Aplikasi Merah Putih

Assalamualaikum.
dalam rangka memeriahkan hari kemerdekaan Indonesia, telah hadir aplikasi merah putih terbaru untuk mendapatkan pulsa gratis. Sudah terbukti dapat pulsa langsung. Sebarkan berita gembira ini. Download aplikasinya lewat link dibawah ini :
https://invite.cashtree.id/fd659d

ASUHAN KEPERAWATAN MASTOIDITIS

Batasan:
Mastoiditis merupakan keradangan kronik yang mengenai rongga mastoid dan  komplikasi dari Otitis Media Kronis.  Lapisan epitel dari telinga tengah adalah sambungan dari lapisan epitel sel-sel mastoid udara (mastoid air cells) yang melekat ditulang temporal.  Mastoiditis adalah penyakit sekunder dari otitis media yang tidak dirawat atau perawatannya tidak adekuat. 
            Mastoiditis dapat terjadi secara akut maupun kronis.  Pada saat belum ditemukan-nya antibiotik, mastoiditis merupakan penyebab kematian pada anak-anak serta ketulian/hilangnya pendengaran pada orang dewasa.  Saat ini, terapi antibiotik ditujukan untuk pengobatan infeksi telinga tengah sebelum berkembang menjadi mastoiditis.

Etiologi:
Kuman aerob.
-          Positif gram : S. Pyogenes, S. Albus.
-          Negatif gram : Proteus spp, Pseudomonas spp, E. Coli, kuman anaerob.
-          Bakterioides spp

Pathofisiologi:
Timbul dari infeksi yang berulang dari Otitis Media Akut.
Faktor-faktor yang menyebabkan timbulnya infeksi berulang.
  1. Eksogen : infeksi dari luar melalui perforasi membran timpani.
  2. Rinogen : dari penyakit rongga hidung dan sekitarnya.
  3. Endogen : alergi, DM, TBC paru.

Diagnosis:
  1. Anamnesis
- Otorea terus menerus/kumat-kumatan lebih dari 6-8 minggu.
- Pendengaran menurun (tuli).
  1. Pemeriksaan.
1) Tipe Tubo Timpani (hipertropi, benigna).
- Perforasi sentral.
- Mukosa menebal.
- Audiogram; tuli konduktif dengan “air bone gap” sebesar 30 dB.
- X-foto mastoid: sklerotik.
2) Tipe Degeneratif
-    Perforasi sentral besar.    
-    Granulasi/polip pada mukosa cavum timpani.
-    Audiogram: tuli konduktif/campuran dengan penurunan 50-60 dB.
- X-foto mastoid: sklerotik.
            3) Tipe Metaplastik (atikoantral maligna)
                - Perforasi atik/marginal.
                - Terdapat Kolesteatom
                - Destruksi tulang pada margotimpani
 - Audiogram: tuli konduktif/campuran dengan penurunan 30 atau lebih. 
 - X-foto mastoid: sklerotik.
            4) Tipe Campuran (degeneratif metaplastik)
    - Perporasi marginal besar atau total.
           - Granulasi dan kolesteatom.
           - Audiogram : Tuli konduktif/campuran dengan penurunan 60 dB asal lebih.
           - X-Foto mastoid sklerotik/rongga.
  1. Pemeriksaan tambahan : pembuatan audiogram dan X-foto mastoid.

1.         Penyulit

  1. Abses retro aurikula
  2. Paresis/paralisis syaraf fasialis
  3. Labirintitis
  4. Komplikasi intra kranial: meningitis, abses extra dural, abses otak.

A.       Penatalaksanaan Kolaborasi

B.       Pengkajian

Manifestasi klinik mastoiditis meliputi adanya pembengkakkan dibelakang telinga dan rasa sakit pada saat pergerakan minimal dari tragus, pinna atau kepala.  Rasa sakit tidak berku-rang dengan tindakan Myringotomy.  Selulitis timbul di kulit atau di kulit kepala luar selama proses mastoid berlangsung.  Pada pemeriksaan otostopik ditemukan adanya warna merah, tumpul/majal, tebal, membran timpani yang tidak bergerak dengan atau tanpa per-forasi.  Nodes limpa postauricular teraba lembut dan membesar.  Klien mastoiditis juga dapat mengalami demam yang tidak begitu tinggi, malas dan anoreksia.
 Berdasarkan tipenya, penatalaksanaan terapi dapat dibagi sebagai berikut:
  1. Tipe tubo timpanal stadium aktif:
- Antibiotika: ampisilin/amoxillin (3-4 x 500 mg oral), klindamisin (3x150 mg – 300 mg oral) per hari selama 5-7 hari.
- Pengobatan sumber infeksi dirongga hidung dan sekitarnya.
- Perawatan lokal dengan Perhidrol 3 % dan tetes telinga Chloramphenicol 1-2 %.
- Pengobatan alergi bila ada latar belakang alergi.
Pada stadium tenang (kering) dilakukan Miringoplasty).
  1. Tipe degeneratif:
- Atikoantrotomi
- Timpanoplastik
  1. Tipe metaplastik/campuran.
- Mastoidektomi radikal
- Mastoidektomi radikal & rekonstruksi
Paresis/paralisis syaraf fasialis
  1. Menentukan lokasi lesi
- Dengan tes Scheimer : supra/intra ganglion.
- Refleks stapedeus: positif             lesi dibawah M. Stapedeus.       
                                 negatif            lesi diatasnya                                                     
  1. Mastoidektomi, urgen dan dekompresi syarap fasialis.
  2. Rehabilitasi.

2.         Intervensi

C.       Penatalaksanaan Tanpa Pembedahan.  Terapi antibiotik ditujukan untuk mencegah penye-baran infeksi dari otitis media atau mastoiditis, namun juga ada batas penggunaan untuk pengobatan mastoiditis karena adanya kesulitan untuk menerima efek antibiotik sampai kedalam struktur tulang mastoid yang menonjol.  Dari pemeriksaan biakan dapat ditentu-kan kesensitifan organisme yang menginfeksi terhadap antibiotik tertentu.  Bahan untuk biakan diperoleh dari cairan telinga atau dari tindakan myringotomy.


a.         Penatalaksanaan Pembedahan

Tindakan pembedahan untuk membuang jaringan yang terinfeksi diperlukan jika tidak ada respon terhadap pengobatan antibiotik selama beberapa hari.  Mastoidektomy radikal/total yang sederhana atau yang dimodifikasi dengan tympanoplasty dilaksanakan untuk memu-lihkan ossicles dan membran timpani sebagai suatu usaha untuk memulihkan pendengaran.  Seluruh jaringan yang terinfeksi harus dibuang sehingga infeksi tidak menyebar ke bagian yang lain. 
            Beberapa komplikasi dapat timbul bila bahan yang terinfeksi belum dibuang se-muanya atau ketika ada kontaminasi dari struktu/bagian lain diluar mastoid dan telinga te-ngah. Komplikasi mastoiditis meliputi kerusakan di abducens dan syaraf-syaraf kranial wajah (syaraf-syaraf kranial VI dan VII), menurunnya kemampuan klien untuk melihat ke arah sam-ping/lateral (syaraf kranial VI) dan menyebabkan mulut mencong, seolah-olah ke samping (syaraf kranial VII).  Komplikasi-komplikasi lain meliputi vertigo, meningitis, abses otak, otitis media purulen yang kronis dan luka infeksi.

1)                  TYMPANOPLASTY

Ahli bedah berusaha memulihkan kembali telinga tengah untuk memperbaiki pendengaran yang hilang.  Prosedur pembedahan yang ada bervariasi, mulai dari cara pemulihan yang sederhana pada membran timpani atau dikenal dengan istilah myringoplasty sampai penggantian ossicles didalam telinga tengah.  Tipe I tympanoplasty digunakan pada myringoplasty.  Tindakan tympanoplasty yang bermutu tinggi digunakan untuk kerusakan yang lebih besar serta disiapkan untuk pemulihan yang lebih ekstensif/lebih luas.

3.         Perawatan Pre-Operasi

Perawat mengajarkan secara khusus pada klien yang dijadwalkan untuk menjalani tympanoplasty.  Antibiotik tetes diberikan sebelum pembedahan untuk membunuh organisme yang menginfeksi, cairan yang terdiri dari cuka dan air steril dengan perban-dingan yang sama diberikan untuk mengirigasi telinga, yang bertujuan untuk mengembalikan ke pH normal. 
Hal-hal yang harus dilakukan klien agar tidak terjadi infeksi pre-operasi seperti:
-          menghindari orang-orang yang terinfeksi saluran pernafasan atas.
-          beristirahat yang cukup.
-          mengkonsumsi diet yang seimbang.
-          mempertahankan intake cairan yang adekuat.
Perawat meyakinkan klien bahwa prosedur yang dilaksanakan bertujuan untuk memperbaiki pendengaran, meskipun pada awalnya pendengarannya akan berkurang kare-na adanya balutan di kanal.  Perawat menerangkan pentingnya bernafas dalam setelah ope-rasi.  Mengenai cara batuk yang benar juga perlu diterangkan dan hindari batuk yang kuat, karena dapat meningkatkan tekanan di telinga tengah.

Prosedur Operatif 
Pada awalnya tindakan pembedahan dilakukan hanya bila di telinga tengah dan tuba eusthacia bebas dari infeksi.  Apabila terjadi infeksi, maka hasil dari tindakan graft/pemindahan kulit kemungkinan besar menjadi infeksi dan tidak sembuh sebagaimana mestinya.  Pada pembedahan membran timpani dan ossicles mengharuskan penggunaan mikroskop dan dipertimbangkan sebagai prosedur yang sulit.  Anestesi lokal dapat digunakan meskipun yang sering dipilih adalah anestesi general untuk mencegah klien agar tidak cepat sadar.
            Ahli bedah dapat memperbaiki membran timpani dengan menggunakan bahan-bahan seperti otot fascia temporal, mengambil bagian yang tebal untuk dilakukan skin graft dan jaringan vena.  Apabila ossicles rusak, tindakan yang lebih ekstensif harus diambil untuk memperbaiki atau mengganti tulang yang kecil tersebut.  Ahli bedah menjangkau ossicles dengan salah satu dari 3 cara berikut ini:
  1. Pendekatan Transkanal (Transcanal Approach).
  2. Insisi Endaural (Endaural Incision).
  3. Mengarahkan Postauricular melalui Mastoidektomi (The Postauricular Route via Mastoidectomy).
Ahli bedah kemudian membuang  jaringan penyakit dan membersihkan rongga telinga te-ngah.  Tingkat kerusakan ossicles dikaji dengan teliti agar dapat diperbaiki atau diganti jika perlu.  Ahli bedah menggunakan kartilago autogenous atau tulang, ossicles pada mayat (cadaver), kawat stainless steel atau komponen polytetrafluoroethylene (teflon) untuk memperbaiki atau mengganti ossicles.

4.         Perawatan Post Operasi

Rendaman antiseptik gauze (An Antiseptic-Soaked Gauze), seperti Iodoform gauze (Nuga-uze), dibalut didalam kanal auditori.  Apabila dilakukan insisi postauricular atau endaural, dressing luar ditempatkan diatas tempat operasi.  Dressing dijaga/dipertahankan kebersih-an dan kekeringannya.  Perawat menggunakan teknik steril ketika mengganti dressing.  Klien tetap dalam posisi datar dengan telinga diatas, pertahankan sedikitnya selama 12 jam post operasi.  Terapi antibiotik profilaksis digunakan untuk mencegah kekambuhan.
            Umumnya klien melaporkan mengalami kemajuan setelah balutan pada kanal dilepaskan.  Sampai saat itu, perawat menggunakan teknik komunikasi khusus karena adanya gangguan pendengaran pada klien dan melakukan percakapan langsung pada telinga yang tidak terganggu.  Perawat melatih klien mengenai perawatan post operasi dan pembatasan aktifitas.

DIAGNOSA KEPERAWATAN
Diagnosa keperawatan yang dapat timbul:
1.  Perubahan persepsi/sensori berhubungan dengan obstruksi, infeksi di telinga tengah atau kerusakan di syaraf pendengaran.
      Hasil yang diharapkan: Klien akan mengalami peningkatan persepsi/sensori   pendengaran sampai pada tingkat fungsional.
NO
INTERVENSI KEPERAWATAN
RASIONAL
1.







2.







3.





4.




5.

Kaji tanda-tanda awal kehilangan pendengaran.







Bersihkan serumen yang tersembunyi dengan cara irigasi.
 - Pastikan bahwa klien tidak mengalami perforasi pada membran timpaninya atau tidak mengalami otitis media.
 - Hangatkan cairan untuk irigasi sesuai dengan su-hu  tubuh.

Instruksikan klien untuk menghabiskan seluruh do-sis antibiotik yang diresepkan (baik itu antibiotik sistemik maupun lokal).



Ajarkan klien untuk menggunakan dan merawat alat pendengaran secara tepat.



Instruksikan klien untuk menggunakan  teknik-tek-nik yang aman sehingga dapat mencegah terjadinya ketulian lebih jauh.
Diagnosa awal terhadap kea-daan telinga atau terhadap masalah-masalah pendengar-an yang ada memungkinkan pemberian intervensi sebelum pendengaran rusak secara permanen.

Serumen yang letaknya ter-sembunyi dapat menyebab-kan tuli konduktif sehingga menambah masalah pende-ngaran yang sudah ada.



Penghentian terapi antibiotik sebelum waktunya dapat me-nyebabkan organisme sisa berkembang biak sehingga infeksi akan berlanjut.

Keefektifan alat pendengaran tergantung pada tipe ganggu-an/ketulian, pemakaian serta perawatannya yang tepat.

Apabila penyebab pokok ke-tulian tidak progresif, maka pendengaran yang tersisa sensitif terhadap trauma dan infeksi sehingga harus dilin-dungi.

2.  Rasa cemas berhubungan dengan ketidakmampuan untuk berkomunikasi. 
     Hasil yang diharapkan: Klien akan menyatakan bahwa rasa cemas mengenai komu-nikasi yang terganggu berkurang dan akan lebih pandai dalam menggunkan alternatif teknik komunikasi.
NO
INTERVENSI KEPERAWATAN
RASIONAL
1.




























2.





3.










4.








5.




6.

Demonstrasikan aktifitas yang dapat meningkatkan pemahaman terhadap komunikasi verbal.
 - Atur posisi perawat langsung didepan klien.
 - Yakinkan wajah anda (perawat) dan wajah klien berada dalam pencahayaan yang cukup.
 - Dapatkan perhatian klien terlebih dahulu  sebe-lum anda mulai bicara.
 - Atur jarak anda sedekat mungkin dengan klien.
 - Gunakan nada suara yang normal.
 - Jangan berteriak.
 - Jauhkan tangan & benda lain dari mulut anda ke-tika berbicara dengan klien (karena dapat meng-halangi  klien untuk melihat gerak bibir anda).
 - Apabila memungkinkan, lakukan percakapan di ruang pribadi/tertutup tanpa ada gangguan suara luar.
 -  Validasikan dengan klien mengenai pemahaman-nya terhadap pernyataan perawat dengan cara: suruh klien untuk mengulangi atau menjelaskan kembali pernyataan tersebut dengan mengguna-kan kata-kata klien sendiri.
 - Gunakan indera atau media lain selama ber-komunikasi, seperti:
    © Gerakan tangan.
    © Perubahan/mimik wajah.
    © Sentuhan.
    © Gambar-gambar.
    © Tulisan.

Jujur kepada klien ketika mendiskusikan mengenai kemungkinan kemajuan dari  fungsi pendengaran nya  untuk mempertahankan harapan klien dalam berkomunikasi.

Kaji kemampuan klien dalam membaca & menulis.










Beritahukan/kenalkan pada  klien semua alternatif metode komunikasi (seperti bahasa isyarat & membaca bibir) dengan langkah yang tepat untuk masing-masing klien.





Berikan informasi mengenai kelompok yang juga pernah mengalami gangguan seperti yang dialami klien untuk memberikan dukungan kepada klien.


Berikan informasi mengenai sumber-sumber dan alat-alat yang tersedia yang  dapat membantu klien.
Menunjukkan kepada klien bahwa dia dapat berkomuni-kasi dengan efektif tanpa menggunakan alat khusus, se- hingga dapat mengurangi ra-sa cemasnya.























Harapan-harapan yang tidak  realistik tidak dapat mengura-ngi kecemasan, justru malah menimbulkan ketidakpercaya an klien terhadap perawat.

Komunikasi dengan cara me-nulis  dapat efektif dalam mempertahankan kemandiri-an klien, harga diri serta kon-tak sosialnya; bagaimanapun komunikasi dengan cara ini tidak nyaman atau tidak me-mungkinkan bagi klien yang minim keterampilan memba-ca & menulisnya.

Memungkinkan klien untuk memilih metode komunikasi yang paling tepat untuk kehi-dupannya sehari-hari disesu-aikan dengan tingkat kete-rampilannya sehingga dapat mengurangi rasa cemas & frustasinya.

Dukungan dari beberapa orang yang memiliki penga-laman yang sama akan sangat membantu klien.

Agar klien menyadari sum-ber-sumber apa saja yang ada disekitarnya yang dapat men- dukung dia untuk berkomu-nikasi.

3.  Kerusakan berkomunikasi berhubungan dengan efek kehilangan pendengaran.
     Kriteria hasil:
     Klien akan:
-          Memakai alat bantu dengar (jika sesuai).
-          Menerima pesan melalui metoda pilihan (misal: komunikasi tulisan, bahasa lam-bang, berbicara dengan jelas pada telinga yang “baik”.
NO
INTERVENSI KEPERAWATAN
RASIONAL
1.







2.



























3.



Dapatkan apa metode komunikasi yang diinginkan & catat pada rencana perawatan metode yang diguna-kan oleh staf dan klien, seperti:
© Tulisan.
© Berbicara.
© Bahasa isyarat.

Kaji kemampuan untuk menerima pesan secara ver-bal.
a. Jika ia dapat mendengar pada satu telinga, ber-bicara dengan perlahan & dengan jelas langsung ke telinga yang baik (hal ini lebih baik daripada berbicara dengan keras).
-          Tempatkan klien dengan telinga yang baik berhadapan dengan pintu.
-          Dekati klien dari sisi telinga yang baik.
b.  Jika klien dapat membaca ucapan:
-          Lihat langsung pada klien & bicaralah lam-  bat & jelas.
-          Hindari berdiri didepan cahaya karena dapat menyebabkan klien tidak dapat membaca bibir anda.
c.  Perkecil distraksi yang dapat menghambat kon- sentrasi klien.
-          Minimalkan percakapan jika klien kelelah-an atau gunakan komunikasi tertulis.
-          Tegaskan komunikasi penting dengan me-nuliskannya.
d.  Jika ia hanya mampu bahasa isyarat, sediakan penerjemah.  Alamatkan semua komunikasi pada klien, tidak kepada penterjemah.  Jadi seolah-olah perawat sendiri yang langsung berbicara kepada klien dengan mengabaikan keberadaan penterjemah.

Gunakan faktor-faktor yang meningkatkan pende-ngaran dan pemahaman.
 ©  Bicara dengan jelas, menghadap individu.
 © Ulangi jika klien tidak memahami seluruh isi  pembicaraan.
©       Gunakan rabaan & isyarat untuk meningkatkan komunikasi.
©       Validasi pemahaman individu dengan menga-  jukan pertanyaan yang memerlukan jawaban lebih dari “ya” atau “tidak”.
Dengan mengetahui metode komunikasi yang diinginkan oleh klien maka metode yang akan digunakan  dapat dise-suaikan dengan kemampuan & keterbatasan klien.


Pesan yang ingin disampai-kan oleh perawat kepada kli-en dapat diterima dengan ba-ik oleh klien.
























Memungkinkan komunikasi dua arah antara perawat de-ngan klien dapat berjalan de-ngan baik & klien dapat me-nerima pesan perawat secara tepat.






PENGKAJIAN DATA



I.  Identitas Klien
    Nama                       : Ny. SM
    Umur                       : 31 tahun
    TTL                         :  -
    Jenis kelamin           : Perempuan
    Alamat                    : Jl. Candu RT I  RW I Blitar.    
    Status perkawinan   : Kawin
    Agama                     : Islam
    Suku                        : Jawa
    Pendidikan              : SMA
    Pekerjaan                 : Ibu Rumah tangga
    Lama bekerja           : -
    MRS                        : 5 April 2001
    Keluarga terdekat   : Suami
    Pendidikan              : SMA
    Pekerjaan                 : Swasta
    Alamat                    : Jl. Candu RT I RW I Blitar.

II.  Status Kesehatan Saat Ini:
1.      Alasan kunjungan ke RS: Pendengaran menurun/tidak mendengar sejak 2 tahun, telinga kanan dan kiri.
2.      Keluhan utama saat ini:Otore kanan dan kiri sejak 2 tahun, kumat-kumatan.  1 bulan ini telinga kanan dan kiri sering basah.
3.      Lama keluhan : 1 bulan.
    4.   Timbulnya keluhan:  Hilang-timbul.
    5.  Faktor yang memperberat: Bila batuk pilek.                          
6.  Upaya yang dilakukan untuk mengatasi: Bila kambuh, berobat ke RSU Wlingi Blitar dan ke dokter praktek.
      7.   Diagnosa medik:  Mastoiditis (tanggal 5 April 2001).  Tanggal 5 April 2001 post op Myringoplasty.

III.  Riwayat Kesehatan Yang Lalu:
    Tuli konduksi D/S, perforasi membran timpani/perforasi sub total D/S.  Sudah 2 tahun berobat ke RSU Wlingi Blitar dan ke dokter praktek.  Klien tidak memiliki riwayat alergi.

IV. Pengkajian Fisik
      Tanggal    April 2001:
1.      Sistem Pernafasan (B 1)
RR = 20 x/mnt, tidak ada sesak nafas, tidak ada batuk pilek, tidak memiliki riwayat asma dan suara nafas normal.
2.      Sistem Hemodinamika (B 2)
TD = 130/80 mmHg, nadi = 84 x/mnt, suhu = 36,5 oC, suara jantung vesikuler.  Perfusi perifer baik, turgor baik, intake-output seimbang, infus RL 20 tts/mnt, klien tampak gelisah.
3.      Sistem Kesadaran dan Otak (B 3)
Kadang-kadang kepala pusing/vertigo, bentuk kepala simetris, GCS= 4  5  6, pupil normal, orientasi baik, tuli konduksi telinga kiri dan kanan.  Tidak ada tanda-tanda parese pada syaraf VII.  Post op Myringoplasty tanggal 6 April 2001, verban tampak terpasang dan terawat baik.
Audiogram tanggal:
Tanggal






























          K1
          K1
          K1
          K1
          K1
         
          125           250             500              1 K                        2 K             4 K           8 K
4.      Sistem Perkemihan (B 4)
Baik 2-3 x/hr, warna kuning jernih.
5.      Sistem Pencernaan (B 5)
Nafsu makan baik, tidak ada mual/muntah, BAB 2 x/hr pagi dan sore.  Klien tidak ada sakit maag.
6.      Sistem Integumen dan Muskuloskeletal (B 6)
Mandi 2 x/hr pagi dan sore, kulit bersih, tidak ada nyeri otot dan persendian.

V.   Pengkajian Psikososial
1.      Pola pikir dan persepsi: kesulitan yang dialami klien: klien kesulitan melakukan komunikasi dengan orang lain.
2.      Persepsi diri: saat ini selain klien memikirkan penyakitnya, juga memikirkan kelu-arganya (suami dan anak-anaknya).
3.      Suasana hati: gelisah dan khawatir memikirkan bagaimana bisa membeli alat bantu pendengaran (masalah keuangan).
4.      Hubungan/komunikasi: bicara dengan klien harus keras dan menggunakan isyarat dengan tangan, jarak harus dekat dengan klien.
5.      Kehidupan keluarga:
-    Adat istiadat yang dianut: Jawa.
-    Pembuat keputusan dalam keluarga: suami.
-     Pola komunikasi: suami memutuskan setiap permasalahan yang perlu pengambilan keputusan.
-     Keuangan: pas-pasan.

VI.  Data Laboratorium dan Radiologi:
      Tanggal 7 Maret 2001
      Foto Ro:     - Mastoiditis bilateral tipe sklerotik.
                           - Cor: besar dan bentuk normal.
                           - Pulmo: tidak tampak kelainan.
                           - Sinus phrenice-costalis kiri dan kanan.
      Tanggal 7 Maret 2001
      Laboratorium:
-          Urea N: 6 mg/dl.
-          Kreatinin serum: 0,7 mg/dl.
-          Bilirubin direk: 0,18 mg/dl.
-          Bilirubin total: 0,73 mg/dl.
-          SGOT: 20 U/L.
-          SGPT: 18 U/L.

VII. Terapi/Pengobatan
-          Infus RL 20 tts/mnt.
-          Klindamycin 3x300 mg.
-          Mefenamat acid 3x500 mg k/p.
-          Rawat luka (ganti verban).
-          Operasi Myringoplasty tanggal 6 April 2001.

Analisa Data
TGL
KELOMPOK DATA
KEMUNGKINAN
PENYEBAB
MASALAH
DIAGNOSA
9/4/
2001










10/4/
2001








10/4/
2001
DS:Klien mengatakan ia ti-dak bisa mendengar, bi-la diajak berbicara ha-rus keras & dekat.
DO: - Audiogram klien tuli konduksi sedang kanan & kiri.
-          Diajak bicara lebih banyak diam.
-          Bicara dengan kli-en harus keras.

DS: Klien mengeluh pu-sing sewaktu duduk/ bangun tidur.
DO: -TD: 130/80 mmHg, nadi: 84x/mnt, RR: 20 x/mnt.
-          Gelisah.
-          Post op Myringo-plasty.

DS: Klien menanyakan bagaimana cara mera-wat telinganya bila pulang nanti.
DO: -Klien gelisah.
-          Bicara harus keras.
-          Komunikasi deng-an orang lain sulit.
-          Klien tinggal diluar kota Surabaya, yai-tu di Wlingi, Bli-tar.
Penurunan pende-ngaran.










Vertigo









Ketidakcukupan pengetahuan

Kerusakan Ko-munikasi










Cedera









Ketidak efek-tifan penata-laksanaan program terapeutik.
Kerusakan ko-munikasi ber-hubungan de-ngan penurun-an pendengaran






Resiko terha-dap cedera berhubungan dengan vertigo






Ketidak efek-tifak penata-laksanaan program tera-peutik berhu-bungan dengan ketidak cukup-an pengetahu-an tentang pe-rawatan telinga & tanda-tanda gejala kompli-kasi.


NO
TGL
DIAGNOSA
TUJUAN
KRITERIA
INTERVENSI
RASIONAL
IMPLEMENTASI
EVALUASI
1.




































2.




















3.
10/4/
2001



































10/4/
2001



















10/4/
2001

Kerusakan komunikasi berhubungan dengan penu-runan pendengaran.


































Resiko terhadap cedera berhubungan dengan verti-go.


















Ketidakefektifan penata-laksanaan program tera-peutik berhubungan deng-an ketidakcukupan penge-tahuan tentang perawatan telinga; tanda-tanda gejala dan komplikasi yang mungkin terjadi.


Klian mampu melakukan komunikasi dengan setiap orang.


































Cedera tidak terjadi




















Penatalaksanaan program terapeutik efektif.
Klien mampu:
-menerima pe-san-pesan me-lalui metoda alternatif.
































-Pusing/vertigo  berkurang/hilang.
-Kllien tidak ge-lisah lagi.

















Klien mampu menjelaskan kembali/mengu-lang kembali apa yang telah dije-laskan perawat.



1. Gunakan fak-tor-fakto yang meningkatkan pendengaran & pengertian.

2. Berikan meto-da alternatif komunikasi.

3. Berikan ling-kungan yang tenang.

4. Tulis & bicara pesan-pesan yang penting.




















1. Orientasikan klien terhadap sekelilingnya.

2. Awasi klien secara ketat.



3. Pertahankan tempat tidur pada ketinggi-an yang pa-ling rendah.

4. Berikan terapi analgesik: Asam Mefe-namat 500 mg 3x1 tab.

1. Identifikasi faktor-faktor penyebab yang meng-hambat pene-talaksanaan yang efektif.

2. Jelaskan & bi-carakan pro-ses penyakit, aturan pera-watan & pengobatan, perubahan ga-ya hidup, sumber-sum-ber dukungan yang tersedia.

3. Jelaskan bah-wa perubahan dalam gaya hidup & kebu-tuhan belajar akan membu-tuhkan waktu untuk terinte-grasi.

Memaksimalkan kemampuan ko-munikasi klien.


































Agar klien tahu dimana ia bera-da.

Untuk menghin-dari & memper-kecil kemungki-nan cedera.

Memudahkan klien untuk turun naik tempat ti-dur.


Untuk menghi-langkan/mengu-rangi nyeri.



Segera dapat me-ngetahui & me-ngatasi faktor yang menghala-ngi penatalaksa-naan yang efektif


Agar klien me-ngetahui & me-ngerti tentang perawatan & pe-ngobatan penya-kitnya.






Setiap perubahan memerlukan pro-ses adaptasi yang lama.
1. Bicara terang & jelas mengha-dap kearah kli-en.
2. Mengulangi & mempersingkat kata.
3. Menyentuh ta-ngan & bahu klien untuk me-ningkatkan ko-minikasi.
4. Menggunakan kertas & pensil untuk berkomu-nikasi.
5. Mengurangi gangguan eks-ternal.
6. Menganjurkan klien untuk menggunakan waktu bicara yang cukup & menggunakan kata-kata serta gerrakan bibir yang jelas.
7. Menulis & bi-cara pada klien mengenai pesan & perintah yang penting menge-nai perawatan & pengobatan-nya.

1. Menjelaskan kondisi diruang
   an.
2. Menganjurkan keluarga untuk mendampingi klien bila ingin kekamar mandi/ WC.
3. Menyarankan klien untuk ti-dak langsung bangun/duduk.
4. Menyetel tem-pat tidur seren-dah mungkin.
5. Memberikan asam Mefena-mat 500 mg.


1. Menanyakan masalah-masa-lah yang mem-buat klien geli-sah & khawa-tir.
2. Menjelaskan bahwa:
 - kemampuan pendengaran klien tetap tidak pulih, tetapi ke-luhan-keluhan-nya dulu akan hilang.
 - Agar kontrol secara teratur.
 - Menganjurkan untuk membeli alat bantu de-ngar. 
3. Memberikan materi penjelas-an secara berta-hap & tertulis.
4. Menganjurkan klien untuk me-ngunjungi dok-ter spesialis THT dikotanya, agar ia mempe-roleh penjelasan atas kesulitan yang dihadapi bila telah pu-lang nanti.
Klien mampu melakukan komunikasi walau harus bicara dengan keras.































-Pusing/verti-go tidak terja-di.
-Cedera tidak terjadi.
















-Klien & ke-luarga dapat mengerti apa yang telah di jelaskan & akan tetap kontrol ke RS bila telah sembuh.
-Klien dapat memahami & mengerti ha-rus kemana bila mengala-mi kesulitan mengenai pe-rawatan te-linganya.


















DAFTAR PUSTAKA

Carpenito, Lynda Juall.  2001.  Buku Saku Diagnosis Keperawatan.  EGC.  Jakarta.
Donna.  1995.  Medical Surgical Nursing; 2nd Edition.  WB Saunders.
Iskandar, H. Nurbaiti,dkk  1997.  Buku Ajar Ilmu Penyakit THT.  Balai Penerbit FKUI.  Jakarta.
Mukmin, Sri; Herawati, Sri.  1999.  Teknik Pemeriksaan THT.  Laboratorium Ilmu Penyakit THT, FK UNAIR.  Surabaya.

Tidak ada komentar: