Aplikasi Merah Putih

Assalamualaikum.
dalam rangka memeriahkan hari kemerdekaan Indonesia, telah hadir aplikasi merah putih terbaru untuk mendapatkan pulsa gratis. Sudah terbukti dapat pulsa langsung. Sebarkan berita gembira ini. Download aplikasinya lewat link dibawah ini :
https://invite.cashtree.id/fd659d

PEMANTAUAN ASAM BASA


PEMANTAUAN ASAM BASA.

Defenisi : mengumpulkan dan menganalisa data Klien untuk mengatur keseimbangan asam basa.

Aktivitas :
  • ambil dan analisa nilai gas darah arteri, pastikan sirkulasi adekuat sampai ke extremitas sebelum dan sesudah pengambilan darah arteri.
  • letakkan gars darah arteri dalm tempat yang beku atau dingin, sesuai indikasi, dan kirim ke laboratorium.
  • catat suhu tubuh klien dan persentase oksigen yang diberikan saat pengambilan darah arteri.
  • catat apakah nilai PH arteri berada pada kondisi asidosis atau alkalin atau rata – rata (7,4).
  • catat nilai PaCo2 apakah menunjukkan pernapasan asidosis, alkalosis atau normal.
  • catat apakah nilai HCo3 menunjukkan adanya asidosis/ alkalosis metabolic atau Normal.
  • periksa nilai PH dihubungkan dengan PaCo2 dan HCo3 untuk menentukan apakah kondisi asidosis/ alkalosis berhasil dikompensasi atau tidak.
  • catat nilai PaO2, SaO2, dan HgB untuk menentukan keadekuatan oksigenasi arteri.
  • monitor end-title Co2, sesuai indikasi.
  • monitor peningkatan Gap anion (>14 mEq/L), menandakan peningkatan produksi/ penurunan ekskresi asam.
  • monitor tanda dan gejala deficit HCo3 dan asidosis metabolic (Ex : pernapasan kussmaul, lemah, disorientasi, sakit kepala, anoreksia, koma, PH plasma < 6, plasma HCo3 < 22mEq/L, PH plasma < 7,35, BE < - 2mEq/L, hiperkalemia, penurunan CO2.
  • monitor penyebab penurunan HCo3 (ex : diare, gagal ginjal, hipoksia, asidosis lactic, ketoasidosis diabetikum, malnutrisi, overdosis salisilate).
  • berikan agen HCo3 oral dan parenteral, sesuai indikasi.
  • berikan insulin dan potassium untuk terapi ketoasidosis diabetikum, sesuai indikasi.
  • monitor tanda dan gejala peningkatan HCo3 dan alkalosis metabolic (kaku dan gatal pada extremitas, hipertonus otot, bradikardi, tetanus, PH urin > 7, HCo3 plasma > 26 mEq/L, PH plasma > 7,45, BE > 2 mEq/L, hipokalemia dan retensi CO2.
  • monitor penyebab peningkatan HCo3 (muntah, suction, hiperaldosteron, diuretic, hipokloremia, kelebihan dalam penyuntikan obat yang mengandung HCo3).
  • ajarkan Klien untuk menghindari penggunaan obat yang mengandung HCO3 secara berlebihan, sesuai indikasi.
  • berikan agen farmakologis untuk menggantikan Cl, sesuai indikasi.
  • monitor tanda dan gejala penurunan asam karbon dan respirasi alkalosis (mengantuk, menguap, tetanus, parestesia,kedutan otot, palpitasi, kaku dan gatal, pusing, muka merah, diaporesis, mulut kering, bingung, PH > 7,45, PaCO2 < 35, hiperkloremia, penurunan HCO3).
  • monitor penyebab penurunan asam karbon dan hiperventilasi (nyeri, demam, ventilasi mekanik dan CNS/ Central Nervous System).
  • tenangkan Klien untuk menurunkan hiperventilasi, sesuai indikasi.
  • berikan analgetik, sesuai indikasi.
  • obati demam, sesuai indikasi.
  • berikan Cl secara parenteral untuk menurunkan HCO3, sementara memperbaiki penyebab alkalosis respirasi, sesuai indikasi.
  • monitor tanda dan gejala peningkatan asam karbon dan asidosis respirasi (tremor tangan dengan ekstensi pada tangan, bingung, mengantuk dan berlanjut pada koma, sakit kepala, respon verbal lambat, mual, muntah, takikardi, PH < 7,35, PaCO2 > 45mmHg, hipokalemia, HCO3 meningkat).
  • monitor penyebab peningkatan asam karbon dan asidosis respirasi (penyumbatan jalan napas, depresi ventilasi, depresi CNS, penyakit neurology, penyakit paru kronik, penyakit musculoskeletal, trauma dada, infeksi, ARDS/ acute respirasi distress syndrome, gagal jantung, penggunaan obat- obatan depresan napas).
  • dukung ventilasi dan kepatenan jaln napas pada asidosis respirasi dan peningkatan PaCO2, sesuai indikasi.
  • berikan terapi O2, sesuai indikasi.
  • berikan agen microbial dan bronkoilator sesuai indikasi.
·         berikan oksigen kadar rendah dan monitor narcosis CO2 pada kasus hiperkapneu kronis.

Tidak ada komentar: