Asuhan Keperawatan Pada Keluarga Dengan Lansia aplikasi NANDA, NOC, NIC

A.    Kebutuhan Pertumbuhan dan Perkembangan Anggota keluarga dengan lansia
Menurut Kemenkes RI (2016), Lanjut Usia (Lansia) adalah seseorang yang mencapai usia 60 tahun ke atas, berdasarkan Undang Undang Nomor 13 Tahun 1998 tentang Kesejahteraan Lanjut Usia. Keluarga dengan lanjut usia merupakan tahap terakhir siklus kehidupan keluarga dimulai dengan pensiun salah satu atau kedua pasangan, berlanjut sampai kehilangan salah satu pasangan, dan berakhir dengan kematian pasangan yang lain (Friedman, 2010).
Persepsi tahap siklus kehidupan ini berbeda secara signifikan diantara keluarga lansia. Beberapa individu merasa memiliki hidup yang kacau sementara orang lain akan merasa bahwa yang terbaik dalam kehidupan mereka. Semakin sulit kondisi kesehatan yang dialami, semakin terdapat kemungkinan hadirnya perasaan negatif pada usia lanjut. Lansia yang kehilangan kemandirian mereka akibat gangguan kesehatan secara umum memiliki moral yang rendah, dan buruknya kesehatan fisik seringkali menjadi awal terjadinya masalah perilaku dan psikologis pada lansia. Sebaliknya lansia yang mempertahankan kesehatan mereka, yang tetap menjaga keaktifan, dan memiliki sumber ekonomi yang adekuat menunjukkan proporsi lansia yang signifikan dan biasanya merasa positif mengenai tahap kehidupannya (Friedman, 2010).
Mempertahankan hubungan pernikahan, merupakan tugas perkembangan keluarga ketiga, berlanjut menjadi puncak kebahagiaan keluarga. Pernikahan yang dianggap memuaskan dalam beberapa tahun terakhir biasanya memiliki riwayat positif yang panjang dan begitu pula sebaiknya. Salah satu mitos usia lanjut adalah dorongan seks dan aktivitas seksual tidak lagi memungkinkan (atau tidak seharusnya ada) akan tetapi banyak penelitian memperlihatkan kebalikannya. Peneliti tersebut menemukan bahwa walaupun terdapat penurunan kapasitas seksual tetap konsisten dengan ketertarikan dan aktivitas selama masa dewasa. Gangguan kesehatan kadang kala menghilangkan dorongan seks, tetapi biasanya kurang atau hilangnya aktivitas seksual terjadi akibat masalah sosioemosional (Friedman, 2010).
Semua lansia baik sehat maupun sakit, merasakan kebutuhan untuk mengekspresikan perasaan seksual. Seksualitas melibatkan cinta, kehangatan, saling berbagi dan sentuhan. Hal ini tidak hanya berputar pada hubungan seks. Seksualitas dihubungkan dengan identitas dan mengakui anggapan bahwa individu mampu memberi kepada orang lain dan mendapat penghargaan atas pemberiannya tersebut. Masa pensiun biasanya mempengaruhi kepercayaan diri, dan seksualitas berperan penting dalam membantu lansia mempertahankan kepercayaan diri, (Potter & Perry, (2009)
Menurut Chen, et al., (2015), sumber yang dibawa oleh pernikahan adalah dukungan emosional dan integrasi sosial. Selain dari sumber materi, waktu, dan fisik, hasil kesehatan yang lebih baik dari orang yang sudah menikah juga datang dari penyediaan rasa persahabatan dan tergabung. Sebagai fokus utama dari hubungan sosial secara bertahap bergeser dengan usia, hubungan suami-istri memainkan peran penting dalam memberikan dukungan instrumental dan emosional dan rasa integrasi sosial. Bahkan, banyak literatur telah menunjukkan pentingnya hubungan suami-istri untuk kesehatan orang usia lanjut (Warner & KelleyMoore, 2012). Selanjutnya, menurut Thoits, (2011) pasangan dapat memberikan dukungan emosional, rasa aman, atau informasi sebagai penopang dari efek peristiwa stres, yang tampaknya menjadi masalah utama untuk kesehatan mental.

B.     Teori dan Model Keperawatan yang Mendasari
Model adaptasi Suster Calista Roy (1976) dalam Alligood, (2014) berfokus pada konsep adaptasi manusia. Model adaptasi roy dapat digambar melalui skema berikut :

DOWNLOAD FILE WORD LENGKAP KLIK DISINI !

Tidak ada komentar: