Melakukan wawancara mendalam (in-depth interviews) dalam penelitian kualitatif

Pengertian Wawancara
Wawancara adalah cara, utama yang dipergunakan seseorang untuk tujuan suatu tugas tertentu, mencoba mendapatkan keterangan atau pendirian secara lisan dari seseorang responden atau informan (orang yang ditanya keterangan atau pendiriannya), dengan bercakap-cakap berhadapan muka dengan orang itu (Black & Champion, 1976; Koentjoroningrat, 1986). Perbedaan antara responden dan informan adalah pada informan wawancara yang dilakukan adalah untuk mendapatkan keterangan dan data dari individu-individu tertentu untuk keperluan informasi sedangkan pada responden, wawancara yang dilakukan adalah untuk mendapatkan keterangan dan tentang diri pribadi, pendirian atau pandangan dari individu yang diwawancari untuk keperluan komparatif (Koentjoroningrat, 1986). Wawancara yang dalam satu penelitian bertujuan mengumpulkan keterangan atau informasi tentang kehidupan, sikap, perilaku, pandangan serta pendirian-pendirian mereka merupakan suatu pendukung utama dari metode observasi. Oleh karena pengumpulan data tidak hanya cukup diperoleh dari observasi atau karena terbatasnya waktu, orang dan tenaga untuk melakuakan observasi selama 24 jam, maka diperlukan wawancara.

Wawancara secara garis besar dibedakan menjadi dua bagian, yaitu wawancara testruktur dan wawancara tak terstruktur (Black & Champion, 1976).  Untuk wawancara terstruktur biasanya digunakan kuesioner yang telah disusun sedemikian rupa dan biasanya sudah dengan jawaban tertutup atau ada pilihan jawaban atau dapat juga pertanyaan dengan jawaban singkat.  Secara mudah wawancara terstruktur adalah kuesioner yang diverbalkan.  Peneliti yang menggunakan jenis wawancara ini bertujuan mencari jawaban terhadap hipotesis.  Untuk itu pertanyaan-pertanyaan disusun secara ketat.  Jenis ini dilakukan pada situasi jika sejumlah sampel yang representatif ditanyai dengan pertanyaan yang sama (Moloeng, 1990).  Semua subjek dipandang mempunyai kesempatan yang sama untuk menjawab pertanyaan yang diajukan.

Sedangkan wawancara tak terstruktur adalah wawancara yang tidak memakai kuesioner yang yang telah disusun dengan jawaban tertutup atau pilihan jawaban, tetapi dengan jawaban terbuka dan bukan jawaban singkat (bukan identitas diri, umur, atau jawaban singkat lainnya).  Bukan berarti bahwa wawancara ini tidak ada, pertanyaan sebagai penunjuk (guide) tetap ada.  Wawancara tak berstruktur ini juga dibedakan kembali menjadi wawancara yang terfokus dan wawancara yang tidak terfokus.

Wawancara tak terstruktur yang terfokus mempunyai pokok atau tema tertentu yang ingin dicapai.  Sedangkan wawancara yang bebas (tidak terfokus), pembicaraannya dapat beralih dari satu topik ke topik yang lain.  Wawancara bebas ini kadang disebut sebagai wawancara informal, bisa dilakukan dimana saja dan kapan saja, serta dapat pula secara sambil lalu.

Pada wawancara yang tak terstruktur terdapat wawancara yang disebut sebagai wawancara mendalam.  Wawancara mendalam adalah wawancara yang berusaha menggali sedalam-dalamnya dan mendapat pengertian yang seluas-luasnya dari jawaban yang diberikan oleh responden (Moser & Kalton, 1979).  Pertanyaan yang diajukan dapat terfokus ataupun bebas.  Untuk wawancara mendalam yang terfokus, peneliti berusaha memperoleh informasi yang dalam dan luas dari suatu topik tertentu dengan pertolongan beberapa pertanyaan utama sebagai penunjuk.  Pertanyaan utama sebagai penunjuk ini digunakan sebagai arah, agar informasi yang diinginkan tentang topik tertentu dapat diperoleh.  Bila tidak ada arah, maka informasi atau keterangan sebagai data yang dikumpulkan akan juga tak tearah, kesana-kemari dan sulit untuk dianalisis.  Untuk mendapatkan informasi yang sedalam-dalamnya dan seluas-luasnya dalam wawancara mendalam digunakan pertanyaan terbuka dengan kata tanya yang terbuka pula.  Pertanyaan yang hanya mengarah pada jawaban ‘ya’ – ‘tidak’ atau ‘setuju’ dan ‘tidak setuju’ atau yang memberikan peluang kepada responden untuk menjawab singkat, sebaiknya dihindari.

Fungsi Wawancara
Fungsi wawancara pada dasarnya digolongkan ke dalam tiga golongan besar (Sutrisno Hadi, 1983):

a.    Sebagai metode primer
Bila wawancara sebagai satu-satunya alat pengumpul data, atau sebagai metode diberi kedudukan yang utama diantara serangkaian metode-metode pengumpulan data lainnya.
b.    Sebagai metode pelengkap
Bila digunakan sebagai alat untuk mencari informasi-informasi yang tidak dapat diperoleh dengan cara lain.
c.    Sebagai kriterium
Bila digunakan untuk menguji kebenaran atau kemantapan suatu data yang diperoleh dengan cara lain, misalnya observasi, tes, kuesioner dan sebagainya.

Pentingnya Hubungan Baik antara Pewawancara dan Responden
Untuk memperoleh informasi yang lengkap, objektif dan adekuat seorang pewawancara tidak dapat bersikap egois dan hanya mementingkan kebutuhannya sendiri tanpa memperhatikan situasi responden yang akan diwawancara.  Pewawancara harus dapat mengembangkan hubungan yang baik dengan yang diwawancarainya.  Hubungan baik itu dapat diperoleh melalui (Sutrisno Hadi, 1983) :
a.    Partisipasi
Turut serta dalam kegiatan informan atau responden sehari-hari atau dalam peristiwa-peristiwa tertentu.
b.    Identifikasi
Pewawancara memperkenalkan diri sebagai orang dalam dan meyakinkan responden atau informan bahwa pewawancara adalah sahabat mereka dan bekerja untuk cita-cita mereka.
c.    Persuasi
Pewawancara dengan sopan dan ramah tamah menerangkan maksud dan keperluan kedatangannya serta meyakinkan informan atau responden tentang pentingnya informasi-informasi yang diberikan.
d.    Tokoh pengantar
Dengan menggunakan seseorang yang dipandang sebagai tokoh di daerah tersebut.  Sang tokoh diajak serta menjadi pengantar dan menerangkan perlunya memberikan informasi yang secukupnya pada pewawancara.

Tujuan dan Waktu Wawancara
Wawancara digunakan untuk memperoleh informasi, keterangan atau pendirian dari subjek penelitian sebagai data yang akan dianalisis guna memenuhi tujuan penelitian.  Lamanya wawancara ditentukan oleh pertanyaan yang diajukan.  Sebaiknya wawancara dilakukan kurang dari 2 (dua) jam untuk menghindari kebosanan.  Idealnya sekitar 1 – 1½ jam untuk satu responden.

Jenis Data yang Dikumpulkan dan Jumlah Subjek
Jenis data yang dikumpulkan dalam wawancara dan jumlah subjek adalah tergantung dari jenis wawancara yang digunakan.  Bila memakai wawancara terstruktur menggunakan kuesioner yang jawaban tertentu atau kuesioner yang berupa skala dengan jawaban yang berkisar sangat tidak setuju menuju sangat setuju, maka jawaban yang diperoleh dapat dikuantifikasikan.  Misalnya :
•    Umur responden
•    Sudah pernah memperoleh informasi tentang oralit atau belum
•    Sangat setuju bila oralit dibagi gratis
Data hasil kuantifikasi adalah angka yang dapat berupa prosentase (jumlah responden yang telah menerima informasi tentang oralit dan jumlah responden yang belum menerima), jumlah nilai skala (bila yang diverbalkan skala sikap) atau nilai mentah (misalnya untuk mencari rata-rata umur responden, yang dipakai adalah umur asli).  Adapun hasil dari analisis kuantitatif dengan kuesioner yang diverbalkan dapat dilihat dari contoh berikut :
•    Umur rata-rata responden : 34 tahun, dengan SD kurang lebih 4
•    Responden yang pernah memperoleh informasi mengenai oralit adalah 56%
Jumlah subjeknya biasanya juga mentaati kriteria jumlah sampel untuk penelitian kuantitatif.

Wawancara tak terstruktur menghasilkan data kualitatif, yang secara verbal lebih kaya, baik dalam bahasa maupun isinya.  Lebih kaya yang dimaksud adalah lebih bervariasi jawabannya, karena responden tidak dibatasi dalam menjawab.  Jawaban yang lebih bervariasi dan mendalam dapat diperoleh dari wawancara mendalam.  Data kasar (yang belum dianalisis) hasil wawancara tak terstruktur berupa cerita atau kata-kata.  Peneliti harus pandai-pandai memilah-milah jawaban responden yang serupa atau yang bertentang untuk analisisnya (yang akan diterangkan pada bab sersendiri).  Hasil dari analisis kualitatif dengan petunjuk wawancara dapat dilihat dari contoh berikut :

Separuh dari responden menyatakan sangat mendukung diadakannya pojok oralit di Puskesmas, dengan alasan akan memudahkan berobat, karena tidak perlu antri dengan pasien lainnya dan lebih memungkinkan tanya jawab dengan waktu yang tidak terbatas.

Jumlah subjek dalam wawancara tak terstruktur baik yang mendalam maupun tidak biasanya tidak terlalu banyak, asal dapat memberikan gambaran daerah atau tempat yang ditliti.  Tidak ada kriteria yang pasti.  Wawancara mendalam kadang hanya memerlukan subjek di bawah sepuluh orang, tetapi informasi yang didapatkan diusahakan sebanyak-banyaknya.

Teknik Wawancara

Persiapan wawancara
a.    Pelajarilah dan kuasailah pedoman pertanyaan wawancara
b.    Cobalah pertanyaan tersebut pada diri sendiri untuk mengetahui apakah kita memahami pertanyaan tersebut dan bila perlu cobakan pada orang lain (meskipun sudah dilakukan ujicoba terhadap pedoman pertanyaan tersebut)
c.    Pertimbangkan kembali waktu dan tempat yang cocok untuk menemui responden
d.    Alat-alat yang harus dipersiapkan adalah:
-    Catatan kecil yang dapat dimasukkan dalam saku
-    Alat tulis
-    Tape recorder untuk merekam, cek batu batereinya
-    Kaset
-    Pedoman wawancara
-    Fotokopi surat ijin penelitian, apabila anda sebagai asisten peneliti

Etika wawancara
(Depkes, 1993; Prabandari & Emilia, 1993; Scrimshaw & Hurtado, 1987)

a.    Usahakan agar kunjungan dapat diatur sedemikian rupa sehingga responden ada di rumah (atau tempat lain yang telah disepakati) pada saat wawancara. Jangan memaksakan waktu wawancara, oleh karena hal ini akan mempengaruhi kualitas data yang diperoleh.
b.    Pada waktu melaksanakan wawancara, mulailah setiap wawancara dengan memperkenalkan diri dan menjelaskan maksud kedatangan Saudara. Bila perlu tunjukkan surat ijin penelitian.
c.    Mintalah waktu pada responden (apabila ini baru pertama kali anda menghubungi responden) dan berilah perkiraan lama wawancara. Bila responden menolak diwawancara saat itu, tanyakanlah kesempatan lain untuk melakukan wawancara. Apabila responden menolak untuk diwawancarai, usahakan meminta penjelasan mengapa responden menolak sebagai masukan untuk pembahasan. Jangan memaksa responden untuk bersedia diwawancara. Hal ini menyalahi kode etik penelitian. Carilah alternatif responden yang lain.
d.    Sebelum melakukan wawancara, beri penjelasan mengenai tujuan penelitian dan kepentingannya menggunakan bahasa yang dapat dimengerti oleh responden, dan yakinkan kepada mereka mengenai kerahasiaan dan anonimitas data yang diperoleh dari responden.
e.    Tegaskan bahwa informasi dari responden hanya akan digunakan untuk kepentingan penelitian ini, dan tidak akan berpengaruh terhadap kehidupan responden.
f.    Idealnya wawancara hanya dilakukan dan dihadiri oleh pewawancara dengan responden. Tidak ada orang lain yang diperkenankan hadir, kecuali telah disepakati sebelumnya atau memang diperlukan (misalnya penterjemah). Jawaban yang dicatat hanya jawaban dari responden. Bila kehadiran orang lain sulit dihindarkan, sedapat mungkin orang tersebut diminta untuk membatasi jawaban atau mempengaruhi pendapat responden. Apabila tidak mungkin, bedakan dalam transkrip, apakah jawaban tersebut berasal dari responden atau orang yang mendampingi responden.
g.    Mintalah ijin untuk merekam wawancara tersebut agar anda tidak perlu mencatat seluruh jawaban responden dengan lengkap dan agar anda dapat lebih berkonsentrasi pada isi jawaban responden dan melakukan probing dimana perlu. Apabila responden keberatan untuk direkam, jangan memaksakan kehendak, namun berusahalah mencatat dan mengingat jawaban responden apa adanya. Jangan merekam dengan diam-diam, misalnya dengan tape recorder yang dijalankan di dalam tas. Hal ini melanggar etika penelitian.
h.    Kerja sama dengan responden perlu diperhatikan (rapport) sehingga ia tidak tampak segan dalam menjawab pertanyaan.
i.    Tunjukkan selalu sikap ramah, sopan santun, sabar, sekaligus juga sikap bahwa anda tertarik dengan jawaban-jawaban responden. Anda akan menemui berbagai karakter responden. Pada umumnya responden bersikap terus terang (jujur) dan senang membantu. Beberapa responden mungkin bersikap ragu-ragu dan tidak tegas, bahkan curiga, menentang, dan tidak kooperatif. Gunakan keterampilan dan sikap yang tepat dalam menghadapi responden agar wawancara tetap dapat dilaksanakan dengan baik.
j.    Terkadang responden menolak menjawab pertanyaan tertentu. Usahakan untuk menyampaikan pertanyaan tersebut dalam bentuk yang berbeda, atau menanyakannya kembali pada akhir wawancara. Apabila responden tetap menolak, usahakan secara bijaksana agar memperoleh informasi mengapa responden menolak menjawab pertanyaan tersebut.
k.    Jika responden membelokkan percakapan kepada hal-hal lain di luar wawancara atau berkonsultasi kepada pewawancara mengenai hal-hal lain, kembalikanlah arah wawancara sambil menyatakan bahwa pada akhir wawancara, responden akan diberi kesempatan untuk berkonsultasi atau sekedar mengemukakan pendapat.
l.    Jangan memberikan tanggapan dan komentar yang tidak baik terhadap jawaban yang diberikan responden atau kehilangan kesabaran. Demikian pula apabila jawabannya sesuai dengan yang diharapkan, jangan memberikan komentar yang membuat responden menyadari bahwa jawaban-jawaban seperti inilah yang dikehendaki oleh pewawancara. Bersikaplah netral terhadap semua jawaban yang diberikan oleh responden.
m.    Bersabarlah terhadap rasa ingin tahu mereka dan jawablah pertanyaan mereka dengan tepat dan jelas. Jangan memberikan jawaban yang salah ataupun jawaban yang bersifat menjanjikan (memberi sesuatu). Bila betul-betul tidak tahu, tundalah untuk menjawab dan bersikaplah jujur dengan mengatakan tidak tahu, dan akan berusaha mencarikan jawabannya (kalau memang peneliti benar-benar akan mencarikan jawabannya)
n.    Perlu diingat bahwa anda melakukan wawancara, bukan memberikan penyuluhan. Hindarilah memberi nasehat, memberi penyuluhan, sekalipun jawaban responden membuat anda ingin memberikan penyuluhan. Anda harus bersikap netral. Pada akhir wawancara, apabila responden meminta pendapat anda tentang suatu hal atau meminta informasi, maka sebatas pengetahuan yang anda miliki, anda dapat mengemukakan pendapat anda atau berusaha menjawab.
o.    Catatlah saat mulai dan mengakhiri wawancara, siapa saja yang ada dirumah, bagaimana situasi ketika wawancara berlangsung. Pada saat mulai wawancara, apabila responden mulai kelihatan tidak tenang atau tidak sabar dan segera ingin mengakhiri wawancara, bersikaplah tanggap dan meminta waktu lain untuk melanjutkan wawancara.
p.    Sebelum mohon diri, periksa kembali pedoman wawancara anda, barangkali ada pertanyaan yang tertinggal. Sebelum mengucapkan terima kasih, berilah waktu kepada responden untuk mengemukakan pendapatnya, baik perasaannya selama diwawancara ataupun komentar lainnya, atau kesempatan yang menanyakan berbagai hal lain. Apabila di kemudian hari terdapat informasi yang kurang, tanyakan kepada responden apakah responden bersedia untuk dikunjungi kembali.


Kapan Dilakukan Wawancara Mendalam ?
(Debus, 1993; Moleong, 1990)

a.    Bila topik yang akan diteliti adalah topik yang kompleks, tidak sederhana dan perlu mendapatkan informasi yang sebanyak-banyaknya, serta mengikutsertakan responden yang berpendidikan tinggi.
Misalnya : ingin mengetahui penanganan dokter Puskesmas terhadap balita dare dengan syok.

b.    Bila topik yang diteliti merupakan topik yang sangat sensitif.
Misalnya : Menanyakan KLB diare yang menyebabkan banyak balita yang meninggal kepada Bapak Camat
c.    Bila responden tepisah jauh secara geografis
Misalnya : ingin mendapatkan informasi mengenai istilah desentri di seluruh Indonesia  (harap diingat bahwa jumlah responden tidak usah terlalu banyak)
d.    Bila ada tekanan kelompok
Misalnya : ingin mengetahui pendapat diadakannya iuran untuk pojok oralit (padahal dari Kelompok Diskusi Terfokus sebagian besar anggota menekan agar biaya diserahkan pada Puskesmas)
e.    Bila pwawancara ingin menanyakan sesuatu secara lebih mendalam lagi pada seorang subjek tertentu
Misalnya : Banyak yang tidak setuju diadakannya pojok oralit, maka dilakukanlah wawancara mendalam terhadap salah satu Ibu yang tidak setuju untuk mengetahui alasan-alasan tidak setujuanya Ibu tersebut.
f.    Bila pewawancara menyelenggarakan kegiatan yang bersifat penemuan
Misalnya : ingin mengetahui sebab-sebab adanya KLB keracunan makanan pada balita di suatu tempat.
g.    Bila peneliti/pewawancara  tertarik untuk mengungkapkan motivasi, maksud atau penjelasan dari responden.
Misalnya : ingin mengetahui penjelasan responden tidak mau menggunakan oralit untuk terapi diare.
h.    Bila peneliti mau mencoba mengungkapkan pengertian suatu peristiwa, situasi atau keadaan tertentu.
Misalnya : ingin mengetahui mengapa diare sudah tidak merupakan penyakit prioritas di suatu Puskesmas.

Pengisian Kuesioner/Petunjuk Wawancara
a.    Kuasai konsep, definisi, maksud, dan tujuan diadakan penelitian yang akan dilakukan.
b.    Bacalah dengan baik catatan yang ditulis di bagian terdepan kuesioner setiap dimulainya wawancara.
c.    Apabila menggunakan kuesioner, tulis semua jawaban dengan pensil hitam (yang baik adalah pensil jenis HB), sejelas-jelasnya dan jangan menggunakan singkatan agar mudah dibaca pada tempat yang telah disediakan.  Kalau dapat ditulis dengan huruf balok. Apabila menggunakan petunjuk pada wawancara mendalam yang direkam, tuliskan pointers yang penting, terutama untuk kepentingan probing (pemeriksaan)
d.    Setelah wawancara selesai, sebelum meninggalkan responden teliti kembali kelengkapan pertanyaan yang harus dijawab.
e.    Setelah wawancara dengan satu responden, tulislah singkatan dari hasil wawancara dan penjelasan lain yang diperlukan pada lembar penjelasan dan singkatan hasil wawancara. Pada wawancara mendalam, lengkapilah transkrip wawancara terlebih dahulu.

Uji Coba Kuesioner/Petunjuk Wawancara
Sebelum digunakan di lapangan sesungguhnya, kuesioner maupun petunjuk wawancara yang akan digunakan sebaiknya diuji coba.  Uji coba dapat dilakukan dengan mengambil beberapa orang yang masih termasuk dalam wilayah penyelidikan.  Alat yang diujikan kemudian didiskusikan dengan mereka, baik bahasa maupun pertanyaannya.  Dari diskusi dicari petunjuk-petunjuk pertanyaan yang harus diperbaiki, dieliminasi dan ditambahkan.  Selain itu adakan perbaikan pada pertanyaan yang diperlukan.  Perbaikan dapat dipusatkan pada penggantian kata-kata asing yang terlalu akademik, pergantian pertanyaan yang biasa dilewati atau yang menimbulkan jawaban yang dangkal dan meragukan serta menambah dan mengurangi pertanyaan-pertanyaan yang kurang dan berlebih-lebihan menurut keseimbangan yang baik untuk menyelidiki faktor-faktor yang hendak diselidiki.

Uji coba ini juga berfungsi untuk meningkatkan validitas muka (face validity) dan konstruk dari variabel yang akan diteliti.  Melalui uji coba dapat diketahui apakah kuesioner/daftar pertanyaan ataupun petunjuk wawancara benar-benar mengukur yang hendak diukur (validitas muka) dan sesuai dengan teori yang mendasarinya (validitas konstruk).

Tabel 1. Menggunakan Diskusi Kelompok Terarah Atau Wawancara
Perorangan Secara Mendalam?

Masalah yang dipertimbangkan    Gunakan diskusi kelompok terarah bila ……    Gunakan wawancara perorangan secara mendalam bila……

Interaksi kelompok




Tekanan Kelompok/Rekan





Kepekaan Masalah





Kedalaman Tanggapan






Kelelahan Pewawancara







Materi Penggugah



Kesinambungan Informasi




Eksperimentasi pedoman Wawancara



Observasi




Logistik




Biaya dan waktu    Interaksi responden dapat memancing tanggapan yang lebih dalam dan pemikiran baru yang bermanfaat

Tekanan kelompok/ rekan bermanfaat dalam menantang pemikiran responden dan memperjelas pendapat yang bertentangan

Masalah tidak begitu peka, sehingga tidak membuat responden memberi tanggapan semaunya atau tidak memberi informasi

Masalah memungkinkan sebagian besar responden mengatakan semua hal yang relevan



Diperlukan seorang pewawancara untuk melaksanakan penelitian, beberapa kelompok tidak akan membuat pewawancara kelelahan atau bosan

Jumlah materi penggugah tidak banyak


Masalah diteliti secara mendalam dan benang merah antar perilaku tidak begitu penting

Cukup tahu masalah untuk menyusun pedoman wawancara yang baik


Perlu dan memungkinkan bagi pengambil keputusan untuk mengamati informasi konsumen “tangan pertama”

Jumlah responden yang disyaratkan bisa dikumpulkan di suatu lokasi


Hasil yang cepat sangat penting dan dana terbatas    Interaksi kelompok cendrung terbatas atau tidak produktif


Tekanan kelompok/rekan akan menghambat tanggapan dan mengaburkan makna yang diperoleh

Masalah sangat peka, sehingga responden tidak bersedia bicara terbuka dalam kelompok


Masalah membutuhkan tanggapan dalam dari tiap responden, seperti masalah yang rumit dan responden yang berpengetahuan banyak

Membutuhkan jumlah wawancara yang banyak.  Seorang pewawancara akan kelelahan atau bosan melakukannya



Sejumlah besar materi penggugah baru perlu dinilai

Perlu mengerti bagaimana kaitan antara berbagai sikap dan perilaku berdasar pola tertentu

Mungkin perlu membuat pedoman wawancara yang akan dirubah setelah wawancara terdahulu

Informasi konsumen “tangan pertama” tidak penting atau pengamatan tidak mungkin dilakukan

Responden secara geografis terpencar atau tidak mudah dikumpilkan karena berbagai alasan

Hasil yang cepat tidak begitu penting dan alokasi biaya memungkinkan



Berikut adalah contoh pedoman wawancara dan diskusi kelompok terarah dari studi AIDS di Kanada (Willms et al, 1996).




Pedoman Wawancara: Studi AIDS di Canada

CATATAN: Kalimat-kalimat berikut merupakan contoh yang dapat dipakai dalam wawancara. Pewawancara  boleh mempertimbangkan sendiri pertanyaan yang akan diajukannya.   

TOPIK
   
I.   ANGGOTA SUATU KOMUNITAS   
A.    Identitas
Bagaimanakah Anda mendeskripsikan diri Anda dan pekerjaan Anda?    Identitas (deskriptif)
   
B.    Definisi Komunitas
1.    Apakah ciri khas komunitas Anda? atau Apa yang membedakan komunitas Anda dengan komunitas lainnya?   
Ciri Khas Komunitas
(pertanyaan struktural)
2.    Bagaimana perbedaan kehidupan antara: misalnya, orang Jamaica di Toronto dengan orang Jamaica di Jamaica?    di sini vs. di sana
(pertanyaan kontras)
   
Untuk mengingatkan:  “Selama wawancara ini berlangsung saya mungkin akan beberapa kali meminta Anda untuk membandingkan antara komunitas Anda di sini dengan komunitas di tempat asal Anda.  Namun, saya akan lebih banyak meminta Anda menceritakan komunitas Anda di sini karena saat ini kita sedang mengumpulkan informasi untuk mengembangkan program pencegahan bagi orang-orang yang berimigrasi ke Kanada.”   
   
3.    Apakah orang-orang di komunitas Anda sering pulang ke kampung halaman?  Sebutkan alasannya (misalnya: liburan, bekerja, mengunjungi keluarga…)!    Pulang ke kampung halaman
4.    Sebutkanlah organisasi atau kelompok masyarakat yang berpengaruh di komunitas Anda!  Manakah yang paling berpengaruh bagi masyarakat/Anda?    Kelompok masyarakat
5.    Apakah hal yang paling sering dibicarakan di komunitas Anda?  Nilai yang mereka hargai (misalnya: dukungan komunitas, “urus diri sendiri”)?  Hal-hal yang mereka takuti (misalnya: pengusiran, polisi, aturan sekolah, kekerasan, kesempatan kerja yang tidak seimbang…)?    Nilai
Rasa takut

Apakah nilai-nilai tersebut berbeda bagi lelaki dan perempuan?    Lelaki dan perempuan
Apakah nilai-nilai tersebut berlaku sama bagi kaum muda dan kaum tua?    Kaum muda &  tua
Apakah hal-hal tersebut menimbulkan konflik?    Konflik
   
Kalimat penghubung:  “Kita baru saja membicarakan komunitas Anda secara umum (nilai-nilainya, hal-hal yang penting berkaitan dengan kepercayaan) dan sekarang marilah kita bicarakan hubungan macam apa yang ada di komunitas Anda (hubungan antara lelaki dengan perempuan, sesama perempuan, dan sesama lelaki)”.    
   
II.  HUBUNGAN DENGAN PASANGAN   
Laki-laki dan perempuan
1.    Apakah yang dilakukan oleh para lelaki dan para perempuan di komunitas Anda (misalnya: apakah perempuan hanya bekerja di rumah, apakah lelaki tidak mengijinkan istrinya bekerja di luar rumah)?
Mengapa ada pembedaan semacam itu?  Mengapa ada perbedaan peranan (misalnya: nilai-nilai tradisional)?     Peranan
Mengapa nilai-nilai tersebut masih bertahan di sini?    Bertahan
2.    Pada keadaan apakah peran tersebut diabaikan? 
Kapankah masyarakat akan meninggalkan peran-peran tersebut (dihargai oleh masyarakat vs. ekspresi pribadi)?    Meninggalkan peran
3.    Jenis hubungan (misalnya: pernikahan, monogami, poligami…)?    Jenis hubungan
   
Lelaki dan lelaki
1.    Apakah Anda menjumpai hubungan antara sesama lelaki di komunitas Anda?
2.    Apakah perbedaan antara hubungan sesama lelaki di komunitas Anda dengan di komunitas lainnya?    Lelaki dan lelaki

   
Perempuan dan perempuan
1.    Apakah Anda menjumpai hubungan antara sesama perempuan di komunitas Anda?
2.    Apakah perbedaan antara hubungan sesama perempuan di komunitas Anda dengan di komunitas lainnya?    Perempuan dan perempuan
Kalimat penghubung:  “Kita telah berbicara mengenai jenis-jenis hubungan yang ada di komunitas Anda,  Sekarang kita akan berbicara khusus mengenai HIV/AIDS.”   
   
III.    AIDS
1.    Menurut Anda apakah hal paling penting yang berhubungan dengan bagaimana orang tertular HIV/AIDS di komunitas Anda?    HIV/AIDS

   
Berikut ini beberapa contoh yang mungkin akan disebutkan oleh nara sumber.  Mereka mungkin akan bercerita mengenai hal-hal berikut atau mungkin juga hal-hal lainnya.  Pewawancara harus dapat mengenali keterangan yang diberikan dan menggalinya sedetail mungkin.   
   
A.  Ketimpangan Dinamika Kekuasaan dalam Berhubungan    Ketimpangan kekuasaan
-    dalam budaya semacam ini, lelaki mungkin terlalu dominan sehingga terjadi standar ganda
-    hal yang diperbolehkan bagi lelaki di komunitas ini tidak diperbolehkan bagi perempuan
-    lelaki mendapatkan hubungan seks di luar hubungan primernya
-    terbatasnya kesempatan untuk merundingkan “seks yang aman” di dalam rumah tangga tradisional
-    non-monogami: selingkuh, prostitusi, biseksual, poligami.   
   
B.   Prasangka
-    pengucilan/marginalisasi orang-orang yang menderita AIDS
-    mengapa?
-    Dianggap melakukan kesalahan
-    Tidak berharga bagi orang-orang yang menganggap dirinya berharga
-    Takut:
-    Mengapa?
-    Rasa takut bahwa mereka dapat tertular melalui interaksi sosial
-    Takut bahwa mereka dapat menjadi seperti orang-orang yang mereka lihat itu (homofobia internal)    Prasangka/pengucilan

   
C.    Religi
-    penderita AIDS adalah orang-orang yang berbuat dosa
-    mengapa demikian?
-    Penderita AIDS layak mendapatkan penyakit itu karena mereka telah melanggar aturan moral
-    Aturan moral apa?
-    Bahwa Anda tetap setia pada satu orang saja?
-    Tuhan menghukum para homoseks    Religi/dosa/melanggar aturan moral
   
D.    Keadaan Beresiko
-    semua orang dapat menjumpai keadaan beresiko ini karena profesi mereka, predikamen mereka, keadaan mereka (tidak mempunyai pasangan seksual dalam waktu lama, suasana liburan, insiden karena suntikan)
-    bagaimana Anda menghindari situasi semacam ini?
-    Dapatkah Anda menghindarinya?
-    Apa yang Anda lakukan bila berada dalam keadaan tersebut?
-    Tidak menyadari resiko yang ada (tidak terdidik)
-    Menyangkal resiko bagi diri mereka
-    Tidak mungkin mati muda    Keadaan Beresiko
   
Kalimat penghubung:  “Kita telah membicarakan HIV/AIDS dan penyebabnya.  Beberapa orang mungkin akan mengemukakan bahwa hanya ada beberapa cara untuk terkena HIVV/AIDS (melalui darah, injeksi, hubungan seks).  Berkaitan dengan itu, hal yang perlu kita bicarakan adalah bagaimana komunitas Anda memandang HIV/AIDS sebagai penyakit menular seksual.”   
   
IV.    SEKSUALITAS
“Saya akan memulainya dengan menanyakan beberapa pertanyaan umum mengenai seks di komunitas Anda.”   
   
A.    Komunikasi/Negosiasi
1.    Apakah seks dibicarakan di komunitas Anda?
Siapa yang berbicara tentang seks di komunitas Anda?
Bagaimana orang-orang belajar tentang seks?
Apakah orang tua berbicara mengenai seks kepada anak-anaknya?    Berbicara tentang seks
2.    Adakah cara tertentu bagi kaum muda untuk dapat belajar mengenai seks di komunitas Anda?  misalnya: paman kepada keponakan laki-laki, bibi kepada keponakan perempuannya, dll (keluarga)
-    pelajaran agama di kelas
-    sistem/aturan sekolah
-    lainnya (tambahkan contoh lain dari wawancara terdahulu)…    Belajar mengenai seks

3.    Apakah hal yang paling mempengaruhi orang untuk berhubungan secara seksual?
Contoh:   
-    gender (perbedaan peranan yang diperoleh tiap-tiap orang)    Gender
-    di dalam hubungan primer berlawanan dengan di luar hubungan primer (lebih permisif terhadap hubungan seks di luar hubungan primer)    Jenis hubungan
-    peer pressure (“lelaki/perempuan dalam kelompok dan apa yang mereka bicarakan”)
-    bukan hanya permisif,  tetapi secara sosial diberi sanksi
-    hal yang dilakukan secara pribadi berlawanan dengan hal yang dilarang masyarakat    Peer pressure
-    norma tradisi (monogami); aturan moral/agama dan tabu (“Kamu tidak boleh…!”)
-    umur (perilaku seksual tertentu diperbolehkan atau diabaikan pada usia tertentu)    Tradisi
   
B.    Perilaku Seksual    Perilaku Seksual
1.    Bagaimana perbedaan perilaku seks antara lelaki dan perempuan?
Apakah lelaki “dominan” dan perempuan “tunduk”?
Apakah lelaki memberi perintah (memimpin atau memandu hubungan seksual)?   
Gender

Apakah ada waktu tertentu saat seks tidak diperbolehkan (misalnya: saat menstruasi, acara/peringatan religius)?
Apakah ada waktu pantang seks (misal: beberapa waktu setelah persalinan)?    Waktu pantang seks
Tujuan berhubungan seks – apakah seks terutama bertujuan untuk mendapatkan anak?
Apakah seks dipandang sebagai kewajiban seseorang bagi pasangannya (misal: istri bagi suaminya)?
Apakah seks dianggap sebagai bagian dari hubungan yang sehat?    Tujuan
Apa yang terjadi bila satu pihak menginginkan seks sementara pasangannya tidak menginginkannya (bagaimana pemecahannya)?   
2.    Seberapa sering hubungan seks lintas-kultural atau antar-etnis terjadi?  Mana yang paling sering?    Antar-etnis
3.    Bagaimana perbedaan antara seksualitas komunitas Anda di sini dengan di kampung halaman?    di sini vs. di sana
   
C.    Kontrasepsi   
1.    Bagaimana penilaian komunitas Anda terhadap kontrasepsi? (misal: kondom)
2.    Cara kontrasepsi apakah yang lebih diterima/disukai?    Kontrasepsi
Apakah seks anal merupakan salah satu alternatif?
3.    Bagaimana suatu keputusan diambil berkaitan dengan kegunaan kontrasepsi?    Seks anal
   
D.    Homoseksual   
1.    Apakah masyarakat membicarakan homoseksual?
2.    Bagaimana hal tersebut dibicarakan/dipikirkan?
-    bagaimana (lelucon, dukungan, tentangan)
-    contoh kasus
3.    Apakah orang-orang menghubungkan homoseksual dengan HIV/AIDS? Dalam hal apa?    Homoseksual
   
E.    Pengaruh HIV/AIDS
1.    Sejauh mana HIV/AIDS mempengaruhi atau mengubah perilaku seksual dan prakteknya di komunitas Anda?    Pengaruh HIV/AIDS
2.    Bagaimana HIV/AIDS mempengaruhi perilaku tentang kontrasepsi/penggunaan kondom?    Penggunaan kondom
   
Kalimat penghubung:  “Kita telah berbicara tentang tipe-tipe perilaku seksual sebagai faktor resiko penularan HIV/AIDS, tetapi seperti telah saya singgung sebelumnya dikenal faktor resiko yang lain (melalui transfusi darah, penularan dari ibu ke anaknya)”     
   
V.    FAKTOR RESIKO LAIN   
A.    Penggunaan obat suntikan
1.    Sejauh mana penggunaan suntikan diperbincangkan di komunitas Anda?
2.    Dalam keadaan apa orang menggunakan obat suntik (misal: hanya untuk “iseng”)?   
3.    Apakah ada program penggantian jarum suntik di komunitas Anda?
4.    Apakah program tersebut mudah didapat di tempat tinggal Anda?
5.    Menurut masyarakat (atau Anda) apakah hubungan antara penggunaan suntikan dengan HIV/AIDS?   
   
B.    Darah   
1.    Apakah transfusi darah  – atau bahkan perdarahan – dipandang dapat menularkan AIDS?     Transfusi darah
2.    Bagaimana dengan penularan dari ibu ke anaknya (melalui persalinan)?
3.    Bagaimana dengan ibu ke anak (melalui air susu)?    Ibu – anak
4.    Bagaimana dengan tato atau ritual yang melibatkan pengirisan (kulit)?    Mentato/mengiris
   
Kalimat penghubung:  “Kita baru saja membicarakan seksualitas dalam kaitannya dengan HIV/AIDS (penyebab, situasi beresiko yang sifatnya khusus bagi komunitas Anda, dan resiko yang diketahui maupun tidak diketahui).  Berdasarkan hasil diskusi kita tersebut, sekarang saya ingin Anda menceritakan bagaimana HIV/AIDS dapat diatasi dan dicegah di komunitas Anda.”    
   
VI.    PENCEGAHAN BERDASARKAN KOMUNITAS    Pencegahan
1.    Seberapa pentingkah masalah HIV/AIDS bagi komunitas Anda?
Bagaimana bila dibandingkan dengan masalah lainnya?
2.    Apakah sikap tertentu terhadap AIDS dan orang yang hidup dengan AIDS?
Bagaimana persepsi tentang AIDS di komunitas Anda?
3.    Bagaimana program pendidikan dan pencegahan AIDS  yang telah ada diterima di lingkungan  Anda (program yang disusun dengan/tanpa melibatkan komunitas)?
Apakah program ini efektif ?  Berikan alasan!
Apakah ada masalah dengan (pesan-pesan yang terkandung dalam) program tersebut?   
4.    Apakah program ini telah  mampu mengubah cara hidup masyarakat?
Apakah orang menjadi lebih setia terhadap pasangannya?
Apakah cara pantang seks menjadi salah satu pilihan?
Apakah lebih banyak orang menggunakan kondom?
Apakah orang meniru praktek seks yang lebih aman?    Perilaku yang berubah
5.    Bagaimana pola resiko di komumitas Anda?
Adakah golongan orang yang lebih terpengaruh penyakit ini?
Mengapa demikian?
Adakah situasi (berkaitan dengan sosial/pekerjaan) yang berhubungan dengan resiko tambahan ini?
    Pola resiko
6.    Menurut Anda apakah yang harus dilakukan?
Bagaimana seharusnya hal tersebut dilakukan?
Siapakah yang haurs melakukannya?
Di manakah hal tersebut seharusnya terjadi(masjid, rumah, sekolah)?
Media apakah yang seharusnya digunakan (TV, drama, cetakan, poster, di bar, dll.)?
Golongan apakah yang akan menjadi sasaran pendidikan AIDS?
Bagaimana kelompok-kelompok yang berbeda dapat dicakup?    Saran-saran
   
VII.    DAPATKAH ANDA MEMBERI BANTUAN LEBIH LANJUT?   
1.    Di samping in-depth interview seperti ini, kami akan mengadakan focus group discussion dengan anggota dari komunitas ini.  Apakah Anda merasa hal ini tepat?  Metode yang kami gunakan haruslah membuat orang merasa nyaman dan senang.    Metode yang tepat
2.    Apakah kelompok-kelompok tersebut (dan komposisinya) akan cocok untuk dibentuk?
3.    Apakah ada komposisi kelompok yang dapat menimbulkan penolakan?    Kelompok yang harus ada
4.    Apakah ada cara yang lebih baik untuk mendapat informasi tentang HIV/AIDS dan juga sebagai pencegahan di komunitas Anda?   
5.    Kami berkeinginan untuk melanjutkan diskusi tentang masalah ini dengan anggota komunitas Anda yang lain.  Siapakah yang Anda rekomendasikan untuk diwawancarai?  Apakah Anda bersedia untuk memperkenalkan mereka kepada saya?  Apakah Anda ingin berbicara dulu dengan mereka atau saya harus mengundang mereka dan menyebutkan nama Anda?    Siapa lagi
6.    Adakah yang ingin Anda tambahkan?    Tambahan
   
“Terima kasih”   

Pedoman Diskusi Kelompok Terarah


Pertanyaan-pertanyaan ini berasal dari wawancara kunci dan analisa pendahuluan dari teks wawancara ini.  Berikut ini enam topik utama yang dikejar dalam diskusi Focus Group ini.  Kata-kata yang diberikan hanyalah contoh belaka dan masih perlu disusun ulang secara lebih tepat untuk digunakan di tiap kelompok diskusi.  Susunan pertanyaannya juga merupakan rekomendasi belaka.

1.    Kehidupan di Komunitas
“Apakah nilai-nilai dasar yang ada di komunitas Anda (pedoman hidup, keyakinan)?
Apakah yang mendukung (menopang) nilai-nilai tersebut; apakah yang mengancamnya?”
2.    Kehidupan Rumah tangga
“Bagaimana Anda menggambarkan kehidupan tertentu (misalnya: orang Somalia) di Toronto?
Apakah bedanya dengan yang Anda sebut “keluarga Kanada”?
Apakah persamaannya?”
3.    Kehidupan Seksual
“Seberapa pentingkah hubungan seksual antara suami istri dalam perkawinan tradisional?
Bagaimanakah keadaan tersebut berubah di Kanada?”
4.    Resiko
“Hubungan seperti apakah yang mengancam perkawinan (misalnya: berhubungan seks dengan teman, hubungan dengan teman sekantor, biseksual, berzina)?
Keadaan seperti apa yang berperan dalam munculnya perasaan tersebut?
Keadaan seperti apa yang menyebabkan orang menjadi rentan terhadap keadaan di atas?
Sejauh mana hubungan di luar nikah terancam oleh jenis hubungan seksual di atas?”
5.    AIDS
“Seberapa jauh AIDS menjadi masalah di komunitas Anda?”
6.    Pencegahan HIV/AIDS
“Apakah yang Anda lakukan untuk mencegah penyakit ini di komunitas Anda?  Bagaimana Anda akan melaksanakannya?  Adakah yang dapat dilakukan?”

Sumber: Willms D, Singer SM, Adrien A, Godin G, Maticka-Tyndale E, Cappon P. Participatory aspects in the qualitative research design of phase II of the ethnocultural communities facing AIDS study. Canadian Journal of Public Health 1996; 87 Suppl 1: S22 – 25.

Contoh pedoman diskusi kelompok terarah pada studi bentuk pelayanan kesehatan reproduksi pada remaja (Utarini, 1999).


PANDUAN DISKUSI KELOMPOK TERARAH (DKT) PELAYANAN KESEHATAN REPRODUKSI BAGI REMAJA


Diskusi Kelompok Terarah I

Informasi awal

1.    Terima kasih atas kesediaannya untuk hadir
2.    Perkenalan fasilitator dan note-taker DKT: siapa? Tidak perlu menjelaskan keterlibatannya di Sahaja
3.    DKT ini merupakan bagian dari penelitian mengenai layanan kesehatan reproduksi bagi remaja. Tim penelitian ini terdiri dari para pemerhati masalah remaja, yaitu ada yang berlatar belakang kesehatan masyarakat, psikologi, pendidikan kesehatan, juga yang langsung berkecimpung dalam kegiatan-kegiatan remaja. Dalam penelitian ini kami ingin mengetahui bagaimana pendapat teman-teman atau mendapat masukan dari teman-teman kalau kita ingin membuat suatu pusat layanan reproduksi bagi remaja.
4.    Pelaksanaan diskusi ini dilakukan dalam 2 seri, yaitu pada hari ini dan satu kali pertemuan lagi sebagai kelanjutan dari diskusi hari ini, waktunya nanti kita bicarakan bersama.
5.    Dalam diskusi nanti, kami berharap teman-teman dapat mengemukakan pendapat secara terbuka dan bebas, apa adanya. Yang ingin kami peroleh adalah bermacam-macam pendapat teman-teman, bukan untuk mencari kesepakatan. Semua yang teman-teman kemukakan pada diskusi ini kami jamin kerahasiaannya.
6.    Diskusi ini nanti akan menggunakan video sebagai pemancing diskusi, yang nanti akan kita putar dalam 2 bagian. Bagian pertama pada diskusi ini, lalu lanjutannya pada diskusi mendatang.
7.    Perkenalan dengan peserta

Pemutaran video
Video diputar sampai dengan setting ketika Aan menutup wajahnya dengan majalah.

Isi diskusi

1.    Bagaimana pendapat teman-teman semua mengenai video tersebut? (Pertanyaan ini sekaligus sebagai ice-breaking. Biarkan peserta mengkomentari secara bebas, meskipun yang muncul adalah hal-hal yang normatif ataupun yang bersifat menghakimi)
2.    Apakah video tersebut menampilkan masalah yang umum dihadapi remaja?
•    Peserta dipancing memberikan contoh-contoh masalah mereka ataupun temannya
•    Mengapa timbul masalah tersebut?
3.    Kalau punya masalah, apa yang umumnya pertama dilakukan oleh remaja?
•    Cerita ke siapa?
•    Mengapa cerita ke mereka?
•    Mengapa merasa terbuka dengan mereka (gali ciri-cirinya……)
•    Situasi bagaimana yang dipilih untuk cerita? Mengapa?
4.    Apa yang dilakukan seandainya belum ada jalan keluar?
•    Apa tindakannya?
•    Kemana saja?
•    Mengapa?
5.    Bagaimana halnya dengan kebutuhan informasi mengenai kesehatan reproduksi remaja, seksualitas?
•    Isi informasi
•    Sumber informasi
•    Mudah tidaknya diperoleh oleh remaja
•    Keterpercayaan sumber informasi (pertanyaan ini tidak perlu digali dengan mendalam, oleh karena sudah banyak informasi sebelumnya, ini hanya untuk konfirmasi saja)



Diskusi Kelompok Terarah II

Informasi awal

1.    Terima kasih atas kesediaannya untuk hadir sekali lagi
2.    Diskusi kedua ini merupakan kelanjutan dari diskusi yang pertama
3.    Fasilitator sedikit merangkum hasil diskusi yang pertama, diringkas temuan-temuan yang menarik dari diskusi pertama. Ini merupakan starting point yang penting. Mungkin bisa dikemukakan bahwa sudah terpikir akan kebutuhan tempat layanan kesehatan reproduksi bagi remaja, sehingga pada diskusi kedua ini menekankan tempatnya itu seperti apa.

Pemutaran video
Fasilitator punya kebebasan untuk menentukan apakah akan melanjutkan pemutaran video dari tempat berhenti pada diskusi pertama, ataukah memutar video dari awal. Disesuaikan dengan situasi diskusi pertama. Video diputar sampai selesai.

Isi diskusi:

1.    Bagaimana pendapat teman-teman secara umum tentang video tersebut (terutama video bagian kedua)? Biarkan peserta bebas mengemukakan pendapat baik mengenai keputusan yang diambil oleh kedua pasangan remaja tersebut maupun pendapat mengenai pelayanannya sendiri
2.    Bagaimana pendapat teman-teman mengenai pelayanannya (bisa dipancing dengan bagaimana pelayanan yang dipilih oleh remaja A dan B di video tersebut, bagaimana bedanya?)
3.    (Kalau mereka mulai menyebutkan ciri-ciri pelayanan yang ideal, langsung difollow-up saja). Bagaimana bentuk layanan kesehatan reproduksi yang ideal bagi remaja?
•    Isi layanan (apa saja macam layanannya)
•    Ciri-ciri layanan yang ideal:
-    Lay out fisik bangunan
-    Interior
-    Suasana
-    Konselor
-    Proses pelayanan (pendaftaran, menunggu lama, ruang tunggu, apakah ada proses-proses yang membuat mereka tidak mau menggunakan layanan tersebut)

Penutup:
Setelah diskusi diakhiri, peserta diskusi diberi kesempatan untuk bertanya jawab atau bercerita tentang apa saja yang ingin mereka kemukakan. Disini fasilitator berubah peran sebagai konselor Sahaja. Diskusi ini tidak direkam. Transkrip dapat mencantumkan hal-hal yang muncul dalam diskusi tanya jawab ini hanya apabila sangat relevan dengan tema penelitian serta belum muncul dalam FGDnya. Sebagai kenang-kenangan, juga dibagikan reward berupa souvenir.

Tidak ada komentar: