Silahkan berkunjung keblog saya, semoga bermanfaat bagi kita semua dan dapat memajukan dunia keperawatan.

SAP TERAPI BERMAIN


SAP TERAPI BERMAIN

Pokok Bahasan           : Terapi Bermain Pada Anak Di Rumah Sakit
Sub Pokok Bahasan    : Terapi Bermain Anak Usia Prasekolah
Tujuan                         : Mengoptimalkan tingkat perkembangan anak
Tempat                        : Ruang Anggrek RSUD Kota Yogyakarta.
Waktu                         : Jumat, 27 Agustus 2008 selama 35 menit (jam 09.30 s.d 10.05).
Sasaran                        :1. Klien”An. F” umur 3 tahun
 2. Klien “An.R” umur 5 tahun
Metode                        : 1. Ceramah
2. Bermain bersama
Media                           : 1. Lembar gambar
   2. Pasel, Bola
Pembagian tugas kelompok :
Pemandu         : Rosidah, S.Kep
Notulis            : Dwi Rusdiyatmi, S.Kep
Fasilitator        : Adang, S.Kep

PENDAHULUAN:
         Bermain merupakan suatu aktivitas bagi anak yang menyenangkan dan merupakan suatu metode bagaimana mereka mengenal dunia. Bagi anak bermain tidak sekedar mengisi waktu, tetapi merupakan kebutuhan anak seperti halnya makanan, perawatan, cinta kasih dan lain-lain. Anak-anak memerlukan berbagai variasi permainan untuk kesehatan fisik, mentaldan perkembangan emosinya.
Dengan bermain anak dapat menstimulasi pertumbuhan otot-ototnya, kognitifnya dan juga emosinya karena mereka bermain dengan seluruh emosinya, perasaannya dan pikirannya. Elemen pokok dalam bermain adalah kesenangan dimana dengan kesenangan ini mereka mengenal segala sesuatu yang ada disekitarnya sehingga anak yang mendapat kesempatan cukup untuk bermain juga akan mendapatkan kesempatan yang cukup untuk mengenal sekitarnya sehingga ia akan menjadi orang dewasa yang lebih mudah berteman, kreatif dan cerdas, bila dibandingkan dengan mereka yang masa kecilnya   kurang mendapat kesempatan bermain.


TUJUAN INSTRUKSIONAL UMUM
Setelah mendapatkan terapi bermain selama 35 menit, anak diharapkan bisa merasa tenang selama perawatan dirumah sakit dan tidak takut lagi terhadap perawat sehingga anak bisa merasa nyaman selama dirawat dirumah sakit.

TUJUAN INSTRUKSIONAL KHUSUS 
Setelah mendapatkan terapi bermain satu (1) kali diharapkan anak mampu :
1.         Bisa merasa tenang selama dirawat.
2.         Anak bisa merasa senang dan tidak takut lagi dengan dokter dan perawat
3.         mau melaksanakan anjuran dokter dan perawat

Rencana Pelaksanaan :
No
Terapis
Waktu
Subjek terapi
1
Persiapan
a.    Menyiapkan ruangan.
b.   Menyiapkan alat-alat.
c.    Menyiapkan anak dan keluarga
10 menit
Ruangan,alat,anak dan keluarga siap
2
Proses :
a.          Membuka proses terapi bermain dengan mengucap kan salam, memperkenalkan diri.
b.         Menjelaskan pada anak dan keluarga tentang tujuan dan manfaat bermain, menjelaskan cara permainan.
c.          Mengajak anak bermain .
d.         Mengevaluasi respon anak dan keluarga.




2 menit

5 menit



10 menit
3 menit



Menjawab salam, Memperkenalkan diri, Memperhatikan



Bermain bersama dengan antusias dan mengungkapkan perasaannya
3
Penutup (1 menit).
Menyimpulkan, mengucapkan salam

5 menit

Memperhatikan dan menawab salam


MATERI TERAPI BERMAIN

KEUNTUNGAN BERMAIN
Keuntungan-keuntungan yang didapat dari bermain, antara lain:
1.             Membuang ekstra energi.
2.             Mengoptimalkan pertumbuhan seluruh bagian tubuh, seperti tulang, otot dan organ-organ.
3.             Aktivitas yang dilakukan dapat merangsang nafsu makan anak.
4.             Anak belajar mengontrol diri.
5.             Berkembanghnya berbagai ketrampilan yang akan berguna sepanjang hidupnya.
6.             Meningkatnya daya kreativitas.
7.             Mendapat kesempatan menemukan arti dari benda-benda yang ada disekitar anak.
8.             Merupakan cara untuk mengatasi kemarahan, kekuatiran, iri hati dan kedukaan.
9.             Kesempatan untuk bergaul dengan anak lainnya.
10.         Kesempatan untuk mengikuti aturan-aturan.
11.         Dapat mengembangkan kemampuan intelektualnya.

















MACAM BERMAIN

1.      Bermain aktif
Pada permainan ini anak berperan secara aktif, kesenangan diperoleh dari apa yang diperbuat oleh mereka sendiri. Bermain aktif meliputi :
a.       Bermain mengamati/menyelidiki (Exploratory Play)
Perhatian pertama anak pada alat bermain adalah memeriksa alat permainan tersebut, memperhatikan, mengocok-ocok apakah ada bunyi, mencium, meraba, menekan dan kadang-kadang berusaha membongkar.
b.      Bermain konstruksi (Construction Play)
Pada anak umur 3 tahun dapat menyusun balok-balok menjadi rumah-rumahan.
c.       Bermain drama (Dramatic Play)
Misal bermain sandiwara boneka, main rumah-rumahan dengan teman-temannya.
d.      Bermain fisik
Misalnya bermain bola, bermain tali dan lain-lain.

2.      Bermain pasif
Pada permainan ini anak bermain pasif antara lain dengan melihat dan  mendengar. Permainan ini cocok apabila anak sudah lelah bernmain aktif dan membutuhkan sesuatu untuk mengatasi kebosanan dan keletihannya.
Contoh ; Melihat gambar di buku/majalah.,mendengar cerita atau musik,menonton televisi dsb.
Dalam kegiatan bermain kadang tidak dapat dicapai keseimbangan dalam bermain, yaitu apabila terdapat hal-hal seperti dibawah ini :
1.      Kesehatan anak menurun. Anak yang sakit tidak mempunyai energi untuk aktif bermain.
2.      Tidak ada variasi dari alat permainan.
3.      Tidak ada kesempatan belajar dari alat permainannya.
4.      Tidak mempunyai teman bermain.




ALAT PERMAINAN EDUKATIF (APE)
Alat Permainan Edukatif (APE) adalah alat permainan yang dapat mengoptimalkan perkembangan anak, disesuaikan dengan usianya dan tingkat perkembangannya, serta berguna untuk :
1.       Pengembangan aspek fisik, yaitu kegiatan-kegiatan yang dapat menunjang atau merangsang pertumbuhan fisik anak, trediri dari motorik kasar dan halus.
Contoh alat bermain motorik kasar : sepeda, bola, mainan yang ditarik dan didorong, tali, dll. Motorik halus : gunting, pensil, bola, balok, lilin, dll.
2.       Pengembangan bahasa, dengan melatih berbicara, menggunakan kalimat yang benar.Contoh alat permainan : buku bergambar, buku cerita, majalah, radio, tape, TV, dll.
3.        Pengembangan aspek kognitif, yaitu dengan pengenalan suara, ukuran, bentuk. Warna, dll. Contoh alat permainan : buku bergambar, buku cerita, puzzle, boneka, pensil warna, radio, dll.
4.       Pengembangan aspek sosial, khususnya dalam hubungannya dengan interaksi ibu dan anak, keluarga dan masyarakat
Contoh alat permainan : alat permainan yang dapat dipakai bersama, misal kotak pasir, bola, tali, dll.

HAL-HAL YANG HARUS DIPERHATIKAN DALAM BERMAIN
1.      Bermain/alat bermain harus sesuai dengan taraf perkembangan anak.
2.      Permainan disesuaikan dengan kemampuan dan minat anak.
3.      Ulangi suatu cara bermain sehingga anak terampil, sebelum meningkat pada keterampilan yang lebih majemuk.
4.      Jangan memaksa anak bermain, bila anak sedang tidak ingin  bermain.
5.      Jangan memberikan alat permainan terlalu banyak atau sedikit.

BENTUK- BENTUK PERMAINAN
1.      Usia 0 – 12 bulan
Tujuannya adalah :
a.       Melatih reflek-reflek (untuk anak bermur 1 bulan), misalnya mengisap, menggenggam.
b.      Melatih kerjasama mata dan tangan.
c.       Melatih kerjasama mata dan telinga.
d.      Melatih mencari obyek yang ada tetapi tidak kelihatan.
e.       Melatih mengenal sumber asal suara.
f.       Melatih kepekaan perabaan.
g.      Melatih keterampilan dengan gerakan yang berulang-ulang.
Alat permainan yang dianjurkan :
a.       Benda-benda yang aman untuk dimasukkan mulut atau dipegang.
b.       Alat permainan yang berupa gambar atau bentuk muka.
c.       Alat permainan lunak berupa boneka orang atau binatang.
d.      Alat permainan yang dapat digoyangkan dan keluar suara.
e.       Alat permainan berupa selimut dan boneka.
2.      Usia 13 – 24 bulan
Tujuannya adalah :
a.       Mencari sumber suara/mengikuti sumber suara.
b.      Memperkenalkan sumber suara.
c.       Melatih anak melakukan gerakan mendorong dan menarik.
d.      Melatih imajinasinya.
e.       Melatih anak melakukan kegiatan sehari-hari semuanya dalam bentuk kegiatan yang menarik
Alat permainan yang dianjurkan:
a.       Genderang, bola dengan giring-giring didalamnya.
b.       Alat permainan yang dapat didorong dan ditarik.
c.       Alat permainan yang terdiri dari: alat rumah tangga(misal: cangkir yang tidak mudah pecah, sendok botol plastik, ember, waskom, air), balok-balok besar, kardus-kardus besar, buku bergambar, kertas untuk dicoret-coret, krayon/pensil berwarna.
3.   Usia 25 – 36  bulan
Tujuannya adalah ;
a.       Menyalurkan emosi atau perasaan anak.
b.       Mengembangkan keterampilan berbahasa.
c.       Melatih motorik halus dan kasar.
d.      Mengembangkan kecerdasan (memasangkan, menghitung, mengenal dan membedakan warna).
e.       Melatih kerjasama mata dan tangan.
f.        Melatih daya imajinansi.
g.       Kemampuan membedakan permukaan dan warna benda.
Alat permainan yang dianjurkan :
a.       Alat-alat untuk menggambar.
b.       Lilin yang dapat dibentuk
c.       Pasel (puzzel) sederhana.
d.      Manik-manik ukuran besar.
e.       Berbagai benda yang mempunyai permukaan dan warna yang berbeda.
f.        Bola.
4.   Usia 32 – 72 bulan
Tujuannya adalah  :
a.       Mengembangkan kemampuan menyamakan dan membedakan.
b.      Mengembangkan kemampuan berbahasa.
c.       Mengembangkan pengertian tentang berhitung, menambah, mengurangi.
d.      Merangsang daya imajinansi dsengan berbagai cara bermain pura-pura (sandiwara).
e.       Membedakan benda dengan permukaan.
f.       Menumbuhkan sportivitas.
g.      Mengembangkan kepercayaan diri.
h.      Mengembangkan kreativitas.
i.        Mengembangkan koordinasi motorik (melompat, memanjat, lari, dll).
j.        Mengembangkan kemampuan mengontrol emosi, motorik halus dan kasar.
k.      Mengembangkan sosialisasi atau bergaul dengan anak dan orang diluar rumahnya.
l.        Memperkenalkan pengertian yang bersifat ilmu pengetahuan, misal : pengertian mengenai terapung dan tenggelam.
m.    Memperkenalkan suasana kompetisi dan gotong royong.
Alat permainan yang dianjurkan :
a.       Berbagai benda dari sekitar rumah, buku bergambar, majalah anak-anak, alat gambar & tulis, kertas untuk belajar melipat, gunting, air, dll.
b.      Teman-teman bermain : anak sebaya, orang tua, orang lain diluar rumah.
6.      Usia Prasekolah
Alat permainan yang dianjurkan :
a.       Alat olah raga.
b.      Alat masak
c.       Alat menghitung
d.      Sepeda roda tiga
e.       Benda berbagai macam ukuran.
f.       Boneka tangan.
g.      Mobil.
h.      Kapal terbang.
i.        Kapal laut dsb
7.      Usia sekolah
Jenis permainan yang dianjurkan :
a.       Pada anak laki-laki : mekanik.
b.      Pada anak perempuan : dengan peran ibu.
8.      Usia Praremaja (yang akan dilakukan oleh kelompok)
Karakterisrik permainnya adalah permainan intelaktual, membaca, seni, mengarang, hobi, video games, permainan pemecahan masalah.
9.      Usia remaja
Jenis permainan : permainan keahlian, video, komputer, dll.

 KETIKA ANAK MASUK RAWAT INAP
Tujuan kegiatan :
1.       Memberi informasi.
2.       Memicu normalisasi.
3.       Menggunakan sistem pendukung yang dikenal.
4.       Mengidentifikasi teknik koping.
Contoh kegiatan :
1.       Mendesain tanda selamat datang.
2.       Memicu orang tua mengisi angket mengenai ritual anak.
3.       Memicu orang tua membawa foto dan mainan.
4.       Memberi daftar kegiatan rumah sakit.
5.       Proaktif melakukan permainan.

Kegiatan untuk kesadaran dan citra diri
Tujuan kegiatan : meningkatkan pengetahuan tentang bagian tubuh internal dan eksternal,  fungsi tubuh dan penerimaan akan tubuhnya.
Kegiatan :
1.       Belajar tentang bagian tubuh luar.
2.       Belajar tentang bagian tubuh dalam.
3.       Belajar tentang fungsi tubuh.
4.       Belajar menerima tubuh.

EVALUASI
Peserta terapi bermain mampu:
1.      Menyebutkan nama permainan
2.      Menata pasel dalam bentuk rumah
3.      Membedakan warna dan bentuk pasel
4.      Bermain bola pasel
5.      Menulis dan mengambar
6.      Merasa senang,tenang terkait hospitalisasi.

Sumber Pustaka :
Soetjiningsih, 1988, Tumbuh Kembang Anak, EGC, Jakarta.
Markum.A.H, 1991, Buku Ajar Ilmu Kesehatan Anak, FKUI, Jakarta

TERAPI BERMAIN ANAK USIA SEKOLAH


PENDAHULUAN
         Bermain merupakan suatu aktivitas bagi anak yang menyenangkan dan merupakan suatu metode bagaimana mereka mengenal dunia. Bagi anak bermain tidak sekedar mengisi waktu, tetapi merupakan kebutuhan anak seperti halnya makanan, perawatan, cinta kasih dan lain-lain. Anak-anak memerlukan berbagai variasi permainan untuk kesehatan fisik, mentaldan perkembangan emosinya.
Dengan bermain anak dapat menstimulasi pertumbuhan otot-ototnya, kognitifnya dan juga emosinya karena mereka bermain dengan seluruh emosinya, perasaannya dan pikirannya. Elemen pokok dalam bermain adalah kesenangan dimana dengan kesenangan ini mereka mengenal segala sesuatu yang ada disekitarnya sehingga anak yang mendapat kesempatan cukup untuk bermain juga akan mendapatkan kesempatan yang cukup untuk mengenal sekitarnya sehingga ia akan menjadi orang dewasa yang lebih mudah berteman, kreatif dan cerdas, bila dibandingkan dengan mereka yang masa kecilnya   kurang mendapat kesempatan bermain.
KEUNTUNGAN BERMAIN
Keuntungan-keuntungan yang didapat dari bermain, antara lain:
1.             Membuang ekstra energi.
2.             Mengoptimalkan pertumbuhan seluruh bagian tubuh, seperti tulang, otot dan organ-organ.
3.             Aktivitas yang dilakukan dapat merangsang nafsu makan anak.
4.             Anak belajar mengontrol diri.
5.             Berkembanghnya berbagai ketrampilan yang akan berguna sepanjang hidupnya.
6.             Meningkatnya daya kreativitas.
7.             Mendapat kesempatan menemukan arti dari benda-benda yang ada disekitar anak.
8.             Merupakan cara untuk mengatasi kemarahan, kekuatiran, iri hati dan kedukaan.
9.             Kesempatan untuk bergaul dengan anak lainnya.
10.         Kesempatan untuk mengikuti aturan-aturan.
11.         Dapat mengembangkan kemampuan intelektualnya.




MACAM BERMAIN

1.      Bermain aktif
Pada permainan ini anak berperan secara aktif, kesenangan diperoleh dari apa yang diperbuat oleh mereka sendiri. Bermain aktif meliputi :
a.       Bermain mengamati/menyelidiki (Exploratory Play)
Perhatian pertama anak pada alat bermain adalah memeriksa alat permainan tersebut, memperhatikan, mengocok-ocok apakah ada bunyi, mencium, meraba, menekan dan kadang-kadang berusaha membongkar.
b.      Bermain konstruksi (Construction Play)
Pada anak umur 3 tahun dapat menyusun balok-balok menjadi rumah-rumahan.
c.       Bermain drama (Dramatic Play)
Misal bermain sandiwara boneka, main rumah-rumahan dengan teman-temannya.
d.      Bermain fisik
Misalnya bermain bola, bermain tali dan lain-lain.

2.      Bermain pasif
Pada permainan ini anak bermain pasif antara lain dengan melihat dan  mendengar. Permainan ini cocok apabila anak sudah lelah bernmain aktif dan membutuhkan sesuatu untuk mengatasi kebosanan dan keletihannya.
Contoh ; Melihat gambar di buku/majalah.,mendengar cerita atau musik,menonton televisi dsb.
Dalam kegiatan bermain kadang tidak dapat dicapai keseimbangan dalam bermain, yaitu apabila terdapat hal-hal seperti dibawah ini :
1.      Kesehatan anak menurun. Anak yang sakit tidak mempunyai energi untuk aktif bermain.
2.      Tidak ada variasi dari alat permainan.
3.      Tidak ada kesempatan belajar dari alat permainannya.
4.      Tidak mempunyai teman bermain.



ALAT PERMAINAN EDUKATIF (APE)
Alat Permainan Edukatif (APE) adalah alat permainan yang dapat mengoptimalkan perkembangan anak, disesuaikan dengan usianya dan tingkat perkembangannya, serta berguna untuk :
1.       Pengembangan aspek fisik, yaitu kegiatan-kegiatan yang dapat menunjang atau merangsang pertumbuhan fisik anak, trediri dari motorik kasar dan halus.
Contoh alat bermain motorik kasar : sepeda, bola, mainan yang ditarik dan didorong, tali, dll. Motorik halus : gunting, pensil, bola, balok, lilin, dll.
2.       Pengembangan bahasa, dengan melatih berbicara, menggunakan kalimat yang benar.Contoh alat permainan : buku bergambar, buku cerita, majalah, radio, tape, TV, dll.
3.        Pengembangan aspek kognitif, yaitu dengan pengenalan suara, ukuran, bentuk. Warna, dll. Contoh alat permainan : buku bergambar, buku cerita, puzzle, boneka, pensil warna, radio, dll.
4.       Pengembangan aspek sosial, khususnya dalam hubungannya dengan interaksi ibu dan anak, keluarga dan masyarakat
Contoh alat permainan : alat permainan yang dapat dipakai bersama, misal kotak pasir, bola, tali, dll.

HAL-HAL YANG HARUS DIPERHATIKAN DALAM BERMAIN
1.      Bermain/alat bermain harus sesuai dengan taraf perkembangan anak.
2.      Permainan disesuaikan dengan kemampuan dan minat anak.
3.      Ulangi suatu cara bermain sehingga anak terampil, sebelum meningkat pada keterampilan yang lebih majemuk.
4.      Jangan memaksa anak bermain, bila anak sedang tidak ingin  bermain.
5.      Jangan memberikan alat permainan terlalu banyak atau sedikit.

Delapan prinsip dasar dari pendekatan terapi bermain adalah sebagai berikut (Axline, 1974) :
1.      Terapis harus menciptakan suasana yang hangat, hubungan yang bersahabat dengan anak
2.      Terapis menerima anak sebagaimana adanya
3.      Terapis harus mengembangkan perasaan permisif dalam hubungan dengan anak
4.      Terapis harus waspada terhadapa perasaan anak yang diekspresikan dan direfleksikan kembali dalam bentuk tingkah laku
5.      Terapis diharapkan menghargai kemampuan anak dalam memecahkan masalahnya sendiri jika diberi kesempatan untuk melakukannya
6.      Terapis tidak diperkenankan langsung menegur perbuatan anak atau bercakap-cakap dengan cara apapun
7.      Terapis jangan cepat-cepat melakukan terapi
8.      Terapis hanya mengembangkan keterbatsan-keterbatasan yang diperlukan dalam menarik anak untuk terapi dan pada kenyataannya akan membuat anak sadar akan tanggung jawabanya dalam berhubungan dengan terapis

BENTUK- BENTUK PERMAINAN
            Materi atau bahan mainan harus dipilih atau diseleksi untuk memudahkan pelaksanaan terapi kepada anak. Mainan harus sederhana, mempunyai konstruksi yang kuat dan sehat, mudah bagi anak memanipulasi dan diperkuat dengan imajinasi. Ginott (1960) mengembangkan secara rasional dalam memilih mainan, mainan harus :
1.      Memudahkan dalam  mengembangkan kontak dengan anak
2.      Membangkitkan dan  mendorong katarsis
3.      Membantu mengembangkan insight
4.      Melengkapi dalam mengetes realita
5.      Sebagai media untuk terjadinya perubahan
Lima tahap dalam proses terapi bermain meliputi 5 terapi R :
1.      Relating (berhubungan) dengan terapis
2.      Releasing (melegakan) perasaan
3.      Re-creating (menciptakan kembali) kejadian-kejadian, pengalaman-pengalaman, hubungan-hubungan.
4.      Re-experiencing (mengalami kembali) perasaan dan pikiran yang kacau dengan suatu cara yang memudahkan pengertian baru
5.      Resolving (memecahkan) masalah an konflik dengan mempraktikkan tingkah laku baru dalam bermain.
Bentuk teknik-teknik terapi bermain melalui aktivitas menggambar, aktivitas membentuk dengan tanah liat, aktivitas bermain, aktivitas bercerita dan aktivitas menulis.