KOMUNIKASI EFEKTIF DALAM KEPEMIMPINAN KEPERAWATAN: NEGOSIASI, PERSUASI, DAN KOLABORASI



1.      PENDAHULUAN

1.1  Latar belakang Penulisan
Kita mengenal fungsi-fungsi manajemen seperti perencanaan, pengorganisasian, serta pengendalian sebagai suatu kesatuan yang dapat dipisahkan dalam pelaksanaannya. Kepemimpinan dalam prakteknya memerlukan satu hal yang dapat menyatukan setiap fungsi yang berbeda. Hal tersebut adalah komunikasi. Komunikasi dalam suatu organisasi termasuk fungsi manajemen, Komunikasi yang efektif haruslah bersifat sistematis, berkelanjutan, terintegrasi ke dalam struktur organisasi. Seorang pemimpin menggunakan komunikasi dalam perannya, sehingga penguasaan komunikasi interpersonal yang baik merupakan keharusan untuk dimiliki setiap pemimpin.
Keperawatan juga menggunakan komunikasi dalam hal kepemimpinannya. Mengingat pentingnya komunikasi efektif dalam kepemimpinan, maka dalam makalah ini akan dibahas tentang komunikasi dalam organisasi, proses komunikasi, peran pemimpin dalam komunikasi organisasi, serta membahas tentang negosiasi, persuasi dan kolaborasi.

1.2  Tujuan penulisan
Setelah membaca makalah ini, mahasiswa diharapkan mampu:
1.2.1        Tujuan Umum:
Mengetahui komunikasi yang efektif dalam organisasi

1.2.2        Tujuan Khusus
·                     Peran kepemimpinan dan fungsi manajemen terkait dengan komunikasi di dalam organisasi
·                     Proses Komunikasi dan variabel yang mempengaruhinya
·                     Strategi dalam komunikasi
·                     Negosiasi dalam organisasi
·                     Persuasi dalam organisasi
·                     Kolaborasi dalam organisasi


2.      TINJAUAN TEORI

2.1  Peran kepemimpinan dan fungsi manajemen terkait komunikasi dalam organisasi
Seorang pemimpin dituntut memiliki komunikasi yang baik dalam melakukan manajemen organisasinya. Berikut merupakan peran kepemimpinan yang berkaitan dengan komunikasi:
a.       Memahami dan menggunakan jaringan komunikasi informal dalam organisasi dengan tepat
b.      Berkomunikasi dengan jelas dan pasti dalam bahasa yang dimengerti oleh orang lain
c.       Bersikap peka terhadap suasana internal dan eksternal pengirim dan penerima dan menggunakan kewaspadaan dalam menafsirkan pesan
d.      Secara cermat mengamati dan menafsirkan bahasa verbal dan nonverbal pegawai.
e.       Memberikan contoh dalam melakukan komunikasi yang asertif dan mendengarkan secara aktif
f.       Mencari keseimbangan antara pilihan teknologi komunikasi dan kebutuhan akan sentuhan manusia, kepedulian, dan interaksi tatap muka. (Marquis,2003)

Manajemen juga memiliki peran terkait komunikasi yaitu:
a.       Memahami dan menggunakan jaringan komunikasi formal dalam organisasi dengan tepat.
b.      Menentukan model komunikasi yang tepat dalam menyebarkan informasi secara optimal dalam hirarki komunikasi.
c.       Menyiapkan komunikasi tertulis yang jelas dan menggunakan bahasa yang tepat untuk pesan dan penerima
d.      Berkonsultasi dengan disiplin lain dalam mengkoordinasikan peran dan upaya kelompok yang tumpang tindih.
e.       Menggunakan pengetahuan mengenai dinamika kelompok untuk pencapaian tujuan dan memaksimalkan komunikasi dalam organisasi. (Marquis, 2003)

 2.2  Proses Komunikasi dan Variabel yang mempengaruhinya
Chitty (2001) dalam Marquis (2003) mendefinisikan komunikasi sebagai pertukaran kompleks antara pikiran, gagasan, atau informasi dalam dua level yaitu verbal dan nonverbal. Dalam semua jenis komunikasi terdapat pengirim pesan, penerima pesan, dan pesan itu sendiri. Terdapat juga mkedia untuk mengirim pesan, seperti verbal, tertulis, dan nonverbal.
Suasana internal dan eksternal pengirim dan penerima pesan juga mempengaruhi jalannya komunikasi. Suasana internal dan eksternal mempengaruhi persepsi penerimaan pesan.
Organisasi memiliki hirarki dimana dalam kaitan penyebaran pesan, bagian yang lebih rendah memiliki resiko sedikit menerima informasi daripada hirarki yang lebih tinggi. Jackson (1984) dalam Marquis (2003) mengidentifikasi karakteristik yang mempengaruhi komunikasi dalam organisasi besar seperti (1) jarak atau spasieal yang dapat menjadi hambatan komunikasi, (2) Ksubkelompok dalam organisasi yang memiliki nilai-nilai dan indentitas sendiri, (3)organisasi berada dalam perubahan yang konstan.
Jenis kelamin juga sedikit banyak mempengaruhi jalannya komunikasi. Hall dan Roter (1988) mengatakan bahwa komunikasi dokter wanita berfokus pada emosional dan psikososial pasien.

2.3  Saluran komunikasi dan cara komunikasi
Organisasi sangatlah kompleks, komunikasi yang dilakukan oleh pimpinan dapat berupa komunikasi vertikal, horizontal, ataupun diagonal. Komunikasi ke bawah memfasilitasi pimpinan untuk menyampaikan informasi pada pegawai.
Menurut Marquis & Huston (2010) model komunikasi yang sering digunakan oleh seorang manajer adalah sebagai berikut:
·         Komunikasi Tertulis
Model ini berupa pesan tertulis yang memungkinkan dilakukannya dokumentasi. Sebagian besar manajer diharuskan untuk melakukan tipe komunikasi ini tetapi penulisannya harus jelas.
·         Komunikasi Tatap Muka
Dalam komunikasi ini hanya sedikit yang mendapatkan informasi. Manajer berkomuikasi secara verbal ke atas dan ke bawah dan secara formal dan secara informal.
·         Komunikasi nonverbal
Komunikasi ini mencakup ekspresi ekspresi wajah, gerakan tubuh, serta sikap tubuh dan ini biasa disebut sebagai bahasa tubuh. Karena komunikasi verbal menunjukkan komponen emosional pesan, umumnya dianggap lebih handal dari komunikasi verbal.
·         Komunikasi Lewat Telepon
Saat ini manajer begitu banyak menggunakan telepon, telepon menjadi alat komunikasi yang penting, tetapi mempunyai keterbatasan sebagai alat komunikasi yang efektif.

2.4  Negosiasi dalam organisasi
Menurut Marquis dan Huston, (1998) Negosiasi yaitu suatu pendekatan yang kompetitif. Negosiasi dirancang sebagai suatu pendekatan kompromi untuk menyelesaikan konflik. Berbagai pihak yang terlibat menyerah dan lebih menekankan waktu mengakomodasi perbedaan-perbedaan antara keduanya.
Menurut Smeltzer, (1991) ada dua tipe dasar negosiasi :
·         Setiap orang menang (kooperatif).
·         Hanya satu orang yang menang (kompetitif).
Sebagai negotiator penting untuk :
·         Memaksimalkan kemenangan kedua pihak untuk mencapai tujuan bersama.
·         Meminimalkan kekalahan, bagi yang kalah tetap dapat mengikuti tujuan bersama.
·         Membuat kedua belah pihak merasa puas terhadap hasil organisasi.

2.5  Komunikasi Persuasif
Persuasif pada dasarnya berarti berusaha mempengaruhi cara pandang ataupun perilaku orang lain. (Foster 2016).



De Vito menerangkan prinsip tersebut adalah sebagai berikut:
1)             Prinsip Pemaparan Selektif
Prinsip ini menerangkan bahwa: (1) pendengar akan secara aktif mencari informasi yang mendukung opini, nilai, keputusan, perilaku, dan motivasi mereka (2) pendengar akan secara aktif menghindari informasi yang bertentangan dengan opini, nilai, keputusan, perilaku, dan motivasi mereka. Ketika proses meyakinkan sasaran persuasi akan dilangsungkan, maka pemaparan selektif akan terjadi.
2)      Prinsip Partisipasi Khalayak
Khalayak yang dimaksudkan disini adalah sasaran persuasi. Komunikasi persuasif akan lebih efektif apabila khalayak turut berpartisipasi dalam proses komunikasi. Persuasi bersifat transaksional dimana pembicara dan pendengar saling terlibat. Persuasi dapat dikatakan berhasil apabila khalayak berpartisipasi secara aktif.
3)   Prinsip Inokulasi
Prinsip ini berbicara tentang menghadapi sasaran persuasi yang terinokulasi – sasaran yang telah mengetahui posisi persuader dan telah menyiapkan senjata berupa argumen untuk menentangnya (persuader). Sehingga seorang persuader perlu persiapan seperti beberapa argumen dalam komunikasi yang akan dilakukan.
4)   Prinsip Besaran Perubahan
Prinsip ini mengatakan bahwa semakin besar dan semakin penting perubahan yang diinginkan persuader, maka semakin besar tantangan dan tugas untuk mencapai tujuan persuasi. Sehingga, persuasi diarahkan untuk melakukan perubahan kecil atau sedikit demi sedikit terlebih dahulu dan diperlukan untuk periode yang cukup lama.

2.6  Kolaborasi dalam organisasi
Kolaborasi adalah usaha bersama dari beberapa individu atau kelompok kerja untuk mencapai tujuan bersama. Kemampuan komunikasi dan kolaborasi menjadi sangat penting dalam suatu organisasi. Dalam dunia keperawatan kolaborasi dapat dijalankan lintas profesi dan lintas sektoral. Contohnya adalah kerjasama dengan dokter, pharmasist, fisioterapis, psikolog, nutrisionis dan masih banyak lagi.



3.      PEMBAHASAN

Komunikasi merupakan instrumen terkuat seorang pemimpin atau manajer yang dapat mendorong bagaimana menggunakan komunikasi ini dengan baik. Pada dasarnya fungsi yang baik dari sebuah organisasi dan masyarakat adalah komunikasi yang efektif. Komunikasi adalah aspek yang paling penting bagi seorang pemimpin, seorang manajer atau orang yang berbicara untuk suatu keberhasilan. Jika manajer atau pemimpin tahu bagaimana berkomunikasi yang baik dengan bawahan atau dengan orang-orang di sekitar maka hasil dan kinerja yang didapatkan akan tinggi (Radu & Ramona, 2014).
Kemampuan untuk berkomunikasi secara efektif dilakukan dengan cara yang dipahami oleh klien merupakan dasar untuk pemahaman dan kerjasama yang baik. Penyimpangan dalam komunikasi dapat menghalangi dalam memperoleh persetujuan informasi yang benar dan dapat menyebabkan ketidakpuasan klien, penyimpangan dalam keselamatan klien, dan penjelasan yang tidak memadai dari hasil yang merugikan (Mark& Joanna, 2014). Kegagalan dalam komunikasi adalah elemen yang sering di klaim sebagai sebuah malpraktek; kegagalan ini meliputi kurangnya informed consent, hubungan antar pasien, hambatan bahasa, dan instruksi debit yang tidak memadai.
Zaccaro, S. J., Gulick, L. M. V. & Khare, V. P. (2008 dalam  Radu & Ramona, 2014), telah mengklasifikasikan gaya komunikasi dari gaya otoriter ke yang paling partisipatif. tipenya dikenal dengan nama "sistem empat komunikasi" yang menunjuk, empat gaya umum komunikasi: otoriter, otoriter-eksploitasi, konsultatif dan partisipatif. Jenis komunikasi pemimpin menentukan jenis terkemuka. penulis lain menganggap bahwa dimensi dasar dari gaya terkemuka adalah: pertimbangan, saling percaya antara pemimpin dan anggota kelompok dan struktur inisiatif, yang mencerminkan kemungkinan pemimpin untuk menentukan batas dan struktur bagian sendiri dan orang-orang dari bawahan, dalam rangka untuk memenuhi tujuan kelompok.
Bowers D.G. & Seashore S.E. (1996 dalam Raru & Ramora, 2014). Memprediksi organisasi bisa berjalan dengan efektif  berdasrkan pada empat teori factor kepemimpina. Kapasitas pemimpin untuk menunjukkan tugas, dengan mengintensifkan motivasi kelompok terhadap aktivitas yang lebih baik, berkorelasi dengan batas-tujuan tertentu yang mengarah pada pemenuhan global tugas dan kepekaan dipahami sebagai penerimaan pemimpin terhadap hubungan sosial dan tekanan dari kelompok atau dari luar kelompok. Keberhasilan / kegagalan seorang pemimpin tergantung pada kemampuan untuk berkomunikasi, bekerja sama dengan bawahan. Nilai motivasi dari gaya komunikasi dipraktekkan merupakan kriteria penghargaan utama dari efisiensi.
            Selain hal-hal yang dipaparkan di atas, strategi komunikasi yakni persuasif, negosiasi dan kolaborasi tidak dapat dipisahkan dari budaya suatu organisasi. Tujuannya antaralain adalah untuk menyatukan visi mencapai tujuan organisasi, meminimalkan terjadinya konflik, serta mencari alternatif solusi dari permasalahan yang dimiliki oleh anggota organisasi.


4.      PENUTUP
4.1  Kesimpulan
Komunikasi efektif sangat penting dimiliki dalam menjalankan suatu organisasi. Untuk dapat melaksanakannya setiap anggota harus memahami bagaimana cara berkomunikasi yang efektif, terlebih bagi seorang pemimpin organisasi. Strategi komunikasi seperti negosiasi, kolaborasi dan persuasi tidak lepas dari komunikasi yang efektif.


Referensi

Mark, W.S & Joanna, D.M. (2014). Importance of effective communication. Chestnut's Obstetric Anesthesia: Principles and Practice.
Marquis, B.L & Huston, C.J. (2010). Kepemimpinan dan manajemen keperawatan: Teori & Aplikasi. Jakarta: EGC.
Radu, R & Ramona, R. (2014). Communication styles of leadership tools. Procedia - Social and Behavioral Sciences, 149 (2014), 813–818.
Marquis, B.L. dan Huston, C.J. (1998). Management Decision Making for Nurses. Philadelpia : JB.    Lippincott.
De Vito, Joseph A.2011. Komunikasi Antarmanusia.Edisi ke Lima.Jakarta: Karisma Publishing group.

Tidak ada komentar: