Aplikasi Merah Putih

Assalamualaikum.
dalam rangka memeriahkan hari kemerdekaan Indonesia, telah hadir aplikasi merah putih terbaru untuk mendapatkan pulsa gratis. Sudah terbukti dapat pulsa langsung. Sebarkan berita gembira ini. Download aplikasinya lewat link dibawah ini :
https://invite.cashtree.id/fd659d

ASUHAN KEPERAWATAN ULKUS DIABETIKUM



BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Penyakit Diabetes Mellitus (DM) sering disebut the great imitator karena penyakit ini dapat mengenai semua organ tubuh seperti otak (stroke), ginjal (gagal ginjal), jantung, mata, kaki (gangren diabetik). Gejala DM dapat timbul perlahan-lahan sehingga pasien tidak menyadari adanya perubahan pada dirinya seperti minum menjadi lebih banyak (polidipsi), buang air kecil lebih sering (poliuri), makan lebih banyak (polifagi) ataupun berat badan menurun tanpa sebab yang jelas (Armstrong, 2007).
Pada penyandang diabetes melitus (DM) dapat terjadi komplikasi pada semua tingkat sel dan semua tingkatan anatomik. Manifestasi komplikasi kronik dapat terjadi pada tingkat pembuluh darah kecil (mikro faskuler). Pada pembuluh darah besar, menisfestasi komplikasi kronik DM dapat terjadi pada pembuluh darah serebral, jantung (penyakit jantung koroner) dan pembuluh darah perifer (tungkai bawah). Komplikasi lain DM dapat berupa kerentanan berlebihan terhadap infeksi dengan akibat mudahnya terjadi infeksi saluran kemih, tuberkulosis paru dan infeksi kaki, yang kemudian dapat berkembang menjadi ulkus/gangren diabetes (Sudoyo,2009).
Istilah kaki diabetik digunakan untuk kelainan kaki mulai dari ulkus sampai gangren yang terjadi pada orang dengan diabetes akibat neuropati atau iskemia perifer, atau keduanya (Grace & Borley, 2005).
Berdasarkan data Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) tahun 2010, pasien diabetes mellitus tipe 2 (kronis) di Indonesia naik dari 8,4 juta pada 2000 menjadi 21,3 juta tahun 2010. Sedangkan  International Diabetes Federation memperkirakan pada 2030 jumlah penderita diabetes di seluruh dunia mencapai 450 juta orang (Mayfield, 2007).

B.  Tujuan
Tujuan penulisan makalah ini adalah untuk mengetahui asuhan keperawatan klien dengan gangrene (ulkus kaki diabetik).



BAB II
TINJAUAN TEORITIS
A.    Definisi Kaki Diabetik
Gangren Kaki Diabetik adalah luka pada kaki yang merah kehitam-hitaman dan berbau busuk akibat sumbatan yang terjadi di pembuluh darah sedang atau besar di tungkai.
Istilah kaki diabetik digunakan untuk kelainan kaki mulai dari ulkus sampai gangren yang terjadi pada orang dengan diabetes akibat neuropati atau iskemia perifer, atau keduanya.
Kaki diabetik merupakan salah satu komplikasi kronik Diabetes Melitus (Sudoyo, 2009). Masalah khusus  pada pasien ini adalah berkembangnya ulkus pada kaki dan tungkai bawah. Ulkus terutama terjadi karena distribusi tekanan abnormal sekunder karena neuropati diabetik. Kemungkinan lain ulkus diawali pemakaian sepatu yang tidak pas dan tertusuk benda asing seperti jarum dan paku pada pasien dengan defisit sensori yang menghalangi pasien mengalami nyeri (Isselbacher, 2000).

B.     Anatomi Fisiologi
Pankreas adalah kelenjar berwarna merah muda keabuan dengan panjang 12 – 15 cm dan tranversal membentang pada dinding abdomen posterior dibelakang lambung, kelenjar inilah yang mengekresikan insulin melalui pulau langerhans yang berada dalam kelenjar pankreas. Didalam kelenjar pankreas terdapat sel beta yang menghasilkan insulin, didalam penkreas mengandung lebih kurang 100.000 pulau langerhans dan tiap pulau berisi 100 sel beta. Selain itu pankreas juga terdapat sel alfa, yang bekerja sebaliknya insulin, sel ini menghasilkan glukagon yang berfungsi untuk meningkatkan gula darah.
Insulin adalah suatu hormon yang menurunkan kadar gula darah dengan meransang perubahan glukosa menjadi glukagen untuk disimpan dan dengan meningkatkan ambilan glukosa selular. Insulin berfungsi memperbaiki kemampuan sel tubuh untuk mengobservasi dan menggunakan glukosa serta lemak. Asupan glukosa yang terdapat dalam darah dihasilkan dari pemecahan karbohidrat dalam berbagai bentuk termasuk monosakarida dan unit-unit kimia yang komplek, disakarida dan polisakarida. Karbohidrat dikosumsi didalam tubuh dan dipecahkan menjadi monosakarida kemudian diserap dalam tubuh melalui duodenum dan jejunum proksimal.                                                
   (Evelyn, 2003)

C.    Etiologi Kaki Diabetik
Adapun etiologi dari kaki diabetik adalah sebagai berikut:
1.      Suplay darah kurang. Jika sirkulasi terhambat akibat pembuluh darah menyempit, kaki menjadi kurang peka terhadap gangguan seperti udara dingin, infeksi, atau luka.
2.      Neuropati adalah kondisi kerusakan saraf akibat tingginya tingkat kadar gula darah sehingga terjadi gejala kesemutan, nyeri, dan akhirnya mati rasa pada kaki dan tungkai (Sustrani dkk, 2006). Neuropati merupakan salah satu komplikasi yang sering ditemukan pada penderita diabetes melitus yang menyebabkan penderita beresiko mengalami kaki diabetes (Sudoyo dkk, 2009). Hiperglikemia pada penderita diabetes melitus menyebabkan kerusakan pada saraf (Sudoyo dkk, 2009). Kerusakan pada saraf membuat kaki kurang peka terhadap rasa sakit dan suhu. Jika kaki seseorang menjadi kurang peka, memungkinkan orang tersebut tidak mengetahui bila terjadi luka atau infeksi sehingga memperparah luka jika tidak segera diobati (Suriadi, 2004).
3.      Berkurangnya daya tahan tubuh terhadap infeksi. Secara umum penderita diabetes lebih rentan terhadap infeksi . Hal ini dikarenakan kemampuan sel darah putih untuk membunuh kuman berkurang pada kondisi kadar gula darah diatas 200mg%.

D.    Manifestasi Klinik
1.   Umumnya pada daerah plantar kaki
2.   Kelainan bentuk kaki; deformitas kaki
3.   Berjalan yang kurang seimbang
4.   Adanya fisura dan kering pada kulit
5.   Pembentukan kalus pada area yang tertekan
6.   Tekanan nadi pada area kaki kemungkinan normal
7.   ABI normal
8.   Luka biasanya dalam dan berlubang
9.   Sekeliling kulit dapat terjadi selulitis
10.  Hilang atau berkurangnya sensasi nyeri
11.  Xerosis (keringnya kulit kronik)
12.  Hyperkeratosis pada sekeliling luka dan anhidrosis
13.  Eksudat yang tidak begitu banyak
14.  Biasanya luka tampak merah
Gejala permulaannya adalah parestesia (rasa tertusuk-tusuk, kesemutan atau peningkatan kepekaan) dan rasa terbakar (khususnya pada malam hari) dan  bertambah lanjutnya kaki merasa mati rasa. Di samping itu, penurunan fungsi proprioseptif (kesadaran terhadap postur serta gerakan tubuh dan terhadap posisi serta berat benda yang berhubungan dengan tubuh) dan penurunan sensibilitas terhadap sentuhan ringan dapat menimbulkan gaya  berjalan yang terhuyung-huyung. Penurunan sensibilitas nyeri dan suhu  membuat penderita kaki diabetes beresiko untuk mengalami cedera dan infeksi pada kaki tanpa diketahui (Brunner, 2001).

E.     Patofisiologi
Penyakit neuropati dan vaskular adalah faktor utama yang mengkontribusi terjadinya luka. Masalah luka yang terjadi pada pasien dengan diabetik terkait dengan adanya pengaruh pada saraf yang terdapat pada kaki. Pasien dengan diabetik juga mengalami gangguan pada sirkulasi. Efek sirkulasi inilah yang menyebabkan kerusakan pada saraf yang sering disebut neuropati dan berdampak pada sistem saraf autoimun yang mengontrol fungsi otot-otot halus, kelenjar dan organ viseral. Gangguan pada saraf autonomi pengaruhnya adalah terjadi perubahan tonus otot yang menyebabkan abnormalnya aliran darah, dengan demikian kebutuhan akan nutrisi dan oksigen maupun pemberian antibiotik tidak mencukupi atau tidak dapat mencapai jaringan perifer, dan atau untuk kebutuhan metabolisme pada lokasi tersebut. Efek pada autonomi neuropati ini akan menimbulkan kulit menjadi kering, anhidrosis yang memudahkan kulit menjadi rusak dan luka yang sukar sembuh, dan dapat menimbulkan infeksi dan mengkontribusi untuk terjadinya gangren. Dampak lain adalah karena adanya neuropati perifer yang mempengaruhi pada saraf sensori dan sistem motor yang menyebabkan hilangnya sensasi rasa nyeri, tekanan dan perubahan temperatur.

F.     Klasifikasi
Menurut Edmond 2004-2005 dalam Sudoyo (2009) klasifikasi kaki diabetes berdasarkan pada perjalanan alamiah kaki diabetes terbagi menjadi  6 stage, yaitu:
1.   Stage 1= normal foot
tidak ada lesi terbuka, kulit masih utuh disertai dengan pembentukan kalus ”claw”
2.   Stage 2 = High Risk Foot
ulkus superfisial terbatas pada kulit
3.   Stage 3 = Ulcerated foot
ulkus dalam dan menembus tendon dan tulang
4.   Stage 4 = Infected foot
abses dalam, dengan atau tanpa osteomielitis
     5.   Stage 5 = Necrotic foot
gangren jari kaki atau bagian distal kaki dengan atau tanpa selullitis

6.   Srage 6 = Unsalvable foot
gangren seluruh kaki atau sebagian tungkai bawah

Untuk stage 1 dan stage 2, peran pencegahan primer sangat penting dan semuanya dapat dikerjakan pada pelayanan kesehatan primer, baik oleh podiatrist/chiropodist maupun oleh dokter umum atau dokter keluarga.
Stage 3 dan 4 kebanyakan sudah memerlukan perawatan di tingkat pelayanan kesehatan yang lebih memadai umumnya sudah memerlukan pelayanan spesialistik. Untuk stage 5, apalagi 6 jelas merupakan kasus rawat inap, dan jelas sekali memerlukan suatu kerjasama tim yang sangat erat, dimana harus ada dokter bedah, terutamanya dokter ahli bedah vaskuler atau ahli bedah plastik dan rekonstruksi (Sudoyo, 2009)
Klasifikasi lesi kaki diabetik juga dapat didasarkan pada dalamnya luka dan luasnya iskemik yang dimodifikasi oleh Brodsky dara klasifikasi kaki diabetik menurut Wagner, yaitu:




Kedalaman luka
Defenisi
0
Kaki berisiko, tanpa ulserasi
1
Ulserasi superficial, tanpa infeksi
2
Ulterasi yang dalam sampai mengenai tendon
3
Ulserasi yang luas/ abses

Luas daerah iskemia

Defenisi
A
Tanpa iskemia
B
Iskemia tanpa gangrene
C
Patial gangrene
D
Complete foot gangrene
(Handaya, 2009)

G. Evaluasi Diagnostik (Pemeriksaan Penunjang)
1.      Gula darah meningkat: 200-1000 mg/dl atau lebih.
2.      Aceton plasma: positif secara mencolok
3.      Asam lemak bebas: kadar lipid dan kolesterol
4.      Osmolalitas serum: <330 dl="" mos="" span="">
5.      Elektrolit
   Natrium: Meningkat / menurun
   Kaium: Normal/meningkat
   Fosphor: Lebih sering meninggi
   GDA: Biasanya menunjukkan pH rendah dan menurun pada HCO3 dengan kompensasi alkalosis respiratorik.
   Darah:
  Trombosit darah: H+ mungkin meninggi (dehidrasi)
  Ureum kreatinin: Meningkat atau normal
  Insulin darah: Pada tipe I mungkin menurun atau tidak ada. Pada tipe II mungkin normal.
      Urin
  Gula dan aseton +, berat jenis menurun.
        Kultur dan sensivitas : kemungkinan adanya infeksi saluran kemih.


H.    Penatalaksanaan Medis dan Keperawatan
1.   Medis
Menurut Soegondo (2006), penatalaksanaan Medis pada pasien dengan Diabetes Mellitus meliputi:
a.    Obat hiperglikemik oral (OHO).
Berdasarkan cara kerjanya OHO dibagi menjadi 4 golongan :
1)   Pemicu sekresi insulin.
2)   Penambah sensitivitas terhadap insulin.
3)   Penghambat glukoneogenesis.
4)   Penghambat glukosidase alfa.
b.   Insulin
Insulin diperlukan pada keadaan :
1)   Penurunan berat badan yang cepat.
2)   Hiperglikemia berat yang disertai ketoasidosis.
3)   Ketoasidosis diabetik.
4)   Gangguan fungsi ginjal atau hati yang berat.
c.    Terapi Kombinasi
Pemberian OHO maupun insulin selalu dimulai dengan dosis rendah, untuk kemudian dinaikkan secara bertahap sesuai dengan respon kadar glukosa darah.
2.   Keperawatan
Usaha perawatan dan pengobatan yang ditujukan terhadap ulkus antara lain dengan antibiotika atau kemoterapi. Perawatan luka dengan mengompreskan ulkus dengan larutan klorida atau larutan antiseptic ringan. Misalnya rivanol dan larutan kalium permanganate 1:500 mg dan penutupan ulkus dengan kassa steril. Alat-alat ortopedi yang secara mekanik yang dapat merata tekanan tubuh terhadap kaki yang luka amputasi mungkin diperlukan untuk kasus DM.
Menurut Smeltzer dan Bare (2001), tujuan utama penatalaksanaan terapi pada Diabetes Mellitus adalah menormalkan aktifitas insulin dan kadar glukosa darah, sedangkan tujuan jangka panjangnya adalah untuk menghindari terjadinya komplikasi. Ada beberapa komponen dalam penatalaksanaan Ulkus Diabetik:
a.    Diet
Diet dan pengendalian berat badan merupakan dasar untuk memberikan semua unsur makanan esensial, memenuhi kebutuhan energi, mencegah kadar glukosa darah yang tinggi dan menurunkan kadar lemak.
b.   Latihan
Dengan latihan ini misalnya dengan berolahraga yang teratur akan menurunkan kadar glukosa darah dengan meningkatkan pengambilan glukosa oleh otot dan memperbaiki pemakaian kadar insulin.
c.    Pemantauan
Dengan melakukan pemantaunan kadar glukosa darah secara mandiri diharapkan pada penderita diabetes dapat mengatur terapinya secara optimal.

