PERKEMBANGAN KELUARGA DENGAN LANSIA : MENYESUAIKAN TERHADAP KEHILANGAN PASANGAN




PERKEMBANGAN KELUARGA DENGAN LANSIA : MENYESUAIKAN TERHADAP KEHILANGAN PASANGAN

1.1 Tugas perkembangan keluarga: menyesuaikan terhadap kehilangan pasangan.
Perkembangan keluarga dan teori siklus hidup menjelaskan dan memprediksi perubahan yang terjadi pada keluarga dan anggota keluarga di sepanjang waktu. Penerimaan tugas perkembangan keluarga  membantu individu dalam keluarga memenuhi tugasnya. Stanhope dan Lancester (2016) menjelaskan tugas perkembangan keluarga dengan lansia yaitu (1) menyesuaikan terhadap pensiun, kematian pasangan, dan hidup sendiri; (2) menyesuaikan diri dengan peran baru seperti menjadi janda, single, dan menjadi kakek-nenek; (3) menyesuaikan terhadap situasi hidup yang baru, perubahan status kesehatan (Stanhope M, Lancester J, 2016).
Tugas perkembangan keluarga dalam hal menyesuaikan terhadap kehilangan pasangan merupakan tugas perkembangan yang paling membuat trauma. Hal ini disebabkan adanya proses kehilangan seseorang yang dicintai. Wanita lansia lebih menderita akibat kehilangan pasangannya dibandingkan pria. Menurut statistik pada tahun 2000,  67 % pria berusia 75 tahun keatas yang tidak tinggal di institusi, tinggal bersama dengan pasangan mereka, dibandingkan dengan hanya 29% wanita dalam usia yang sama (U.S Bureau of The Census 2000a). Di sisi lain, wanita lansia memiliki kemungkinan sampai lebih dari tiga kali untuk menjadi janda dibandingkan pria lansia (48% dan 14%). Akibatnya, banyak lansia (8 dari 10 lansia yang berada dibawah institusi) hidup sendiri, dan sebagian besar lansia ini adalah wanita (U.S Bureau of The Census, 1995).
Dalam perbandingan dengan kelompok usia muda, lansia menyadari bahwa kematian adalah bagian dari proses kehidupan yang normal. Sebagian besar lansia lebih sedikit takut akan kematian dibandingkan individu yang lebih muda dan lebih khawatir akan kematian individu yang dicintainya daripada diri mereka sendiri (Butler & Lewis, 1982; Neinmeyer, 1988). Akan tetapi, kesadaran akan kematian tidak berarti bahwa pasangan yang telah ditinggalkan pasangannya menemukan kemudahan dalam menyesuaikan diri terhadap kehilangan. Kehilangan pasangan menimbulkan efek yang merugikan dan mengalami masalah kesehatan serius seperti isolasi sosial, bunuh diri maupun gangguan jiwa. Selain itu, kehilangan pasangan menuntut reorganisasi total fungsi keluarga. Hal ini terutama sulit untuk mencapai kepuasan, karena kehilangan telah menghilangkan sumber emosional dan ekonomi yang dibutuhkan untuk beradaptasi terhadap perubahan. Bagi wanita, hal ini berarti perpindahan dari saling ketergantungan dan aktifitas kehidupan keluarga bersama-sama menjadi sendiri atau berhubungan dengan sekelompok lansia yang tidak terikat. Bagi pria, kehilangan pasangan berarti kehilangan pendamping, secara umum seperti hilangnya penghubung ke kerabat, keluarga dan dunia sosial.
Seberapa sulit penyesuaian dapat dilihat oleh peningkatan dalam angka bunuh diri pada individu yang berusia diatas 65 tahun. Walaupun terhadap peningkatan angka bunuh diri pada wanita diatas usia 65 tahun. Jumlah bunuh diri yang lebih besar ditemukan pada populasi pria yang lebih muda. Terdapat banyak akibat negative dalam berespon kematian seorang pasangan. Misalnya menjadi janda menciptakan efek negative pada perilaku makan dan kualitas gizi khusus pada diet individu janda yang telah menjadi lansia. Selain itu, janda cenderung memiliki gejala depresif atau bahkan mengalami episode depresif yang kuat (Friedman, Marilyn M, 2010).
1.2 Teori dan model keperawatan yang mendasari pemenuhan kebutuhan perkembangan anggota keluarga pada tahapan perkembangan keluarga dengan lansia.
Teori dan model keperawatan yang akan dianalisis dalam mendasari perkembangan anggota keluarga pada tahapan perkembangan keluarga dengan lansia yang menyesuaikan dengan kehilangan pasangan yakni menggunakan teori berduka kronis (Chronic Sorrow). Duka cita kronis adalah kesenjangan yang terus menerus yang dihasilkan dari suatu kehilangan yang ditandai oleh mudahnya menyebar dan permanen. Gejala berduka dapat terjadi secara berkala dan bisa kambuh secara berkala dan berpotensi menjadi progresif. Kehilangan terjadi sebagai akibat dari perbedaan antara situasi yang ideal dengan pengalaman nyata. Metode penanganan dalam teori ini yakni penanganan terjadi secara internal melalui strategi koping pribadi atau secara eksternal melalui intervensi dari praktisi kesehatan atau orang lain (Alligood, Martha Raile, 2014).
Proses kehilangan pasangan merupakan hal yang tidak bisa dipungkiri dalam siklus hidup setiap manusia. Kehilangan pasangan merupakan tugas perkembangan yang paling membuat trauma. Hal ini disebabkan adanya proses kehilangan seseorang yang dicintai. Potensi berduka yang mengarah pada kejadian dan kekambuhan berkala dan progresif sangat besar. Untuk itu, pendekatan teori berduka kronis dan metode penanganan terhadap lansia yang kehilangan sangat penting dalam aplikasi asuhan keperawatan keluarga.
1.3 Rencana asuhan keperawatan perkembangan keluarga: menyesuaikan terhadap kehilangan pasangan




 Download file word lengkap  klik disini !

Tidak ada komentar: