  1. PERNAFASAN
*      RR ↑ ,
  1. KEAMANAN
*      Suhu : 36,1o – 37,6 o C ,
*      DJJ ( 12 mgg dg dopler, 20 mgg dg fetoskop)
*      Gerakan janin ( 20 mgg)
*      Quickening  & Ballotement
*      ( 16 – 20 mgg) &
  1. SEKSUALITAS
*      Perubahan seksualitas, leukorea, peingkatan uetrus
*      Payudara ↑ , pigmentasi 
*      Goodell, Hegar, chadwiks
  1. INTERAKSI SSIAL
*      Denial, maturasi, aseptent
  1. PENYULUHAN / PEMBELAJARAN
  2. PEMERIKSAAN DIAGNOSTIK

7. PENGKAJIAN FISIK
         TANDA VITAL, ANTOPOMETRI
         PENGKAJIAN KEPALA
         PENGKAJIAN DADA : paru, jantung, payudara
         PENGKAJIAN ABDOMEN : hepar, abdomen,       uterus (palpasi, inspeksi, auskultasi,    pergerakan janin, his)
         PEMERIKSAAN PANGGUL
         PEMERIKSAAN GENITAL
         PEMERIKSAAN EKSTREMITAS

8. DIAGNOSA KEPERAWATAN  & FOKUS INTERVENSI
1. Resti perubahan nutrisi krg dr kebt tubuh b.d.     Perubahan napsu makan, mual & muntah
n  KH :
n  Menjelaskan komponen diet seimbang prenatal
n  Mengikuti diet yg dianjurkan
n  Mengkonsumsi Zat besi/ vitamin
n  Menunjukkan BB ( min 1,5 kg pd TM I )
n  Intervensi :
n  Tentukan asupan nutrisi /24 jam
n  Kaji ttg pengetahuan kebutuhan diet
n  Berikan nformasi tertulis diet prenatal & suplemen
n  Tanyakan keyakinan diet ss budaya
n  Timbang BB & kaji BB pregravid
n  Berikan BB selama TM I yang optimal
n  Tinjau tentang mual & muntah
n  Pantau kadar Hb, test urine (aseton, albumin & glukosa)
n  Ukur pembesaran uterus
n  Kolaborasi : program diet ibu hamil
2. Resti defisit vol. Cairan b.d.
perubahan napsu makan, mual & muntah
      KH :
      Mengidentifikasi & melakukan kegiatan u frekwensi & keparahan mual/muntah
      Mengkonsumsi cairan ss kebt.
      Mengidentifikasi tanda & gejala dehidrasi
      Intervensi :
      Auskultasi DJJ
      Tentukan beratnya mual/muntah
      Tinjau riwayat (gastritis, kolesistiasis)
      Anjurkan mempertahankan asupan cairan
      Kaji suhu, turgor kulit, membran mukosa, TD, intake & output, Timbang BB
      Anjurkan asupan minum manis, makan sedikit tapi sering, makan roti kering sebelum bangun tidur

3. Perubahan eliminasi urine b.d. Pembesaran uterus, GFR, sensitifitas VU
   KH :
§  Mengungkapkan penyebab sering kencing
§  Mengidentifikasi cara mencegah stasis urinarius
    Intervensi :
§  Berikan informasi perubahan  berkemih
§  Anjurkan menghindari posisi tegak & supine dl waktu lama
§  Berikan informasi intake cairan 6-8 gls/hr, penurunan intake 2-3 j pra rest
§  Kaji nokturia, anjurkan keagel exercise
§  Tekankan higiene toileting, memakai celana dr katun & menjaga vulva tetap kering
§  Kolaborasi : Kaji riwayat medis (hipertensi, peny. ginjal & jantung)

4. Ketidak efektifan pola pernafasan b.d. Pergeseran diagfragma sekunder kehamilan
l  KH :
l  Melaporkan ↓ keluhan
l  Mendemonstrasikan fungsi pernapasan
l   Intervensi :
l  Kaji status pernapasan
l  Pantau riwayat medis (alergi, rinitis, asma, TBC)
l  Kaji kadar HB à tekankan pentingnya vit.
l  Informasikan hubungan program latihan & kesullitan pernafasan
l  Anjurkan istirahat & latihan berimbang
l  Tinjau tindakan pasien u mengurangi keluhan

5. Ketidak nyamanan b.d. Perubahan fisik dan pengaruh hormonal
*      KH :
n  Mengidentifikasi tindakan yg melegakan & menghilangkan Ketidak nyamanan
n  Melaporkan penatalaksanaan Ketidak nyamanan
*       Intervensi :
n  Catat derajat rasa tidak nyaman minor
n  Evaluasi derajat rasa tidak nyaman selama pemeriksaan lanjutan
n  Anjurkan pemakaian korset uterus
n  Tekankan menghindari stimulasi puting
n  Intruksikan perawatan puting mendatar
n  Kaji adanya haemoroid
n  Intruksikan penggunaan kompres dingin & intake tinggi serat pada haemoroid
n  Intruksikan posisi dorsofleksi pd kaki & mengurangi keju/susu
n  Kaji tingkat kelelahan dengan aktifitas dl keluarga
n  Kolaborasi : suplemen kalsium

6. Perubahan pola seksualitas b.d. Perubahan struktur tubuh & ketidaknyaman
  • KH :
    • Mendiskusikan perubahan dl hasrat seksual
    • Identifikasi langkah mengatasi situasi
    • Melaporkan adaptasi perubahan & modifikasi situasi selama kehamilan
  • Intervensi :
    • Tentukan pola aktivitas seksual pasangan
    • Kaji dampak kehamilan terhadap kehamilan
    • Diskusikan miskonsepsi seksualitas kehamilan
    • Anjurkan pilihan posisi koitus selama kehamilan
    • Informasikan tindakan yg dpt kontraksi ( stimulasi puting susu, orgasme pd wanita, sperma)
    • Kolaborasi : konseling bila masalah tidak teratasi

7. Resti konstipasi b.d. Penurunan peristaltik, penekanan uterus
      KH :
      Mempertahankan pola fungsi usus normal
      Mengidentifikasi perilaku beresiko
      Melaporkan tindakan u eliminasi
      Intervensi :
      Tentukan kebiasaan eliminasi sebelum hamil & perhatikan perubahan selama hamil
      Kaji adanya haemoroid
      Informasikan diet : buah, sayur, serat & intake cairan adekuat
      Anjurkan latihan ringan
      Kolaborasi : berikan pelunak feces bila diet tak efektif

ASUHAN KEPERAWATAN ABORTUS


 

-           Infeksi Akut                      : Pneumonia, Thipii, septikemia, peritonitis
-           Gangguan Endokrin          : Gangguan produksi progesterone, thyroid
-           Gangguan Gizi/Anemia
-           Trauma, baik yang tidak disengaja (mischariage) maupun yang disengaja
  (provokatus)
-           Gangguan faal organ         : Hypoplasi uteri, tumor uterus, cervix pendek,
  retrofleksi uteri incarcerata, ggn endometrium

Pemeriksaan Diagnostik        :

1.  Test HCG Urine                 Indikator kehamilan                            Positif 
2. Ultra Sonografi                   Kondisi janin/cavum ut           terdapat janin/sisa janin
3. Kadar Hematocrit/Ht          Status Hemodinamika             Penurunan (< 35 mg%)
4. Kadar Hemoglobin             Status Hemodinamika             Penurunan (< 10 mg%)
5. Kadar SDP                          Resiko Infeksi                         Meningkat(>10.000 U/dl)
6. Kultur                                  Kuman spesifik                       Ditemukan kuman


 DIAGNOSA  KEPERAWATAN
  1. Devisit Volume Cairan s.d perdarahan
  2. Gangguan Aktivitas s.d kelemahan, penurunan sirkulasi
  3. Gangguan rasa nyaman: Nyeri s.d kerusakan jaringan intrauteri
  4. Resiko tinggi Infeksi s.d perdarahan, kondisi vulva lembab
  5. Cemas s.d kurang pengetahuan



INTERVENSI KEPERAWATAN :
  1. Devisit Volume Cairan s.d Perdarahan
Tujuan :
Tidak terjadi devisit volume cairan, seimbang antara intake dan output baik jumlah maupun kualitas.
Intervensi :
a.       Kaji kondisi status hemodinamika
R : Pengeluaran cairan pervaginal sebagai akibat abortus memiliki karekteristik bervariasi
b.      Ukur pengeluaran harian
R : Jumlah cairan ditentukan dari jumlah kebutuhan harian ditambah dengan jumlah cairan yang hilang pervaginal
c.       Berikan sejumlah cairan pengganti harian
R : Tranfusi mungkin diperlukan pada kondisi perdarahan masif
d.      Evaluasi status hemodinamika
R : Penilaian dapat dilakukan secara harian melalui pemeriksaan fisik

  1. Gangguan Aktivitas s.d kelemahan, penurunan sirkulasi
Tujuan :
Kllien dapat melakukan aktivitas tanpa adanya komplikasi
Intervensi :
a.       Kaji tingkat kemampuan klien untuk beraktivitas
R : Mungkin klien tidak mengalami perubahan berarti, tetapi perdarahan masif perlu diwaspadai untuk menccegah kondisi klien lebih buruk
b.      Kaji pengaruh aktivitas terhadap kondisi uterus/kandungan
R : Aktivitas merangsang peningkatan vaskularisasi dan pulsasi organ reproduksi
c.       Bantu klien untuk memenuhi kebutuhan aktivitas sehari-hari
R : Mengistiratkan klilen secara optimal
d.       Bantu klien untuk melakukan tindakan sesuai dengan kemampuan/kondisi klien
R : Mengoptimalkan kondisi klien, pada abortus imminens, istirahat mutlak sangat diperlukan
e.       Evaluasi  perkembangan   kemampuan klien melakukan aktivitas
R : Menilai kondisi umum klien

  1. Gangguan rasa nyaman : Nyeri s.d Kerusakan jaringan intrauteri
Tujuan :
Klien dapat beradaptasi dengan nyeri yang dialami
Intervensi :
a.       Kaji kondisi nyeri yang dialami klien
R : Pengukuran nilai ambang nyeri dapat dilakukan dengan skala maupun dsekripsi.
b.      Terangkan nyeri yang diderita klien dan penyebabnya
R : Meningkatkan koping klien dalam melakukan guidance mengatasi nyeri
c.       Kolaborasi pemberian analgetika
R : Mengurangi onset terjadinya nyeri dapat dilakukan dengan pemberian analgetika oral maupun sistemik dalam spectrum luas/spesifik


  1. Resiko tinggi Infeksi s.d perdarahan, kondisi vulva lembab
Tujuan :
Tidak terjadi infeksi selama perawatan perdarahan
Intervensi :
a.       Kaji kondisi keluaran/dischart yang keluar ; jumlah, warna, dan bau
R : Perubahan yang terjadi pada dishart dikaji setiap saat dischart keluar. Adanya warna yang lebih gelap disertai bau tidak enak mungkin merupakan tanda infeksi
b.      Terangkan pada klien pentingnya perawatan vulva selama masa perdarahan
R : Infeksi dapat timbul akibat kurangnya kebersihan genital yang lebih luar
c.       Lakukan pemeriksaan biakan pada dischart
R : Berbagai kuman dapat teridentifikasi melalui dischart
d.      Lakukan perawatan vulva
R :Inkubasi kuman pada area genital yang relatif cepat dapat menyebabkan infeksi.
e.       Terangkan pada klien cara  mengidentifikasi tanda inveksi
R : Berbagai manivestasi klinik dapat menjadi tanda nonspesifik infeksi; demam dan peningkatan rasa nyeri mungkin merupakan gejala infeksi
f.       Anjurkan pada suami untuk   tidak melakukan hubungan senggama se;ama masa perdarahan
R : Pengertian pada keluarga sangat penting artinya untuk kebaikan ibu; senggama dalam kondisi perdarahan dapat memperburuk kondisi system reproduksi ibu dan sekaligus meningkatkan resiko infeksi pada pasangan.

  1. Cemas s.d kurang pengetahuan
Tujuan :
Tidak terjadi kecemasan, pengetahuan klien dan keluarga terhadap penyakit meningkat
Intervensi :
a.       Kaji tingkat pengetahuan/persepsi  klien dan keluarga terhadap penyakit
R : Ketidaktahuan dapat menjadi dasar peningkatan rasa cemas
b.      Kaji derajat kecemasan yang dialami klien
R : Kecemasan yang tinggi dapat menyebabkan penurunan penialaian objektif klien tentang penyakit
c.       Bantu klien mengidentifikasi penyebab kecemasan
R : Pelibatan klien secara aktif dalam tindakan keperawatan merupakan support yang mungkin berguna bagi klien dan meningkatkan kesadaran diri klien
d.      Asistensi klien menentukan tujuan perawatan bersama
R : Peningkatan nilai objektif terhadap masalah berkontibusi menurunkan kecemasan
e.       Terangkan hal-hal seputar aborsi  yang perlu diketahui oleh klien dan keluarga
R : Konseling bagi klien sangat diperlukan bagi klien untuk meningkatkan pengetahuan dan membangun support system keluarga; untuk mengurangi kecemasan klien dan keluarga.




Referensi :
1.      Bagian Obstetri dan Ginekologi FK Unpad(1981) Obstetri Patologi, Elstar Offset, Bandung
2.      JNPKKR-POGI (2000), Buku Acuan Nasional Pelayanan Kesehatan Maternal dan Neonatal, Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo, Jakarta
3.      Wong,Dona L& Perry, Shanon W (1998) Maternal Child Nursing Care, Mosby Year Book Co., Philadelphia
4.      – (--), Protap Pelayanan Kebidanan RSUD Dr. Sutomo Surabaya, Surabaya

ASUHAN KEPERAWATAN PADA KLIEN DENGAN ABORTUS IMMINEN

A.    Pengetian
Abortus imminen adalah perdarahan bercak yang menunjukkan ancaman terhadap kelangsungan sauatu kehamilan. Dalam kondisi seperti ini kehamilan masih mungkin berlanjut atau dipertahankan. (Syaifudin. Bari Abdul, 2000)
Abortus imminen adalah perdarahan pervaginam pada kehamilan kurang dari 20 minggu, tanpa tanda-tanda dilatasi serviks yang meningkat ( Mansjoer, Arif M, 1999)
Abortus imminen adalah pengeluaran secret pervaginam yang tampak pada paruh pertama kehamilan ( William Obstetri, 1990)
           
B.     Etiologi
Abortus dapat terjadi karena beberapa sebab yaitu :
1.      Kelainan pertumbuhan hasil konsepsi, biasanya menyebabkan abortus pada kehamilan sebelum usia 8 minggu. Faktor yang menyebabkan kelainan ini adalah :
a.       Kelainan kromosom, terutama trimosoma dan monosoma X
b.      Lingkungan sekitar tempat impaltasi kurang sempurna
c.       Pengaruh teratogen akibat radiasi, virus, obat-obatan temabakau dan alkohol
2.      kelainan pada plasenta, misalnya endarteritis vili korialis karena hipertensi menahun
3.      faktor maternal seperti pneumonia, typus, anemia berat, keracunan dan toksoplasmosis.
4.      kelainan traktus genetalia, seperti inkompetensi serviks (untuk abortus pada trimester kedua), retroversi uteri, mioma uteri dan kelainan bawaan uterus.

C.    Gambaran Klinis
1.      Terlambat haid atau amenorhe kurang dari 20 minggu
2.      pada pemeriksaan fisik : keadaan umum tampak lemah kesadaran menurun, tekanan darah normal atau menurun, denyut nadi normal atau cepat dan kecil, suhu badan normal atau meningkat
3.      perdarahan pervaginam mungkin disertai dengan keluarnya jaringan hasil konsepsi
4.      rasa mulas atau kram perut, didaerah atas simfisis, sering nyeri pingang akibat kontraksi uterus
5.      pemeriksaan ginekologi :
a.       Inspeksi Vulva :  perdarahan pervaginam ada atau tidak jaringan hasil konsepsi, tercium bau busuk dari vulva
b.      Inspekulo : perdarahan dari cavum uteri, osteum uteri terbuka atau sudah tertutup, ada atau tidak jaringan keluar dari ostium, ada atau tidak cairan atau jaringan berbau busuk dari ostium.
c.       Colok vagina : porsio masih terbuka atau sudah tertutup, teraba atau tidak jaringan dalam cavum uteri, besar uterus sesuai atau lebih kecil dari usia kehamilan, tidak nyeri saat porsio digoyang, tidak nyeri pada perabaan adneksa, cavum douglas tidak menonjol dan tidak nyeri.

D.    Patofisiologi
Pada awal abortus terjadi perdarahan desiduabasalis, diikuti dengan nerkrosis jaringan sekitar yang menyebabkan hasil konsepsi terlepas dan dianggap benda asing dalam uterus. Kemudian uterus berkontraksi untuk mengeluarkan benda asing tersebut.
Pada kehamilan kurang dari 8 minggu, villi korialis belum menembus desidua secara dalam jadi hasil konsepsi dapat dikeluarkan seluruhnya. Pada kehamilan 8 sampai 14 minggu, penembusan sudah lebih dalam hingga plasenta tidak dilepaskan sempurna dan menimbulkan banyak perdarahan. Pada kehamilan lebih dari 14 minggu janin dikeluarkan terlebih dahulu daripada plasenta hasil konsepsi keluar dalam bentuk seperti kantong kosong amnion atau benda kecil yang tidak jelas bentuknya (blightes ovum),janin lahir mati, janin masih hidup, mola kruenta, fetus kompresus, maserasi atau fetus papiraseus.
Komplikasi :
1.      Perdarahan, perforasi syok dan infeksi
2.      pada missed abortion dengan retensi lama hasil konsepsi dapat terjadi kelainan pembekuan darah.

E.     Pemeriksaan penunjang
1.      Tes kehamilan positif jika janin masih hidup dan negatif bila janin sudah mati
2.      pemeriksaan Dopler atau USG untuk menentukan apakah janin masih hidup
3.      pemeriksaan fibrinogen dalam darah pada missed abortion
Data laboratorium
  1. Tes urine
  2. hemoglobin dan hematokrit
  3. menghitung trombosit
  4. kultur darah dan urine
F.     Masalah keperawatan
1.      Kecemasan
2.      intoleransi aktifitas
3.      gangguan rasa nyaman dan nyeri
4.      defisit volume cairan
G.    Diagnosa keperawatan
1.      Cemas berhubungan dengan pengeluaran konsepsi
2.      nyeri berhubungan dengan kontraksi uterus
3.      resiko tinggi defisit volume cairan berhubungan dengan perdarahan
4.      kehilangan berhubungan dengan pengeluaran hasil konsepsi
5.      intoleransi aktivitas berhubungan dengan nyeri

H.    Tujuan
DX I          : Mengurangii atau menghilangkan kecemasan
DX II        : Mengurangi atau menghilangkan rasa sakit
DX III       : Mencegah terjadinya defisit cairan
DX IV       : Mengurangi atau meminimalkan rasa kehilangan atau duka cita
DX V        : Klien dapat melakukan aktifitas sesuai dengan toleransinya

I.       fokus intervensi
DX I    : Cemas berhubungan dengan pengeluaran hasil konsepsi
       Intervensi :
-          Siapkan klien untuk reaksi atas kehilangan
-          Beri informasi yang jelas dengan cara yang tepat
DX II   : nyeri berhubungan dengan kontraksi uteri
      Intervensi
-          Menetapkan laporan dan tanda-tanda yang lain. Panggil pasien dengan nama lengkap. Jangan tinggalkan pasien tanpa pengawasan dalam waktu yang lama
-          Rasa sakit dan karakteristik, termasuk kualitas waktu lokasi dan intensitas
-          Melakukan tindakan yang membuat klien merasa nyaman seperti ganti posisi, teknik relaksasi serta kolaburasi obat analgetik


DX III  : Resiko tinggi defisit volume cairan berhubungan dengan perdarahan
      Intervensi :
-          Kaji perdarahan pada pasien, setiap jam atau dalam masa pengawasan
1.      Kaji perdarahan Vagina : warna, jumlah pembalut yang digunakan, derajat aliran dan banyaknya
2.      kaji adanya gumpalan
3.      kaji adanya tanda-tanda gelisah, taki kardia, hipertensi dan kepucatan
-          monitor nilai HB dan Hematokrit
DX IV :  Kehilangan berhubungan dengan pengeluaran hasil konsepsi
Intervensi :
-          Pasien menerima kenyataan kehilangan dengan tenang tidak dengan cara menghakimi
-          Jika diminta bisa juga dilakukan perawatan janin
-          Menganjurkan pada pasien untuk mendekatkan diri pada Tuhan YME
DX V : Intoleransi aktifitas berhubungan dengan nyeri
                  Intervensi
-          Menganjurkan pasien agar tiduran
-          Tidak melakukan hubungan seksual