I.       Pemeriksaan Sensitifitas Kaki DM
1.    diabetic_foot.jpgMonofilamen
Pemeriksaan dengan monofilamen ini adalah untuk mengevaluasi tekanan sensasi pada kaki pasien dengan diabetes. Cara melakukan pemeriksaan monofilamen adalah dengan memberikan sentuhan nilon monofilamen pada sisi plantar (area metatarsal, tumit dan dan di antara metatarsal dan tumit) dan sisi dorsal.
Uji monofilamen merupakan pemeriksaan yang sangat sederhana dan cukup sensitif untuk mendiagnosis pasien yang memiliki risiko terkena ulkus karena telah mengalami gangguan neuropati sensoris perifer. Hasil tes dikatakan tidak normal apabila pasien tidak dapat merasakan sentuhan nilon monofilamen (Suriadi, 2004).
2.      Refleks Hammer
Reflex Hammer/palu refleks adalah alat medis yang digunakan oleh dokter untuk menguji refleks tendon dalam/lutut. Pengujian refleksitas pasien merupakan bagian penting dari pemeriksaan fisik neurologis untuk mendeteksi kelainan pada sistem saraf pusat atau perifer.
Cara pemeriksaan reflek hammer adalah sebagai berikut:
a. Pasien tidur terlentang atau duduk.
b. Bila pasien tidur terlentang pemeriksa berdiri dan bila pasien duduk pemeriksa jongkok disisi kiri pasien.
c. Bila pasien tidur terlentang lutut fleksi 90 derajat dan disilangkan diatas kaki berlawanan, bila pasien duduk kaki menggelantung bebas.
d.Pergelangan kaki dorsofleksikan dan tangan kiri pemeriksa memegang/ menahan kaki pasien.
e. Carilah tendon achiles diantara 2 cekungan pada tumit yang terasa keras dan makin tegang bila posisi kaki dorsofleksi.
f.  Ayunkan refleks hammer diatas tendon achiles.

3.      Pemeriksaan biotesiometer





Biotesiometer merupakan instrumen yang dirancang untuk mengukur sederhana dan akurat ambang apresiasi getaran pada subyek manusia. Biotesiometer digunakan sebagai alat penelitian di penyakit saraf banyak. Pada dasarnya Biotesiometer adalah sebuah “garpu tala listrik” yang amplitudonya dapat diatur untuk setiap tingkat yang telah ditentukan atau yang amplitudonya dapat ditingkatkan secara bertahap sampai ambang sensasi getaran tercapai.
Sebaliknya, amplitudo dapat diturunkan sampai getaran tidak terlihat lagi dilihat. Biotesiometer tidak hanya jauh lebih unggul garpu tala dalam akurasi, namun akan mendeteksi perubahan neurologis yang tidak diungkapkan dengan garpu tala.

J.      Prosedur Perawatan Luka Kaki Diabetik
Peralatan
-        Nampan balutan balutan steril (gunting, forsep, bantalan kasa jika perlu)
-        Balutan kasa steril
-        Mangkok steril
-        Plaster 2 inchi
-        Sarung tangan steril
-        Sarung tangan bersih
-        Handuk atau alas linen
-        Bola kapas dan lidi kapas (jika perlu)
-        Salin irigasi atau air steril
-        Swab iodin povidon (betadin)
-        Salep bakterio statik
-        Kantong kertas, kantong plasik

Tujuan
1.    Menghilangkan sekresi yang tera kumulasi dan jaringan mati dari luka atau tempat 
    insisi.
2.    Menurunkan pertumbuhan mikroorganisme pada luka atau tempat insisi.
3.    Meningkatkan penyembuhan luka
No
Tindakan
Rasional
1


2






3

































4


5


6






7


8


9


10


11


12






13



14


15


16


17


18

19


Cuci tangan dan atur peralatan


Jelaskan prosedur dan bantuan yang diminta dari klien

Kaji tingkat nyeri klien dan tunggu sampai medikasi menunjukkan efeknya, sebelum prosedur dimulai

Tempatkan alat-alat di samping tempat tidur dekat area luka.
Siapkan alat-alat:
-    Tempatkan alat-alat disamping tempat tidur

-    Plaster kantong kertas atau kantong sampah di samping tempat tidur.

-    Buka sarung tangan steril menggunakan bagian dalam kemasan sarung tangan sebagai area steril.

-    Buka kemasan kasa dan jatuhkan beberapa kasa ke dalam area steril, biarkan sisa kasa dalam wadah plastik.

-    Buka nampan balutan dan mangkok.

-    Buka cairan dan basahi dua kasa dengan salin normal dalam wadah plastik dan basahi 4 kasa dengan betadin.

-    Buka swab betadin, jika digunakan, untuk memajankan ujung lidi plastik.

-    Tempatkan beberapa lidi kapas steril dan bola kapas pada area steril


Gunakan sarung tangan bersih


Tempatkan handuk atau alas di bawah area luka

Kendurkan plaster dengan menarik ke arah luka dan lepaskan balutan yang kotor, perhatikan penampilan balutan dan luka. Basahi balutan dengan salin normal jika melekat pada luka dan kemudian tarik dengan perlahan

Masukkan balutan kotor dalam kantong kertas.

Buang sarung tangan dan cuci tangan.


Gunakan sarung tangan steril (jika perlu)

Ambil balutan yang dibasahi salin dengan forsep dan bentuk swab besar

Gunting dan buang jaringan mati yang terdapat pada luka

Bersihkan debris dan drainase dari luka, dengan menggerakkan swab dari bagian tengah ke luar dan gunakan swab baru untuk setiap area yang dibersihkan, buang swab lama menjauhi benda steril

Usap luka dengan swab yang dibasahi betadin, mulai dari bagian tengah luka ke luar, buang forsep

Oleskan saleb bakterio statik pada area luka

Letakkan balutan di atas luka sampai luka tertutup rapat

Tempel plaster pada kasa yang menutup luka.

Buang sarung tangan dan cuci tangan


Posisikan klien untuk kenyamanan

Catat tanggal dan waktu penggantian balutan
Menurunkan perpindahan mikroorganisme
Meningkatkan efisiensi

Menurunkan ansietas
Meningkatkan kerjasama

Menurunkan ketidaknyamanan karena penggantian balutan


Memudahkan penatalaksanaan steril dan benda-benda

-    Mempercepat tindakan


-    Mempermudah pembuangan sisa bahan yang terkontaminasi






-    Memfasilitasi penggunaan bahan tanpa kontaminasi





-    Memungkinkan kasa dalam keadaan basah








-    Mencegah perpindahan organisme dari tempat tidur ke benda

Menghindari kontaminasi


Menjaga kebersihan alas kasur


Memungkinkan observasi luka dan memajankan tempat untuk pembersihan





Menghindari kontaminasi


Mencegah penyebaran mikroorganisme








Memudahkan terbentuknya jaringan baru


Mencegah kontaminasi luka oleh organisme permukaan kulit
Mempertahankan sterilitas alat-alat




Mengurangi pemindahan mikroorganisme
Menghindari kontaminasi silang


Mencegah pertumbuhan bakteri pada luka


Memungkinkan udara mencapai luka


Memberikan fiksasi


Mencegah penyebaran mikroorganisme


Memberika kenyamanan pada klien

Dokumentasi
Sumber: Johnson (2005)

K.    Pencegahan komplikasi yang dapat dilakukan
1.    Gagal ginjal kronik
a)    Pengendalian kadar gula darah (olahraga, diet, obat anti diabetes).
b)   Pengendalian tekanan darah (diet rendah garam). Pembatasan asupan garam adalah
     4 sampai 5 gram/hari.
c)    Perbaikan fungsi ginjal (diet rendah protein). Asupan protein hingga 0,8
     g/kg/bb/hari.
d)   Mengendalikan kadar lemak dan mengurangi obesitas
e)    Melakukan gaya hidup yang sehat meliputi olahraga rutin, diet, menghentikan
     merokok serta membatasi konsumsi alkohol. Olahraga rutin yang dianjurkan
     adalah berjalan 3 sampai 5 km/hari dengan kecepatan sekitar 10 sampai 12
     menit/km, 4 sampai 5 kali seminggu.

2.      Retinophaty
a)    Lakukan pemeriksaan mata setiap setahun sekali atau lebih sering lagi oleh dokter spesialis mata yang harus dimulai 5 tahun sesudah diagnosis diabetes tipe I ditegakkan atau pada tahun ketika diagnosis diabetes tipe II  ditegakkan.
b)   Lakukan terapi laser dini disertai dengan pengendalian glukosa dan tekanan darah yang baik dapat mencegah kehilangan penglihatan akibat retinopati.
c)    Kenali gejala hipoglikemia dan hiperglikemia sebagai dua keadaan yang menyebabkan penglihatan kabur.




3.      Cardiovaskuler
a)    Pengendalian kadar glukosa darah dalam tingkat normal atau mendekati normal  melalui terapi insulin.
b)   Menjaga status gizi.
c)    Menjaga kadar kolesterol.
d)   Pola hidup sehat.
e)    Menjaga tekanan darah.

L.     Kolaborasi
Berikan diet kira-kira 60% karbohidrat, 20% protein, dan 20% lemak dalam penataan makan/ pemberian makanan tambahan. Kompleks karbohidrat (seperti jagung, wortel, brokoli, buncis gandum, dan lain-lain) menurunkan kadar glukosa/ kebutuhan insulin, menurunkan kadar kolesterol darah dan meningkatkan rasa kenyang. Pemasukan makanan akan dijadwalkan sesuai karakteristik insulin yang spesifik (misal efek puncaknya) dan respon pasien secara individual. Catatan : makanan tambahan dari kompleks karbohidrat terutama sangat penting (jika insulin diberikan dalam dosis terbagi) untuk mencegah hipoglikemia selama tidur (Doenges, 2000).
Daftar menu makanan seimbang bagi pasien kaki diabetes
Makanan seimbang akan membantu mengontrol diabetes dan menjamin pengobatan berjalan efektif. Tabel di bawah ini berisi contoh makanan yang sebaiknya dikonsumsi.
Sarapan
Makanan Ringan
1.      Susu krim atau semi krim
2.      Pemanis buatan sebagai pangganti gula
3.      Sereal kaya akan serat
4.      Roti dari beras atau tepung
5.      Mentega tak jenuh atau low fat
6.      Selai dengan sedikit gula
7.      Buah
1.      Roti, pasta, atau kentang dengan isi rendah lemak, seperti seiris daging, kacang-kacangan, keju rendah lemak, atau ikan kalengan
2.      Buah segar atau kalengan dengan jus alami
3.      Sayuran atau salad
Makanan Utama
Kue-Kue Diantara Waktu Makan
1.      Makanan dari tepung, kentang, pasta, nasi, atau roti
2.      Sedikitnya dua porsi sayuran, dan termasuk kacang polong dan kacang-kacangan sesering mungkin
3.      Seporsi kecil daging iris atau ikan tanpa lemak, dang hindari digoreng
4.      Buah segar atau kalengan dalam jus alami, tidak manis, jeli tidak manis
5.      Yogurt tanpa lemak 
1.      Hindari makan terlalu banyak kue-kue jika ingin mengurangi berat tubuh, dan menggantinya dengan buah
2.      Roti panggang dengan isi rendah lemak
3.      Semangkuk sereal atau bubur
4.      Keripik rendah lemak
5.      Biskuit tawar
Sumber: Bilous, (2008)
M.   Diagnosa dan Intervensi Keperawatan yang Mungkin Muncul secara Teoritis
1.      Diagnosa keperawatan yang mungkin muncul
Adapun diagnosa keperawatan yang mungkin muncul pada pasien dengan gangren kaki diabetik menurut Ismail (2008) adalah sebagai berikut:
a.       Gangguan perfusi jaringan berhubungan dengan melemahnya/ menurunnnya aliran darah ke daerah gangren akibat adanya obstruksi pembuluh darah.
b.      Gangguan integritas jaringan berhubungan dengan adanya gangren pada ekstremitas.
c.       Gangguan rasa nyaman (nyeri) berhubungan dengan iskemik jaringan.
d.      Keterbatasan mobilitas fisik berhubungan dengan rasa nyeri pada luka.
e.       Gangguan pemenuhan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan intake makanan yang tidak adekuat.
f.       Potensial terjadinya penyebaran infeksi berhubungan dengan tingginya kadar gula darah.
g.      Cemas berhubungan dengan kurangnya pengetahuan tentang penyakit.
h.      Gangguan gambaran diri berhubungan dengan perubahan bentuk salah satu anggota tubuh.
i.        Gangguan pola tidur berhubungan dengan rasa nyeri pada luka di kaki.

2.      Intervensi
No
Diagnosa keperawatan
Tujuan/ Kriteria Hasil
Intervensi
Rasional
1
Gangguan perfusi jaringan b.d menurunnya aliran darah ke daerah gangren akibat adanya obstruksi pembuluh darah
TJ: mempertahankan sirkulasi perifer tetap normal
KH:
1.   Denyut nadi perifer teraba kuat dan reguler
2.   Warna kulit disekitar luka tidak pucat/sianosis
3.   Kulit sekitar luka teraba hangat
4.   Oedem tidak terjadi dan luka tidak bertambah parah
5.   Sensorik dan motorik membaik

1.    Ajarkan pasien untuk melakukan mobilisasi
2.    Ajarkan tentang faktor-faktor yang dapat meningkatkan aliran darah: tinggikan kaki sedikit lebih rendah dari jantung (posisi elevasi pada waktu istirahat), hindari penyilangan kaki, hindari penggunaan bantal di belakang lutut dan sebagainya, hindari balutan ketat
3.    Ajarkan tentang modifikasi faktor-faktor resiko berupa: hindari diet tinggi kolesterol, teknik relaksasi, menghentikan kebiasaan merokok, dan penggunaan obat vasokontriksi.



4.    Kolaborasi dengan tim kesehatan lain dalam pemberian vasodilator, pemeriksaan gula darah secara rutin dan terapi oksigen.
1. Dengan mobilisasi meningkatkan sirkulasi darah

2. Meningkatkan dan melancarkan aliran darah sehingga tidak terjadi oedema.










3. Kolesterol tinggi dapat mempercepat terjadinya arterosklerosis, merokok dapat menyebabkan terjadinya vasokontriksi pembuluh darah, relaksasi untuk mengurangi efek stres.

4. Pemberian vasodilator akan meningkatkan dilatasi pembuluh darah sehingga perfusi jaringan dapat diperbaiki, sedangkan pemeriksaan gula darah secara rutin dapat mengetahui perkembangan dan keadaan pasien, terapi oksigen untuk memperbaiki oksigenisasi daerah ulkus/gangren
2
Ganguan integritas jaringan berhubungan dengan adanya gangren pada
ekstrimitas.
TJ: Tercapainya proses penyembuhan luka.
KH:
1.   Berkurangnya oedema sekitar luka.
2.   Pus dan jaringan berkurang
3.    Adanya jaringan granulasi.
4.   Bau busuk luka berkurang.

1.   Kaji luas dan keadaan luka serta proses penyembuhan.



2.   Rawat luka dengan baik dan benar : membersihkan luka secara abseptik
menggunakan larutan yang tidak iritatif, angkat sisa balutan yang menempel
pada luka dan nekrotomi jaringan yang mati.
3.   Kolaborasi dengan dokter untuk pemberian insulin, pemeriksaan kultur pus
pemeriksaan gula darah pemberian anti biotik.

1.   Pengkajian yang tepat terhadap luka dan proses penyembuhan
akan membantu dalam menentukan tindakan selanjutnya.
2.   Merawat luka dengan teknik aseptik, dapat menjaga kontaminasi
luka dan larutan yang iritatif akan merusak jaringan granulasi tyang timbul,
sisa balutan jaringan nekrosis dapat menghambat proses granulasi.

3.   Insulin akan menurunkan kadar gula darah, pemeriksaan kultur
pus untuk mengetahui jenis kuman dan anti biotik yang tepat untuk
pengobatan, pemeriksaan kadar gula darahuntuk mengetahui perkembangan
penyakit.
3.
Gangguan rasa nyaman (nyeri) berhubungan dengan iskemik jaringan.

Tujuan : Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 4 x 24 jam rasa nyeri     hilang/berkurang
Kriteria hasil :
a.   Penderita secara verbal mengatakan nyeri berkurang atau hilang.
b.  Penderita dapat melakukan metode atau tindakan untuk mengatasi nyeri.
c.  Elspresi wajah klien rileks.
d.  Tidak ada keringat dingin, tanda vital dalam batas normal.(S : 36 – 37,5C, N: 60 – 80 x /menit, T : 120/80mmHg, RR : 18 – 20 x /menit ).

1.      Kaji tingkat, frekuensi, dan reaksi nyeri yang dialami pasien.
2.      Jelaskan pada pasien tentang sebab-sebab timbulnya nyeri.









3.Ciptakan lingkungan yang tenang.


4.      Ajarkan teknik distraksi dan relaksasi.


5.      Atur posisi pasien senyaman mungkin sesuai keinginan pasien.




6.      Lakukan massage saat rawat luka .

7.      Kolaborasi dengan dokter untuk pemberian analgesik.

1.     untuk mengetahui berapa berat nyeri yang dialami pasien.

2.     pemahaman pasien tentang penyebab nyeri yang terjadi akan mengurangi ketegangan pasien dan memudahkan pasien untuk diajak bekerjasama dalam melakukan tindakan.
3.        Rangsang yang berlebihan dari lingkungan akan memperberat rasa nyeri.
4.        Teknik distraksi dan relaksasi dapat mengurangi rasa nyeri yang dirasakan pasien.
5.        Posisi yang nyaman akan membantu memberikan kesempatan pada otot untuk relaksasi seoptimal mungkin.
6.        Massage dapat meningkatkan vaskulerisasi dan pengeluaran pus
7.        Obat-obat analgesik dapat membantu mengurangi nyeri pasien

4
Keterbatasan mobilitas fisik berhubungan dengan rasa nyeri pada luka di kaki.
TJ: Pasien dapat mencapai tingkat kemampuan aktivitas yang optimal.
KH:
1.   Pergerakan paien bertambah luas.
2.   Pasien dapat melaksanakan aktivitas sesuai dengan
kemampuan (duduk, berdiri, berjalan).
3.   Rasa nyeri berkurang.
4.   Pasien dapat memenuhi kebutuhan sendiri secara bertahap
sesuai dengan kemampuan.
1.   Kaji dan identifikasi tingkat kekuatan otot pada kaki pasien.

2.   Beri penjelasan tentang pentingnya melakukan aktivitas untuk menjaga kadar
gula darah dalam keadaan normal.

3.   Anjurkan pasien untuk menggerakkan/mengangkat ekstrimitas bawah sesui
kemampuan.
4.   Bantu pasien dalam memenuhi kebutuhannya.

5.   Kerja sama dengan tim kesehatan lain : dokter ( pemberian analgesik ) dan
tenaga fisioterapi.
1.   Untuk mengetahui derajat kekuatan otot-otot kaki pasien.

2.   Pasien mengerti pentingnya aktivitas sehingga dapat kooperatif
dalam tindakan keperawatan.


3.   Untuk melatih otot – otot kaki sehingg berfungsi dengan baik.


4.   Agar kebutuhan pasien tetap dapat terpenuhi.
5.   Analgesik dapat membantu mengurangi rasa nyeri, fisioterapi
untuk melatih pasien melakukan aktivitas secara bertahap dan benar.
5
Gangguan pemenuhan nutrisi (kurang dari) kebutuhan tubuh berhubungan
dengan intake makanan yang kurang.

TJ: Kebutuhan nutrisi dapat terpenuhi
KH:
1.   Berat badan dan tinggi badan ideal.
2.   Pasien mematuhi dietnya.
3.   Kadar gula darah dalam batas normal.

1.   Kaji status nutrisi dan kebiasaan makan.



2.   Anjurkan pasien untuk mematuhi diet yang telah diprogramkan.

3.   Timbang berat badan setiap seminggu sekali.


4.   Identifikasi perubahan pola makan.


5.   Kerja sama dengan tim kesehatan lain untuk pemberian insulin dan diet
diabetik.


1.   Untuk mengetahui tentang keadaan dan kebutuhan nutrisi pasien
sehingga dapat diberikan tindakan dan pengaturan diet yang adekuat.
2.   Kepatuhan terhadap diet dapat mencegah komplikasi lebih lanjut.
3.   Mengetahui perkembangan berat badan pasien (berat badan
merupakan salah satu indikasi untuk menentukan diet).
4.   Mengetahui apakah pasien telah melaksanakan program diet yang
ditetapkan.
5.   Pemberian insulin akan meningkatkan pemasukan glukosa ke
dalam jaringan sehingga gula darah menurun,pemberian diet yang sesuai
dapat mempercepat penurunan gula darah dan mencegah komplikasi.

6
Potensial terjadinya penyebaran infeksi b/d dengan tingginya kadar gula darah
TJ: menggurangi infeksi yang terjadi
KH:
1.   Tanda-tanda infeksi tidak ada.
2.   Tanda-tanda vital dalam batas normal (T: 36-37,50C).
3.   Keadaan luka baik dan kadar gula darah normal.
1.   Observasi tanda-tanda infeksi dan peradangan seperti demam, kemerahan, adanya pus atau luka.

2.   Tingkatkan upaya pencegahan dengan melakukan cuci tangan yang baik pada semua orang yang berhubungan dengan pasien termasuk pasiennya sendiri.

3.   Kolaborasi Lakukan pemeriksaan kultur dan sensitifitas sesuai dengan indikasi.

4.   Kolaborasi Berikan obat antibiotik yang sesuai
                                     
1.   Mengetahui sejauh mana infeksi telah terjadi.




2.   Mencegah timbulnya infeksi silang (infeksi nosokomial)






3.   Untuk mengidentifikasi organisme sehingga dapat memilih memberikan terapi antibiotik yang terbaik.
4.   Penanganan awal dapat membantu mencegah timbulnya sepsis.
7
Cemas berhubungan dengan kurangnya pengetahuan tentang penyakit.

Tujuan : setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3 x 24 jam rasa cemas  berkurang/hilang.
Kriteria Hasil :
a.    Pasien dapat mengidentifikasikan sebab kecemasan.
b.  Emosi stabil, pasien tenang
c.   Istirahat cukup.

1.Kaji tingkat kecemasan yang dialami oleh pasien.





2.      Beri kesempatan pada pasien untuk mengungkapkan rasa cemasnya.
      .
3.      Gunakan komunikasi terapeutik.
    




 4.      Beri informasi yang akurat tentang proses penyakit dan anjurkan pasien untuk ikut serta dalam tindakan keperawatan.

5.      Berikan keyakinan pada pasien bahwa perawat, dokter, dan tim kesehatan lain selalu berusaha memberikan pertolongan yang terbaik dan seoptimal mungkin.
6.      Berikan kesempatan pada keluarga untuk mendampingi pasien secara   bergantian.

7.      Ciptakan lingkungan yang tenang dan nyaman.

1.      Untuk menentukan tingkat kecemasan yang dialami pasien sehingga perawat bisa memberikan intervensi yang cepat dan tepat.
2.      Dapat meringankan beban pikiran pasien

3.      Agar terbina rasa saling percaya antar perawat-pasien sehingga pasien kooperatif dalam tindakan keperawatan.

4.      Informasi yang akurat tentang penyakitnya dan keikutsertaan pasien dalam melakukan tindakan dapat mengurangi beban pikiran pasien.

5.      Sikap positif dari timkesehatan akan membantu menurunkan kecemasan yang dirasakan pasien.



6.      Pasien akan merasa lebih tenang bila ada anggota keluarga yang menunggu.

7.      lingkungan yang tenang dan nyaman dapat membantu mengurangi rasa cemas pasien.

8
Gangguan gambaran diri berhubungan dengan perubahan bentuk salah satu anggota tubuh
Tujuan : setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 4 x 24 jam Pasien dapat menerima perubahan bentuk salah satu anggota tubuhnya secar positif.
Kriteria Hasil :
a.       Pasien mau berinteraksi dan beradaptasi dengan lingkungan. Tanpa rasa malu dan rendah diri.

b.      Pasien yakin akan kemampuan yang dimiliki.

1.Kaji perasaan/persepsi pasien tentang perubahan gambaran diri berhubungan dengan keadaan anggota tubuhnya yang kurang berfungsi secara normal.
2. Lakukan pendekatan dan bina hubungan saling percaya dengan pasien.
      3.    Tunjukkan rasa empati, perhatian dan penerimaan pada pasien
4.Bantu pasien untuk mengadakan hubungan dengan orang lain
4
4. .

5.    Beri kesempatan kepada pasien untuk mengekspresikan perasaan kehilangan.
6.      Beri dorongan pasien untuk berpartisipasi dalam perawatan diri dan hargai pemecahan masalah yang konstruktif dari pasien.
1.      Mengetahui adanya rasa negatif pasien terhadap dirinya.







2.      Memudahkan dalm menggali permasalahan pasien.

3.      Pasien akan merasa dirinya di hargai.
4.      .
4.dapat meningkatkan kemampuan dalam mengadakan hubungan dengan
  orang lain dan menghilangkan perasaan terisolasi.

5.Untuk mendapatkan dukungan dalam proses berkabung yang normal.


6.Untuk meningkatkan perilaku yang adiktif dari pasien.

9
Gangguan pola tidur berhubungan dengan rasa nyeri pada luka di kaki.
TJ: Gangguan pola tidur pasien akan teratasi.
KH:
1.   Pasien mudah tidur dalam waktu 30 – 40 menit.
2.   Pasien tenang dan wajah segar.
3.   Pasien mengungkapkan dapat beristirahat dengan cukup.

1.   Ciptakan lingkungan yang nyaman dan tenang.

2.   Kaji tentang kebiasaan tidur pasien di rumah.




3.   Kaji adanya faktor penyebab gangguan pola tidur yang lain seperti cemas,
efek obat-obatan dan suasana ramai.

4.   Anjurkan pasien untuk menggunakan pengantar tidur dan teknik relaksasi.

5.   Kaji tanda-tanda kurangnya pemenuhan kebutuhan tidur pasien.
1.   Lingkungan yang nyaman dapat membantu meningkatkan
tidur/istirahat.
2.   mengetahui perubahan dari hal-hal yang merupakan kebiasaan
pasien ketika tidur akan mempengaruhi pola tidur pasien.
3.   Mengetahui faktor penyebab gangguan pola tidur yang lain
dialami dan dirasakan pasien.

4.   Pengantar tidur akan memudahkan pasien dalam jatuh dalam
tidur, teknik relaksasi akan mengurangi ketegangan dan rasa nyeri.
5.   Untuk mengetahui terpenuhi atau tidaknya kebutuhan tidur
pasien akibat gangguan pola tidur sehingga dapat diambil tindakan yang
tepat
.

BAB III
KASUS

A. Uraian Kasus
Seorang laki-laki berusia 42 tahun datang ke RS dengan keluhan kaki kanan membusuk. Keluhan dirasakan sejak 1 bulan yang lalu setelah tertusuk paku. Luka berbau, keluar nanah dan mengeluarkan darah. Awalnya kaki kiri terluka karena tertusuk kayu, namun lama-kelamaan luka semakin bertambah parah. Riwayat berobat ke puskesmas, diberi obat pil untuk membuat luka kering, luka sudah dikompres dengan air hangat dan diberi madu ada perubahan pada luka, luka menjadi agak kering. Berat badan menurun sejak 2 bulan ini. Riwayat sakit diabetes melitus sejak ± 5 tahun yang lalu. Keluhan dirasakan sering merasa haus, cepat lapar, banyak buang air kecil, penglihatan kabur sejak 3 tahun yang lalu, kadang merasa kesemutan di tangan dan kaki. Rutin berobat di Puskesmas dan mendapat obat Glibenclamid. Pada ekstremitas inferior dextra tampak udem, pedis dextra tampak ulkus, pus dan hiperemis. Pemeriksaan gula darah sewaktu 332 mg/dL, mata kelihatan cekung dan terlihat lingkaran hitam di sekitar mata, pasien mengalami kesulitan tidur sejak dirawat dan anoreksia dan mual. Pasien hanya makan 2-3 sendok. BP: 130/90 mmHg, P:75 x/i, RR: 26 x/i, T: 36,4° C. Pasien terlihat putus asa dan murung, khawatir dengan keadaannya.

B.  Pengkajian
Data Objektif:
1.   Luka berbau, keluar nanah, dan mengeluarkan darah.
2.   Keluhan kaki kanan membusuk
3.   Ekstremitas inferior dextra tampak udem, pedis dextra tampak ulkus, pus, dan hiperemis.
4.   Gula darah: 332 mg/dL.
5.      Kreatinin : 1,74 mg/dl (Normalnya: 0,6-1,3 )
6.      Hb: 7,7 % (normal:12-16)
7.      Konjungtiva anemis
8.      BB :58 kg (BB awal :63 kg,  TB: 160 cm)
9.     Mata kelihatan cekung dan terlihat lingkaran hitam disekitar mata.
10.     BP: 130/90 mmHg .
11.     P: 75 x/i.
12.     RR: 26 x/i.
13.     T: 36,4  .
14.     Pasien terlihat putus asa dan murung, khawatir dengan keadaannya.

Data Subjektif:
1.   Keluhan dirasakan sejak satu bulan yang  lalu karena tertusuk paku.
2.   Awalnya kaki kiri terluka karena tertusuk kayu namun lama kelamaan luka semakin bertambah parah.
3.   Berat badan menurun sejak dua bulan ini
4.   Klien sering merasa haus, cepat lapar, banyak buang air kecil.
5.   Penglihatan kabur sejak sejak 3 yang lalu.
6.   Pasien mengalami kesulitan tidur sejak dirawatdan anoreksia dan mual.
7.   Kadang-kadang merasa kesemutan pada di tangan dan kaki.
8.   Pasien hanya makan 2-3 sendok.
9.   Rutin berobat di puskesmas dan mendapat obat Glibenclamid.

C. Analisa data
No
Data
Etiologi
Masalah Keperawatan
1
DS:
1.    Keluhan dirasakan sejak satu bulan yang  lalu karena tertusuk paku.
2.    Awalnya kaki kiri terluka karena tertusuk kayu namun lama kelamaan luka semakin bertambah parah.



DO:
1.    Gula darah: 332 mg/dL.
2.    Keluhan kaki kanan membusuk
3.    Luka berbau, keluar nanah, dan mengeluarkan darah. 
4.    Kadang-kadang merasa kesemutan pada di tangan dan kaki.
5.    Kreatinin : 1,74 mg/dl
(Normalnya: 0,6-1,3 )


Riwayat DM

Disfungsi endotel makrovaskuler

Aterosklerosis
Makroangiopati
Penyakit pembuluh darah kapiler

Ulkus

Gangren

Gangguan perfusi jaringan
Gangguan perfusi jaringan
2
DS:
1.    Kadang-kadang merasa kesemutan pada di tangan dan kaki.
DO:
1.    Ekstremitas inferior dextra tampak udem, pedis dextra tampak ulkus, pus, dan hiperemis.
2.    Luka berbau, keluar nanah, dan mengeluarkan darah.
Neuropati perifer


 
Neuropati sensorik


 
Hilang rasa

Trauma : tertusuk paku


 
Ulkus


 


Gangguan mobilitas fisik
Gangguan mobilitas fisik
3
DS:
1.    Pasien mengalami anoreksia dan mual.
2.    Pasien hanya makan 2-3 sendok.
3.    Berat badan menurun sejak dua bulan ini

DO: -Pasien tampak lemah
-   Hb: 7,7 % (normal:12-16)
-   Konjungtiva anemis
-   BB :58 kg
(BB awal :63 kg, 
 TB: 160 cm)

Ulkus


 


Kecemasan Keningkat
 


HCL meningkat


 


Anoreksia
 


Gangguan Pemenuhan Nutrisi Kurang dari Kebutuhan Tubuh
Gangguan pemenuhan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh
4
DS:
1.    Keluhan kaki kanan membusuk.
2.    Keluhan dirasakan sejak satu bulan yang  lalu karena tertusuk.paku.
3.    Kadang-kadang merasa kesemutan pada di tangan dan kaki.


DO:
1.    Luka berbau, keluar nanah, dan mengeluarkan darah.
2.    Ekstremitas inferior dextra tampak udem, pedis dextra tampak ulkus, pus, dan hiperemis.
3.    Gula darah: 332 mg/dL.

Hiperglikemia

Aterosklerosis

Nutrisi dan oksigen tidak sampai ke jaringan perifer


 


Gangguan integritas jaringan
Gangguan integritas jaringan
5
DO :
1.    Luka berbau, keluar nanah, dan mengeluarkan darah.
2.    Ekstremitas inferior dextra tampak udem, pedis dextra tampak ulkus, pus, dan hiperemis.

DS:
1.    Keluhan kaki kanan membusuk
2.    Keluhan dirasakan sejak satu bulan yang  lalu karena tertusuk paku.
3.    Awalnya kaki kiri terluka karena tertusuk kayu namun lama kelamaan luka semakin bertambah parah.
Insulin menurun


 


Sel PNM tidak bekerja
dengan baik
 


Fagositosis
Lambat terjadi


 


Infeksi
Infeksi
6
DO:
1.    Ekstremitas inferior dextra tampak udem, pedis dextra tampak ulkus, pus, dan hiperemis.
2.    Mata kelihatan cekung dan terlihat lingkaran hitam disekitar mata.
DS:
1.    Keluhan kaki kanan membusuk
2.    Awalnya kaki kiri terluka karena tertusuk kayu namun lama kelamaan luka semakin bertambah parah.
3.    Pasien mengalami kesulitan tidur sejak dirawat.
Hiperglikemi
 


Glukosoria


 


Diaresis osmotik



 


Poliuria polidipsi



 


gengguan pola tidur
Gangguan pola tidur

D.  Diagnosa Keperawatan
1.    Gangguan perfusi jaringan b.d menurunnya aliran darah ke daerah gangren akibat adanya obstruksi pembuluh darah
2.    Keterbatasan mobilitas fisik berhubungan dengan rasa nyeri pada luka di kaki.
3.    Gangguan pemenuhan nutrisi (kurang dari) kebutuhan tubuh berhubungan
dengan intake makanan yang kurang.
4.    Ganguan integritas jaringan berhubungan dengan adanya gangren pada
ekstrimitas.
5.    Infeksi b.d perlukaan, luka yang sukar sembuh, dan gangguan pada autonomi neuropati
6.    Gangguan pola tidur berhubungan dengan rasa nyeri pada luka di kaki

E.  Asuhan keperawatan

No
Diagnosa keperawatan
Tujuan/ Kriteria Hasil
Intervensi
Rasional
1
Gangguan perfusi jaringan b.d menurunnya aliran darah ke daerah gangren akibat adanya obstruksi pembuluh darah
TJ: mempertahankan sirkulasi perifer tetap normal
KH:
1.    Denyut nadi perifer teraba kuat dan reguler
2.    Warna kulit disekitar luka tidak pucat/sianosis
3.   Kulit sekitar luka teraba hangat
4.   Oedem tidak terjadi dan luka tidak bertambah parah
5.   Sensorik dan motorik membaik

1.    Ajarkan pasien untuk melakukan mobilisasi


2.    Ajarkan tentang faktor-faktor yang dapat meningkatkan aliran darah: tinggikan kaki sedikit lebih rendah dari jantung (posisi elevasi pada waktu istirahat), hindari penyilangan kaki, hindari penggunaan bantal di belakang lutut dan sebagainya, hindari balutan ketat

3.    Ajarkan tentang modifikasi faktor-faktor resiko berupa: hindari diet tinggi kolesterol, teknik relaksasi, menghentikan kebiasaan merokok, dan penggunaan obat vasokontriksi.



4.    Kolaborasi dengan tim kesehatan lain dalam pemberian vasodilator, pemeriksaan gula darah secara rutin dan terapi oksigen.
1.  Dengan mobilisasi meningkatkan sirkulasi darah

2.  Meningkatkan dan melancarkan aliran darah sehingga tidak terjadi oedema.









3. Kolesterol tinggi dapat mempercepat terjadinya arterosklerosis, merokok dapat menyebabkan terjadinya vasokontriksi pembuluh darah, relaksasi untuk mengurangi efek stres.

4. Pemberian vasodilator akan meningkatkan dilatasi pembuluh darah sehingga perfusi jaringan dapat diperbaiki, sedangkan pemeriksaan gula darah secara rutin dapat mengetahui perkembangan dan keadaan pasien, terapi oksigen untuk memperbaiki oksigenisasi daerah ulkus/gangren
2
Keterbatasan mobilitas fisik berhubungan dengan rasa nyeri pada luka di kaki.
TJ: Pasien dapat mencapai tingkat kemampuan aktivitas yang optimal.
KH:
1.    Pergerakan paien bertambah luas.
2.    Pasien dapat melaksanakan aktivitas sesuai dengan
kemampuan (duduk, berdiri, berjalan).
3.    Rasa nyeri berkurang.
4.    Pasien dapat memenuhi kebutuhan sendiri secara bertahap
sesuai dengan kemampuan.
1.    Kaji dan identifikasi tingkat kekuatan otot pada kaki pasien.

2.    Beri penjelasan tentang pentingnya melakukan aktivitas untuk menjaga kadar
gula darah dalam keadaan normal.



3.    Anjurkan pasien untuk menggerakkan/mengangkat ekstrimitas bawah sesui
kemampuan.

4.    Bantu pasien dalam memenuhi kebutuhannya.


5.    Kerja sama dengan tim kesehatan lain : dokter ( pemberian analgesik ) dan
tenaga fisioterapi.
1.    Untuk mengetahui derajat kekuatan otot-otot kaki pasien.

2.    Pasien mengerti pentingnya aktivitas sehingga dapat kooperatif
dalam tindakan keperawatan.
3.   Untuk melatih otot – otot kaki sehingg berfungsi dengan baik.


4.   Agar kebutuhan pasien tetap dapat terpenuhi.
5.   Analgesik dapat membantu mengurangi rasa nyeri, fisioterapi
untuk melatih pasien melakukan aktivitas secara bertahap dan benar.
3
Gangguan pemenuhan nutrisi (kurang dari) kebutuhan tubuh berhubungan
dengan intake makanan yang kurang.

TJ: Kebutuhan nutrisi dapat terpenuhi
KH:
1.    Berat badan dan tinggi badan ideal.
2.    Pasien mematuhi dietnya.
3.    Kadar gula darah dalam batas normal.

1.                   Kaji status nutrisi dan kebiasaan makan.






2.   Anjurkan pasien untuk mematuhi diet yang telah diprogramkan.


3.   Timbang berat badan setiap seminggu sekali.





4.   Identifikasi perubahan pola makan.


5.   Kerja sama dengan tim kesehatan lain untuk pemberian insulin dan diet
diabetik.


1.    Untuk mengetahui tentang keadaan dan kebutuhan nutrisi pasien
sehingga dapat diberikan tindakan dan pengaturan diet yang adekuat.
2.    Kepatuhan terhadap diet dapat mencegah komplikasi lebih lanjut.
3.   Mengetahui perkembangan berat badan pasien (berat badan
merupakan salah satu indikasi untuk menentukan diet).
4.   Mengetahui apakah pasien telah melaksanakan program diet yang
ditetapkan.
5.   Pemberian insulin akan meningkatkan pemasukan glukosa ke
dalam jaringan sehingga gula darah menurun,pemberian diet yang sesuai
dapat mempercepat penurunan gula darah dan mencegah komplikasi.

4
Ganguan integritas jaringan berhubungan dengan adanya gangren pada
ekstrimitas.
TJ: Tercapainya proses penyembuhan luka.
KH:
1.    Berkurangnya oedema sekitar luka.
2.    Pus dan jaringan berkurang
3.     Adanya jaringan granulasi.
4.    Bau busuk luka berkurang.

1.    Kaji luas dan keadaan luka serta proses penyembuhan.




2.    Rawat luka dengan baik dan benar : membersihkan luka secara abseptik
menggunakan larutan yang tidak iritatif, angkat sisa balutan yang menempel
pada luka dan nekrotomi jaringan yang mati.



3.   Kolaborasi dengan dokter untuk pemberian insulin, pemeriksaan kultur pus
pemeriksaan gula darah pemberian anti biotik.

1.    Pengkajian yang tepat terhadap luka dan proses penyembuhan
akan membantu dalam menentukan tindakan selanjutnya.
2.    Merawat luka dengan teknik aseptik, dapat menjaga kontaminasi
luka dan larutan yang iritatif akan merusak jaringan granulasi tyang timbul,
sisa balutan jaringan nekrosis dapat menghambat proses granulasi.
3.   Insulin akan menurunkan kadar gula darah, pemeriksaan kultur
pus untuk mengetahui jenis kuman dan anti biotik yang tepat untuk
pengobatan, pemeriksaan kadar gula darahuntuk mengetahui perkembangan
penyakit.
5
Infeksi b.d perlukaan, luka yang sukar sembuh, dan gangguan pada autonomi neuropati
TJ: menggurangi infeksi yang terjadi
KH:
1.    Tanda-tanda infeksi tidak ada.
2.    Tanda-tanda vital dalam batas normal (T: 36-37,50C).
3.    Keadaan luka baik dan kadar gula darah normal.
1.       Observasi tanda-tanda infeksi dan peradangan seperti demam, kemerahan, adanya pus atau luka.

2.       Tingkatkan upaya pencegahan dengan melakukan cuci tangan yang baik pada semua orang yang berhubungan dengan pasien termasuk pasiennya sendiri.

3.    Kolaborasi Lakukan pemeriksaan kultur dan sensitifitas sesuai dengan indikasi.





4.    Kolaborasi Berikan obat antibiotik yang sesuai
                         
1.  Mengetahui sejauh mana infeksi telah terjadi.




2.    Mencegah timbulnya infeksi silang (infeksi nosokomial)





3.    Untuk mengidentifikasi organisme sehingga dapat memilih memberikan terapi antibiotik yang terbaik.

4.   Penanganan awal dapat membantu mencegah timbulnya sepsis
6
Gangguan pola tidur berhubungan dengan rasa nyeri pada luka di kaki.
TJ: Gangguan pola tidur pasien akan teratasi.
KH:
1.    Pasien mudah tidur dalam waktu 30 – 40 menit.
2.    Pasien tenang dan wajah segar.
3.    Pasien mengungkapkan dapat beristirahat dengan cukup.

1.                   Ciptakan lingkungan yang nyaman dan tenang.

2.   Kaji tentang kebiasaan tidur pasien di rumah.






3.   Kaji adanya faktor penyebab gangguan pola tidur yang lain seperti cemas,
efek obat-obatan dan suasana ramai.


4.   Anjurkan pasien untuk menggunakan pengantar tidur dan teknik relaksasi.




5.   Kaji tanda-tanda kurangnya pemenuhan kebutuhan tidur pasien.
1.    Lingkungan yang nyaman dapat membantu meningkatkan
tidur/istirahat.
2.    mengetahui perubahan dari hal-hal yang merupakan kebiasaan
pasien ketika tidur akan mempengaruhi pola tidur pasien.
3.    Mengetahui faktor penyebab gangguan pola tidur yang lain
dialami dan dirasakan pasien.

4.   Pengantar tidur akan memudahkan pasien dalam jatuh dalam
tidur, teknik relaksasi akan mengurangi ketegangan dan rasa nyeri.

5.   Untuk mengetahui terpenuhi atau tidaknya kebutuhan tidur
pasien akibat gangguan pola tidur sehingga dapat diambil tindakan yang
tepat.












WOC Ulkus Kaki Diabetes
 



 
Jumlah reseptor insulin menurun
 
 








 





BAB IV
PENUTUP

A Kesimpulan
 Kaki diabetik digunakan untuk kelainan kaki mulai dari ulkus sampai gangren yang terjadi pada orang dengan diabetes akibat neuropati atau iskemia perifer, atau keduanya. Adapun etiologi dari kaki diabetik adalah Suplay darah kurang, Neuropati dan Berkurangnya daya tahan tubuh terhadap infeksi.
Manifestasi Klinik untuk ulkus diabetik adalah Umumnya pada daerah plantar kaki, Kelainan bentuk kaki; deformitas kaki, Berjalan yang kurang seimbang, Adanya fisura dan kering pada kulit, Pembentukan kalus pada area yang tertekan, Tekanan nadi pada area kaki kemungkinan normal, ABI normal, Luka biasanya dalam dan berlubang, Sekeliling kulit dapat terjadi selulitis, Hilang atau berkurangnya sensasi nyeri, Xerosis (keringnya kulit kronik), Hyperkeratosis pada sekeliling luka dan anhidrosis, Eksudat yang tidak begitu banyak, Biasanya luka tampak merah. Pemeriksaan dignostik yang dapat dilakukan pada ulkus diabetikum yaitu Gula darah , Aceton plasma, Asam lemak bebas: kadar lipid dan kolesterol , Osmolalitas serum, Elektrolit (Natrium, Kalium, Fosphor, GDA, Darah, Urin.
Penatalaksanaan Medis  ulkus diabetik yaitu Obat hiperglikemik oral (OHO), Insulin dan Terapi Kombinasi dan penatalaksanaan keperawatan nya yaitu Diet (Diet dan pengendalian berat badan merupakan dasar untuk memberikan semua unsur makanan esensial, memenuhi kebutuhan energi, mencegah kadar glukosa darah yang tinggi dan menurunkan kadar lemak) .Latihan (Dengan latihan ini misalnya dengan berolahraga yang teratur akan menurunkan kadar glukosa darah dengan meningkatkan pengambilan glukosa oleh otot dan memperbaiki pemakaian kadar insulin). Pemantauan (Dengan melakukan pemantaunan kadar glukosa darah secara mandiri diharapkan pada penderita diabetes dapat mengatur terapinya secara optimal). Adapun Pemeriksaan Neuropati untuk Ulkus diabetik ini  adalah Monofilamen, Refleks Hammer dan Pemeriksaan biotesiometer
B.     Saran
1.      Untuk klien diharapkan mengontrol gula darah dan control ke dokter atau rumah sakit setiap bulan dengan teratur, melakukan perawatan luka, memperhatikan pola makan, olahraga dan minum obat dengan teratur.
2.      Untuk mahasiswa diharapkan melalui makalah ini dapat mengerti dan memahami Asuhan Keperawatan klien dengan ulkus diabetik dan dapat mengaplikasikan di Rumah Sakit.
DAFTAR PUSTAKA

Armstrong, D & Lawrence, A . (2007). Diabetic Foot Ulcers,Prevention,Diagnosis            and Classification. Jakarta: EGC.
Bilous, R. W. (2008). Bimbingan Dokter pada Diabetes. Jakarta: Dian Rakyat.
Evelyn C. Pearce (2003). Anatomi Fisiologi; untuk paramedis , Jakarta: PT Gramedia

Grace, P. A & Borley, N.R. (2006). At a Glance Ilmu Bedah Edisi Ketiga. Jakarta: Gramedia.
Handaya, A. Y. (2009). Ulkus Kaki Diabetes.
Hinchliff, S. (2001). Kamus keperawatan. Jakarta: EGC.
Johnson, J. Y. [et al]. (2005). Prosedur Perawatan di Rumah Pedoman untuk         Perawat. Jakarta: EGC.
Mayfield, J. A. [et al]. (2007). Preventive Foot Care in People with Diabetes. Jakarta:        EGC
Pendsey, S. [et al]. (2004). Diabetic Foot: A Clinical Atlas. New Delhi: Jaypee       BrothersMedical Publisher (P) Ltd.
Rendy, M. C & Margareth, T.H. (2012). Asuhan Keperawatan Medikal Bedah &   Penyakit Dalam. Jogyakarta: Nuha Medika.
Sudoyo, A. W. [et al]. (2009). Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam Jilid III Edisi V.      Jakarta:Interna Publishing.
Suriadi. (2004). Perawatan Luka. Jakarta: Sagung Seto.
Sustrani, L. [et al]. (2006). Diabetes. Jakarta: Gramedia.

Tidak ada komentar: